Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S. Ag., M.Si
RM.id Rakyat Merdeka - Indonesia adalah bangsa besar dengan hampir 300 juta jiwa yang hidup tersebar di negara kepulauan. Dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Rote sampai Pulau Miangas. Negeri ini membentang sangat luas dengan ratusan suku, bahasa daerah yang beragam, adat istiadat yang berbeda-beda, serta agama dan keyakinan yang hidup berdampingan dalam satu bingkai merah putih.
Dari kota megapolitan hingga desa-desa terpencil, Indonesia bergerak dengan warna yang sangat kaya. Karena itu, persatuan bangsa ini sejatinya adalah keajaiban sosial yang harus terus dirawat dan dijaga bersama-sama.
Indonesia sejak awal berdiri memang ditakdirkan menjadi tempat tinggal untuk banyak perbedaan. Selain keanekaragaman hayati dan hewani yang dipisahkan oleh garis Wallace dan garis Weber, ada juga keberagaman yang lebih muda, yakni keberagaman manusia.
Perbedaan agama hidup berdampingan dalam satu bendera merah putih. Perbedaan mazhab dan aliran dalam sesama umat beragama juga menjadi bagian dari perjalanan panjang bangsa ini.
Perbedaan ras, warna kulit, hingga pandangan politik terus hadir mewarnai kehidupan nasional dari generasi ke generasi. Semua itu adalah kenyataan besar Indonesia yang menjadi kekuatan sekaligus tanggung jawab bersama.
Baca juga : KSP Etalase Utama Istana Kepresidenan
Karena itu, toleransi kalau hanya slogan, tentu sangat rendah levelnya. Toleransi harus dirawat secara aktif. Harus ada yang menjaga. Harus ada tokoh yang menenangkan suasana ketika masyarakat mulai panas.
Harus ada keberanian untuk menahan ucapan yang bisa melukai kelompok lain. Sebab api sekecil apa pun dapat membesar ketika dibiarkan menyentuh sentimen agama, suku, ras, maupun politik. Sejarah dunia sudah terlalu banyak memperlihatkan bagaimana konflik besar sering dimulai dari provokasi kecil yang terus dipelihara.
Toleransi yang harus dijaga
Kita boleh berbeda keyakinan. Kita boleh berbeda pilihan politik. Kita boleh memiliki cara pandang yang berbeda dalam melihat masa depan bangsa. Namun Indonesia tidak boleh kehilangan rasa hormat antar sesama anak bangsa. Negeri sebesar ini membutuhkan kedewasaan.
Bangsa sebesar ini membutuhkan keteduhan. Anak-anak muda Indonesia harus melihat contoh bahwa perbedaan dapat hidup berdampingan tanpa saling membenci.
Di tengah derasnya media sosial hari ini, masyarakat juga harus lebih bijak. Banyak pihak sengaja memainkan narasi pecah belah demi kepentingan tertentu. Ada yang sengaja memancing emosi dengan isu agama. Ada yang memperuncing perbedaan ras dan warna kulit.
Baca juga : Ketika Presiden Prabowo Dihajar Framing Sebelum Hasil Diplomasinya Terlihat
Ada yang menjadikan politik seperti perang tanpa akhir. Padahal setelah pemilu selesai, setelah perdebatan selesai, rakyat tetap hidup di tanah yang sama, menghirup udara yang sama, dan membawa masa depan Indonesia yang sama. Kekayaan ini, kita nikmati bersama.
“Intoleransi” yang harus dijaga
Bangsa ini harus memiliki ketegasan moral. Ada hal-hal yang memang wajib dilawan tanpa kompromi. Indonesia harus toleran terhadap perbedaan agama, toleran terhadap perbedaan mazhab, toleran terhadap perbedaan ras dan warna kulit, serta dewasa menghadapi perbedaan pandangan politik.
Namun Indonesia juga harus sangat intoleran terhadap korupsi yang merampas hak rakyat kecil.
Harus keras terhadap penyalahgunaan wewenang yang menghancurkan kepercayaan publik. Harus tegas terhadap provokasi yang sengaja mengadu domba masyarakat demi kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu. Sebab ketika korupsi dibiarkan, ketika kekuasaan dipakai semena-mena, ketika kebencian dipelihara terus-menerus, kerusakan sosial akan tumbuh perlahan dan merusak masa depan bangsa.
Gemah ripah loh jinawi
Indonesia adalah negeri gemah ripah loh jinawi. “Gemah ripah loh jinawi” adalah gambaran tentang negeri yang subur, kaya, tenteram, dan penuh keberkahan bagi rakyatnya. Indonesia memiliki seluruh anugerah itu, sehingga persatuan dan keteduhan bangsa harus terus dijaga agar kekayaan besar ini tidak rusak oleh perpecahan dan provokasi.
Baca juga : Bahlil Dan Tanggung Jawab Sejarah Partai Golkar
Negeri yang kaya sumber daya, kaya budaya, kaya keberagaman, dan kaya semangat persaudaraan. Semua itu menjadi kekuatan besar jika dijaga bersama dengan hati yang teduh dan pikiran yang jernih.
Dunia sedang menghadapi banyak ketegangan geopolitik dan tekanan ekonomi. Dalam situasi seperti ini, Indonesia justru harus tampil sebagai bangsa yang matang, tenang, dan mampu menjaga persatuannya.
Mari rawat bangsa ini bersama-sama. Jangan mudah terprovokasi. Jangan mudah dipecah belah oleh kepentingan sesaat. Merah putih terlalu mulia untuk dikotori oleh kebencian yang dipelihara terus-menerus.
Indonesia kuat ketika rakyatnya saling menjaga. Indonesia besar ketika persatuannya tetap menyala.
Oleh: Prof. Ali Mochtar Ngabalin
Ketua Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional DPP. Partai Golkar
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya