Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Indonesia kini punya altar baru bernama bursa mineral. ICOMEX disiapkan untuk membawa timah dan kemudian komoditas strategis lain ke meja perdagangan yang lebih kita kuasai sendiri. Ambisinya besar: Indonesia jangan hanya menggali mineral, mengirim barang, lalu menerima harga yang ditentukan orang lain. Kita ingin naik kelas dari price taker menjadi price maker. Bagus. Tetapi jangan buru-buru menyalakan dupa kemenangan.
Punya nikel, timah, bauksit, tembaga, dan batu bara dalam jumlah besar memang memberi daya tawar. Tetapi cadangan besar tidak otomatis melahirkan kekuasaan harga. Bursa membutuhkan likuiditas, transparansi, pembeli, penjual, aturan yang dipercaya, data yang kredibel, dan kontrak yang dihormati. Harga dunia tidak tunduk kepada pidato. Pasar lebih keras kepala. Jika pembeli tidak percaya pada mekanismenya, mereka bisa mencari pemasok, produk substitusi, atau meja perdagangan lain.
Yang lebih penting, rakyat tidak hidup dari istilah price maker. Mereka hidup dari pekerjaan, upah, sekolah, jalan, rumah sakit, dan lingkungan yang tidak rusak. Apa gunanya harga mineral semakin kita kuasai jika daerah tambang tetap miskin? Apa artinya hilirisasi jika pekerjaan bernilai tinggi lebih banyak berada di luar jangkauan tenaga lokal? Apa hebatnya penerimaan negara meningkat jika lubang tambang, konflik lahan, dan kerusakan ekologis diwariskan kepada generasi berikutnya? Mineral berada di bawah tanah. Keadilan harus terlihat di atasnya.
Terry Lynn Karl dalam The Paradox of Plenty menunjukkan paradoks yang sering menghantui negara kaya sumber daya. Kelimpahan tidak otomatis menghasilkan kemakmuran. Rente besar justru dapat melemahkan institusi, memperbesar ketergantungan negara pada komoditas, mendorong perburuan rente, dan membuat elite lebih sibuk membagi hasil kekayaan daripada membangun kemampuan ekonomi masyarakat. Kutukan sumber daya bukan kutukan dari alam. Ia lahir ketika kekayaan terlalu mudah bertemu kekuasaan yang terlalu sedikit diawasi.
Di situlah bursa mineral harus dijaga agar tidak berubah menjadi berhala baru. Jangan sampai semua persoalan pertambangan dianggap selesai karena transaksi sudah masuk bursa. Transparansi harga penting, tetapi transparansi kepemilikan lebih penting. Hilirisasi penting, tetapi siapa yang menguasai nilai tambah juga penting. Penerimaan negara penting, tetapi siapa yang mendapat konsesi, siapa menikmati rente, siapa menanggung kerusakan, dan ke mana uangnya mengalir jauh lebih menentukan. Bursa yang transparan di ujung perdagangan tidak akan banyak berarti jika hulunya masih gelap.
Maka keberhasilan ICOMEX kelak jangan hanya diukur dari nilai transaksi. Ukur pula apakah under-invoicing dan manipulasi harga berkurang, penerimaan negara meningkat, persaingan menjadi sehat, industri domestik tumbuh, teknologi berpindah, pekerja Indonesia naik kelas, dan daerah penghasil memperoleh manfaat yang pantas. Pemerintah juga harus memastikan regulator independen, data perdagangan terbuka, konflik kepentingan dicegah, dan pemain besar tidak mengubah bursa menjadi meja makan yang kursinya hanya tersedia bagi mereka.
Komoditas boleh diatur negara. Hilirisasi harus dilanjutkan. Bursa bahkan bisa menjadi instrumen penting kedaulatan ekonomi. Tetapi mineral jangan dijadikan berhala baru yang disembah atas nama kemakmuran. Sebab negara kaya bukan negara yang paling banyak menggali isi bumi. Negara kaya adalah negara yang mampu mengubah kekayaan di bawah tanah menjadi martabat manusia di atasnya. Jangan sampai mineral naik kelas, rakyat tetap di kelas lama.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.