Dark/Light Mode

Gatot Ganyutz Ubah Kontemplasi di Alam Menjadi Karya Seni

Sabtu, 19 September 2026 19:29 WIB
Foto: Ist.
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pengalaman menyatu dengan alam selama perjalanan dari Atambua hingga ujung barat Pulau Jawa menjadi sumber inspirasi seniman Gatot Ganyutz dalam melahirkan karya-karya abstrak.

Pengalaman tersebut dituangkan dalam pameran tunggal perdana bertajuk “Contemplature” di STR Art Gallery, Jalan Ampera Raya No. 11B, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Pameran yang berlangsung pada 18 September hingga 2 Oktober 2026 itu menghadirkan karya seni yang lahir dari perjalanan, perenungan, serta pengalaman Gatot ketika berinteraksi dengan alam.

Nama “Contemplature” merupakan akronim dari “Contemplation” dan “Nature”, yang secara harfiah dimaknai sebagai kontemplasi di alam.

Gagasan tersebut berangkat dari perjalanan artistik Gatot melalui proses biomimikri dari Atambua hingga ujung barat Pulau Jawa.

Menariknya, perjalanan itu pada awalnya tidak dirancang sebagai bagian dari eksplorasi konsep penciptaan karya seni.

Gatot justru menjadikan perjalanan tersebut sebagai ruang untuk mencari penawar atas berbagai kegelisahan dan kegundahan yang ada dalam dirinya.

Dalam perjalanan itu, keindahan alam menjadi ruang refleksi bagi Gatot. Pada awalnya, ia hanya ingin mengabadikan berbagai pengalaman melalui fotografi.

Namun, proses tersebut kemudian berkembang menjadi eksplorasi seni yang lebih personal.

"Setelah melalui proses perenungan lebih lanjut, saya menyadari bahwa pengalaman berkontemplasi di alam memiliki sisi rasa yang tidak sepenuhnya dapat ditangkap oleh fotografi. Karena itu, kemudian saya mentransformasikan pengalaman tersebut ke dalam bahasa seni lukis dan instalasi patung," kata Gatot Ganyutz.

Transformasi tersebut melahirkan karya-karya abstrak yang mengandalkan insting dan intuisi tubuh.

Goresan serta gerakan tangan ketika mengoleskan cat akrilik maupun minyak ke atas kanvas menjadi medium untuk menuangkan ekspresi dan perasaan yang muncul selama proses berkontemplasi.

Baca juga : Jadi Player of the Match, Teja Dedikasikan Kemenangan Persib Buat Bobotoh

Bagi Gatot, fotografi yang memiliki keterkaitan erat dengan kaidah mimetik cenderung menangkap fenomena pada permukaan atau bagian luarnya.

Sementara seni lukis memberikan ruang lebih luas untuk mengeksplorasi bentuk sekaligus menerjemahkan pengalaman batin dan rasa ketika berhadapan dengan alam.

Pameran tunggal Gatot Ganyutz sebenarnya telah direncanakan sejak sekitar lima tahun lalu. Namun, pandemi COVID-19 membuat rencana tersebut harus tertunda.

Sebelumnya, karya-karya Gatot telah dikurasi dan dipersiapkan untuk dipamerkan oleh kurator Ahmad Anzieb.

Menurut Anzieb, karya Gatot memperlihatkan hubungan manusia dengan alam sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Dalam perjalanan artistiknya, alam menjadi ruang sekaligus penawar bagi berbagai persoalan kehidupan manusia.

Penundaan selama beberapa tahun justru memberikan kesempatan bagi Gatot untuk mematangkan konsep penciptaan sekaligus memperluas eksplorasi artistiknya.

Dalam rentang lima tahun tersebut, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga menjadi fenomena yang ikut memengaruhi cara Gatot melihat kehidupan dan proses kreatif.

Menurut gagasan yang diusung dalam pameran ini, AI memberikan kemudahan dalam mengakses data dan informasi.

Namun, derasnya arus informasi juga menghadirkan tantangan dalam menentukan mana yang benar-benar penting dan bermanfaat.

Kondisi tersebut membuat Gatot melihat pentingnya kembali melatih fokus melalui kontemplasi di alam serta mengurangi interaksi dengan media sosial.

Baginya, proses tersebut dapat membantu mempertajam intuisi sekaligus mengembalikan fokus manusia di tengah derasnya informasi.

Baca juga : Prabowo Gaspol Perkuat Mitigasi Bencana, Pesawat Hingga Drone Disiapkan

Cara itu pula yang diterapkan Gatot dalam proses penciptaan karya. Ia membangun fokus melalui perenungan dan kontemplasi di alam hingga pengalaman tersebut berkembang menjadi intuisi, kemudian diterjemahkan menjadi gagasan artistik.

