Dark/Light Mode

Prof Dasaad Berduka untuk Yurizal, Ajak Dunia Kedokteran Berbenah

Sabtu, 8 Agustus 2026 12:36 WIB
Foto: Ist.
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Kepergian Yurizal Tri Chaerawan, pasien BPJS Kesehatan asal Bogor, menyisakan duka sekaligus refleksi bagi dunia kedokteran.

Guru Besar Lifestyle Medicine, Prof. Dr. dr. Dasaad Mulijono, SpJP(K), menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga almarhum atas nama profesi kedokteran.

Dengan suara bergetar, Prof. Dasaad mengaku sedih atas peristiwa yang dialami Yurizal. Menurutnya, kejadian tersebut menjadi momentum bagi seluruh insan medis untuk kembali mengingat pentingnya empati dalam memberikan pelayanan kesehatan.

"Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kepada keluarga Yurizal Tri Chaerawan, izinkan saya memohon maaf. Maaf, karena ada di antara kami yang mengenakan jas putih, namun kehilangan hal paling mendasar dari kedokteran: empati," ujar Prof. Dasaad, Sabtu (8/8/2026). 

Yurizal, 29 tahun, asal Bogor, meninggal dunia pada 31 Juli 2026. Sebelumnya, ia sempat mengungkapkan telah menunggu ruang perawatan selama delapan jam.

Dalam unggahannya, Yurizal bahkan tidak menyebut nama rumah sakit tempat dirinya menjalani perawatan karena menyadari statusnya sebagai peserta BPJS Kesehatan.

Baca juga : Dinkes DKI: Satu Nakes Pem-bully Pasien BPJS Yurizal Kerja di RS Swasta Jakarta

Menurut Prof. Dasaad, hal yang menyedihkan bukan hanya lamanya proses menunggu perawatan, tetapi juga respons yang diterima Yurizal setelah menyampaikan keluhannya.

Ia menyebut, almarhum justru mendapat sindiran, olok-olok, hingga komentar yang dinilai merendahkan statusnya sebagai peserta BPJS Kesehatan.

"Pertanyaan yang menghantui saya bukan siapa pelakunya. Tetapi mengapa seorang manusia yang dididik bertahun-tahun untuk menolong, bisa sampai hati melukai orang yang datang meminta tolong?" ungkapnya.

Dalam refleksinya, Prof. Dasaad menilai, terdapat dua persoalan mendasar yang perlu menjadi perhatian seluruh insan medis.

Pertama, masih adanya anggapan bahwa pasien BPJS merupakan pihak yang menerima belas kasihan. Padahal, peserta BPJS membayar iuran dan memiliki hak atas pelayanan kesehatan yang dijamin undang-undang.

Kedua, munculnya sikap merasa paling berjasa sebagai penolong sehingga keluhan pasien dipandang sebagai bentuk pembangkangan. Menurutnya, kondisi tersebut dapat menyebabkan hilangnya empati terhadap pasien.

Baca juga : Pramono Minta Dinkes Semprit Nakes Nir Empati Kepada Pasien BPJS Kesehatan

"Perundungan oleh dokter tidak hanya menambah luka. Ia membunuh kepercayaan. Ia membuat pasien takut bertanya, takut mengeluh, bahkan takut kembali berobat. Dan bagi Yurizal, kata-kata kejam itu datang di hari-hari terakhir hidupnya," kata Prof. Dasaad.

Selain pelayanan kepada pasien, Prof. Dasaad turut menyoroti budaya relasi antara senior dan junior di lingkungan profesi kedokteran.

Menurutnya, praktik kekuasaan yang tidak sehat dapat memunculkan tekanan hingga perundungan terhadap dokter muda. Ia bahkan mengaku pernah mengalami tekanan serupa dalam perjalanan kariernya.

"Saya sendiri merasakannya. Pada usia 63 tahun, setelah dua dekade mengabdi tanpa satu aduan pasien, saya keluar dari sebuah ruang sidang dengan air mata. Karena perbedaan pandangan ilmiah, saya dilabel dan hendak ditamatkan riwayat profesi saya. Oleh orang-orang yang seharusnya menjadi penjaga etik," ungkapnya.

Sebagai bentuk evaluasi, Prof. Dasaad mengusulkan enam langkah agar nilai-nilai dalam sumpah dokter benar-benar diterapkan dalam praktik sehari-hari.

Enam langkah tersebut, yakni pertama, negara hadir mengawasi organisasi profesi dan lembaga etik. Kedua, memberikan sanksi kepada figur senior yang menjadi teladan buruk, ketiga menangani laporan secara cepat, transparan, dan melibatkan tim independen.

Baca juga : Kawal Calon Nakes, BPJS Ketenagakerjaan Lindungi 2.315 Mahasiswa Praktik PPDS UI

Kemudian keempat, membuka akses jalur hukum bagi korban dengan perlindungan identitas. Kelima, memperkuat pendidikan karakter selama proses pendidikan kedokteran. Dan keenam, menerapkan sistem meritokrasi dalam kepemimpinan organisasi profesi.

Di akhir pernyataannya, Prof. Dasaad mengajak seluruh tenaga kesehatan menjadikan peristiwa tersebut sebagai momentum introspeksi bersama.

"Untuk Yurizal, engkau tidak sempat kami bela semasa hidupmu. Biarlah kepergianmu kami jaga maknanya. Untuk para korban di seluruh negeri: kalian tidak sendiri. Diam bukan satu-satunya pilihan," tuturnya.

Ia juga menegaskan keyakinannya bahwa masih banyak dokter di Indonesia yang menjalankan profesinya dengan penuh ketulusan. "Itulah wajah sejati kedokteran Indonesia. Mari kita jaga," ajaknya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.