Sebelumnya
Anda menyebut adanya fenomena kekerasan seksual terhadap anak melalui game online, bisa dijelaskan?
Fenomena ini menunjukkan bahwa game online bukan lagi sekadar media hiburan. Platform seperti Roblox, Hago, hingga Mobile Legends kini sering dimanfaatkan predator seksual untuk mencari, mendekati, dan memanipulasi anak-anak. Mereka memanfaatkan fitur interaktif seperti chat box, voice chat, maupun private message untuk melakukan pendekatan atau grooming.
Mengapa game online menjadi ruang yang rentan disalahgunakan predator?
Karena karakteristiknya yang sangat terbuka dan interaktif. Anak-anak memiliki rasa ingin tahu tinggi, tetapi belum memiliki pemahaman memadai tentang bahaya dunia maya.
Baca juga : LMKN Harus Segera Diaudit
Bagaimana pelaku melaksanakan aksinya?
Predator biasanya menyamar sebagai teman sebaya atau menggunakan avatar lucu untuk membangun kedekatan emosional. Dari situ, mereka bisa perlahan meminta informasi pribadi, gambar tidak pantas, hingga mengajak bertemu di dunia nyata.
Apakah platform game sudah memiliki sistem perlindungan anak yang memadai?
Sayangnya belum. Banyak game hanya memiliki sistem perlindungan yang sangat lemah, bahkan nyaris tidak ada. Sistem pelaporan sering lambat, dan moderasi tidak berjalan efektif.
Baca juga : Pratikno Jemput Bola
Seberapa besar peran regulasi nasional dalam menekan risiko ini?
Regulasi kita masih lemah. Belum ada aturan ketat yang secara khusus mengatur pengawasan keamanan anak di platform hiburan digital. Komdigi dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memang sudah menyuarakan keprihatinan, tetapi kebijakan konkret yang memaksa penyedia platform membangun sistem perlindungan anak, masih sangat minim.
Apa yang bisa dilakukan orang tua untuk melindungi anak mereka?
Orang tua harus aktif mendampingi aktivitas digital anak. Jangan biarkan anak mengakses game bebas tanpa pengawasan. Literasi digital bagi orang tua sangat penting, termasuk memahami fitur parental control, memantau riwayat aplikasi, serta membangun komunikasi terbuka dengan anak. Anak juga harus merasa nyaman bercerita ketika menghadapi pengalaman yang tidak menyenangkan di dunia maya.
Baca juga : Kemenko Polkam Ingatkan Daerah Jangan Bikin Gaduh
Bagaimana dengan peran sekolah dan edukasi anak?
Sekolah perlu memasukkan literasi digital ke dalam kurikulum. Anak harus diajarkan sejak dini bahwa tidak semua orang di internet bisa dipercaya. Mereka perlu memahami konsep privasi, batasan personal, dan mengenali perilaku mencurigakan. Pendidikan karakter digital juga penting, agar anak memiliki tanggung jawab, empati, serta keberanian untuk melapor jika mengalami pelecehan. NNM
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 2, edisi Rabu, 20 Agustus 2025 dengan judul "Waspada Bahaya Game Online Anak, Pratama Dahlian Persadha: Game Online Sarang Baru Predator Seksual"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.