Meski karya-karya dalam “Contemplature” berangkat dari pengalaman berkontemplasi di alam, Gatot tidak secara khusus mengalegorikan bentuk abstraknya dengan objek alam tertentu.

Sejumlah pihak memang melihat adanya bentuk atau simbol tertentu yang dianggap merujuk pada objek-objek alam dalam karya Gatot. Namun, Gatot memilih tidak mengiyakan maupun menampik berbagai interpretasi tersebut.

Baginya, karya seni, khususnya karya abstrak, memiliki ruang terbuka untuk berbagai pembacaan.

Setiap orang memiliki kebebasan menginterpretasikan karya berdasarkan pemahaman dan pengalaman empiris masing-masing.

Dengan demikian, alam dalam karya Gatot bukan semata-mata sesuatu yang direpresentasikan secara visual, melainkan pengalaman yang telah diolah melalui kontemplasi, intuisi, dan kebebasan artistik.

"Pameran perdana Gatot Ganyutz lebih difokuskan untuk berbagi pengalaman rasa yang Gatot rasakan, dan ketenangan yang ia dapat saat berkontemplasi di alam ke dalam sebuah ruang pameran seni," kata Ahmad Anzieb.

Pameran “Contemplature” juga menjadi bagian dari langkah STR Art Gallery untuk memperluas dukungannya terhadap perkembangan ekosistem seni rupa Indonesia.

Selama ini, STR Art Gallery dikenal melalui upaya memperkenalkan dan mengonservasi karya-karya pelukis modern Indonesia atau Old Master.

Kini, galeri tersebut mulai membuka ruang bagi seniman kontemporer, terutama mereka yang masih merintis karier tetapi telah memiliki identitas visual, kedalaman konseptual, dan korelasi dengan konteks kehidupan masa kini.

Brandon selaku Direktur STR Art Gallery mengatakan perkembangan seni rupa Indonesia, khususnya di Jakarta, belum sepenuhnya diimbangi dengan pertumbuhan ruang seni yang dapat mendukung keberlanjutan ekosistem tersebut.

"Karena itu, STR merasa perlu menghadirkan ruang baru bagi para seniman untuk berpameran sekaligus mengembangkan kapasitas dan praktik artistiknya agar dapat tumbuh menjadi seniman yang lebih matang," kata Brandon.

Baca juga : Pemerintah Perkuat Mitigasi, Jaga Aktivitas Perekonomian

Dalam pameran perdana Gatot Ganyutz, STR melihat seniman tersebut memiliki kedalaman konsep dan orisinalitas meski tergolong sebagai seniman rupa baru dan sebelumnya lebih dikenal sebagai fotografer.

Atas pertimbangan tersebut, STR berkolaborasi dengan Gatot untuk memberikan ruang agar karya-karyanya dapat dinikmati dan diapresiasi masyarakat yang lebih luas.

Brandon mengungkapkan, Gatot merupakan salah satu seniman yang lolos proses seleksi kuratorial dari banyak seniman yang mengajukan kolaborasi dengan STR.

"Karya-karyanya dinilai tidak hanya memiliki corak estetika visual yang sesuai dengan kecenderungan yang berkembang dalam medan seni rupa saat ini, tetapi juga memiliki relevansi kontekstual dengan berbagai persoalan kehidupan dewasa ini," katanya.

"Salah satunya adalah persoalan hubungan manusia dengan alam, yang dalam praktik kontemplasi Gatot dipandang sebagai ruang sekaligus penawar bagi berbagai persoalan kehidupan," sambungnya.

Bagi STR, kehadiran Gatot melalui pameran “Contemplature” menjadi bagian dari upaya membuka ruang bagi praktik seni yang berangkat dari pengalaman personal, tetapi tetap memiliki hubungan dengan persoalan yang lebih luas.

"Melalui ruang tersebut, kami (STR) berharap karya Gatot tidak hanya mendapatkan apresiasi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari perkembangan dan keberlanjutan ekosistem seni rupa Indonesia," pungkas Brandon.

Melalui “Contemplature”, Gatot Ganyutz tidak sekadar membawa pengalaman perjalanan ke ruang galeri.

Ia mengolah pengalaman tersebut menjadi karya abstrak yang membuka ruang bagi penonton untuk berhenti sejenak, merasakan, dan menafsirkan hubungan antara manusia, alam, serta kehidupan dari perspektif masing-masing.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.