Dark/Light Mode

Kerja Jangan Hilang

Rabu, 7 Oktober 2026 08:01 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Ekonomi Indonesia ditargetkan tumbuh enam persen tahun depan. Investasi harus lebih deras. Industri diperkuat. Hilirisasi diperluas. Digitalisasi dipercepat. Kecerdasan buatan mulai masuk kantor, pabrik, bank, toko, bahkan ruang kelas. Semua menjanjikan produktivitas. Tetapi ada satu pertanyaan yang tidak boleh hilang di tengah optimisme itu: manusianya nanti bekerja di mana?

Pertumbuhan memang penting. Tanpa pertumbuhan, sulit menciptakan pekerjaan dan membiayai kesejahteraan. Masalahnya, ekonomi bisa tumbuh tanpa menghasilkan pekerjaan sebanyak dulu. Pabrik semakin otomatis. Kasir diganti mesin. Administrasi dikerjakan perangkat lunak. AI mulai menulis, menerjemahkan, membaca dokumen, membuat desain, dan menganalisis data. Investasi datang membawa modal dan teknologi. Belum tentu membawa kursi kerja dalam jumlah yang sama.

Baca juga : Seragam Jangan Sibuk

Bagi rakyat, pertumbuhan enam persen tidak pernah hadir sebagai angka PDB. Ia hadir sebagai lowongan. Gaji. Kontrak yang jelas. Jaminan sosial. Kesempatan anak muda memperoleh pekerjaan pertama. BPS mencatat tingkat pengangguran Mei berada di 4,65 persen. Angka itu cukup baik. Tetapi rata-rata upah buruh masih Rp 3,39 juta. Karena itu pertanyaan pembangunan tidak boleh berhenti pada berapa orang bekerja. Kita juga harus bertanya: mereka bekerja sebagai apa, dengan pendapatan berapa, dan punya masa depan atau tidak?

David Autor dalam berbagai kajiannya tentang otomatisasi menunjukkan bahwa teknologi tidak sesederhana datang lalu mengambil seluruh pekerjaan manusia. Yang lebih sering terjadi adalah teknologi menggantikan sebagian tugas, melengkapi sebagian lainnya, sekaligus menciptakan jenis pekerjaan baru. ATM tidak menghilangkan semua pegawai bank. Komputer tidak menghapus semua pekerja kantor. Tetapi teknologi mengubah keterampilan apa yang bernilai. Persoalannya bukan manusia melawan mesin. Persoalannya adalah siapa yang cukup cepat dipersiapkan untuk bekerja bersama mesin.

Baca juga : APBN Jangan Autopilot

Di sinilah titik buta pembangunan berbasis investasi. Kita terlalu mudah menghitung nilai investasi, jumlah pabrik, kapasitas produksi, dan ekspor. Padahal sebuah investasi bernilai triliunan rupiah bisa sangat produktif tetapi hanya membutuhkan sedikit tenaga kerja. Tidak salah. Produktivitas memang harus naik. Yang salah adalah jika negara menganggap setiap rupiah investasi otomatis berarti pekerjaan berkualitas. Jangan sampai pabriknya masuk Indonesia, mesinnya dari luar, teknologinya dari luar, pekerja ahlinya terbatas, sementara anak muda lokal hanya mendapat pekerjaan paling bawah dalam rantai nilai.

Maka kebijakan pekerjaan harus bergerak sebelum teknologi bergerak terlalu jauh. Pendidikan vokasi harus mengikuti industri, bukan kurikulum kemarin. Reskilling tidak boleh menjadi seminar. Perusahaan yang mendapat insentif perlu didorong melakukan transfer keterampilan. UMKM harus dibantu menggunakan AI untuk menaikkan produktivitas, bukan dibiarkan kalah olehnya. Perlindungan sosial juga perlu menyesuaikan dunia kerja yang semakin fleksibel. Target pertumbuhan enam persen harus ditemani ukuran yang lebih jujur: berapa pekerjaan formal tercipta, berapa upah riil naik, dan berapa pekerja berhasil naik kelas.

Baca juga : Ingatan Jangan Dipelintir

Ekonomi boleh tumbuh enam persen. Robot boleh semakin pintar. AI tidak perlu ditakuti. Tetapi manusia jangan menjadi catatan kaki dari kemajuan yang dibuatnya sendiri. Kita tidak membutuhkan ekonomi yang hanya semakin efisien. Kita membutuhkan ekonomi yang membuat manusia semakin bernilai. Jangan sampai pekerjaan tumbuh hanya di PowerPoint, sementara manusianya hilang dari slide berikutnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.