Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- STY Nilai Persija Sudah 80 Persen Jelang Super League 2026/2027
- Beckham Putra Siap Bawa Persib Lolos ke ACL Two
- Runner Up, Timnas Putri U-16 Punya Masa Depan Cerah
- Atasi Karhutla Riau, Prabowo Minta Bangun 306 Sumur Bor Di Dekat Hotspot
- Calon Bos OJK Sarjito Beberkan Tantangan Bursa Mineral RI Agar Dipercaya Dunia
Prof. Dasaad Mulijono Ungkap Rahasia Kecilnya Angka Restenosis
Kamis, 13 Agustus 2026 11:40 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Menekan risiko penyempitan ulang pembuluh darah jantung atau restenosis menjadi tantangan dalam tindakan intervensi kardiologi.
Prof. Dr. dr. Dasaad Mulijono, SpJP(K), konsultan kardiologi intervensi sekaligus pelopor Drug-Coated Balloon (DCB) di Indonesia, mengungkap pendekatan yang diterapkan RS Bethsaida Tangerang untuk menjaga angka restenosis tetap rendah hingga tiga tahun pengamatan.
Prof. Dasaad mengatakan, angka restenosis setelah tindakan DCB di dunia masih berada di kisaran 10 persen. Namun, RS Bethsaida Tangerang mencatat angka yang sangat rendah dan mampu mempertahankannya selama masa pengamatan hingga tiga tahun.
Berbeda dengan pendekatan konvensional yang mengandalkan pemasangan ring atau stent, DCB membuka sumbatan tanpa meninggalkan benda asing di dalam pembuluh darah.
Dengan demikian, pembuluh darah tetap lentur, bentuk alaminya terjaga, dan risiko peradangan jangka panjang dapat ditekan.
Baca juga : Ponds Ungkap Rahasia “Real Glow” Kulit Perempuan
Menurut Prof. Dasaad, keberhasilan tindakan DCB tidak hanya ditentukan oleh penggunaan teknologi, tetapi juga oleh ketelitian dalam setiap tahapan prosedur.
Proses tersebut mencakup persiapan sumbatan menggunakan balon khusus, pemanfaatan teknologi pencitraan dari dalam pembuluh darah seperti intravascular ultrasound (IVUS) dan optical coherence tomography (OCT), hingga upaya mencegah recoil, yakni kecenderungan pembuluh darah kembali menyempit sesaat setelah balon dikempiskan.
Menariknya, pencegahan recoil di RS Bethsaida tidak hanya dilakukan melalui teknik medis dan obat-obatan. Pasien juga diarahkan menerapkan pola hidup sehat sejak sebelum tindakan, termasuk mengonsumsi makanan nabati yang kaya nitrat, seperti sayuran hijau dan buah bit.
“Tindakan yang presisi hanyalah separuh cerita. Separuh lainnya adalah apa yang pasien makan dan bagaimana ia hidup setelah pulang,” ujar Prof. Dasaad.
Di RS Bethsaida, setiap pasien yang menjalani tindakan DCB mendapatkan pendampingan untuk menerapkan pola makan berbasis nabati utuh.
Baca juga : Prof Dasaad Berduka untuk Yurizal, Ajak Dunia Kedokteran Berbenah
Pasien juga diarahkan mencapai target kolesterol dan gula darah yang ketat serta mendapatkan dukungan teknologi kecerdasan buatan untuk menyusun menu harian.
Dari sekitar 1.000 pasien yang telah ditangani, disebut tidak ditemukan kasus penyumbatan mendadak dini pada pasien yang patuh terhadap protokol.
Angka restenosis juga disebut tetap rendah hingga tiga tahun pengamatan. Selain kondisi pembuluh darah, sejumlah pasien dilaporkan mengalami perbaikan kondisi kesehatan secara menyeluruh.
Di antaranya tekanan darah yang kembali normal, berat badan mencapai kondisi ideal, gula darah lebih terkendali, hingga perbaikan fungsi ginjal.
Capaian tersebut menempatkan RS Bethsaida sebagai salah satu pusat layanan jantung yang memiliki hasil tindakan DCB yang dinilai baik.
Baca juga : Prabowonomics: Mengembalikan Ekonomi Indonesia Kepada Amanat Konstitusi
Pengalaman dan hasil penanganan tersebut juga disebut telah dipublikasikan dalam berbagai jurnal ilmiah internasional dan menjadi rujukan bagi kalangan kardiolog.
Prof. Dr. dr. Dasaad Mulijono, SpJP(K), merupakan konsultan kardiologi intervensi dan pelopor tindakan DCB di Indonesia.
Ia juga dikenal dengan pendekatan plant-based dalam mendampingi pasien jantung serta memimpin Departemen Kardiologi RS Bethsaida Tangerang.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya