RM.id Rakyat Merdeka - Pendidik yang baik akan selalu mencari cara meningkatkan metode guna membantu siswa berkembang di kelas. Berbagai teori dan teknik pengajaran bisa membantu guru terhubung dengan siswa yang beragam berdasarkan kemampuan belajar mereka.
Gagasan pengajaran yang berpusat pada siswa dan yang banyak membantu siswa belajar merupakan pendekatan dari pedagogi humanisme.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, menyadari pentingnya pedagogi humanisme atau sistem pemikiran yang berfokus pada siswa dan juga guru (manusia).
Untuk itu, Mu’ti merancang sistem Pendidikan Bermutu untuk Semua — sistem yang menekankan pemerataan pada akses pendidikan dan jaminan mutu pendidikan.
Menurut Mu’ti, semua warga negara Indonesia berhak mendapat layanan pendidikan. Mu’ti menggunakan kata ‘layanan’ karena negara berkewajiban memberikan pelayanan bermutu kepada waga negaranya agar dapat melahirkan generasi yang cerdas, terampil, kritis, dan berakhlak mulia.
Di sini, sangat jelas terlihat gagasan pedagogi humanisme Mu’ti. Artikel pendek ini akan mengelaborasi lebih jauh gagasan pedagogi humanisme dan menghubungkannya dengan kebijakan pendidikan Mu’ti.
Pedagogi Humanisme
Gagasan pedagogi humanisme awalnya dikembangkan oleh Abraham Maslow, Carl Rogers, dan James F. T. Bugental pada awal abad ke-20. Apa yang mereka kembangkan dari gagasan tersebut merupakan respons terhadap teori pendidikan umum saat itu, yakni behaviorisme dan psikoanalisis.
Abraham Maslow dianggap sebagai bapak gerakan pedagogi humanisme, sementara Carl Rogers dan James F. T. Bugental menambahkan sisi psikologi-nya di kemudian hari.
Bagi ketiga pemikir pendidikan tersebut, pedagogi humanisme adalah pendekatan pendidikan yang mengutamakan pengembangan emosi, otonomi, dan potensi individu.
Baca juga : Begini Kegembiraan Murid SMA 3 Tangsel Bertemu Mendikdasmen
Pendekatan ini menekankan pembelajaran yang berpusat pada siswa, di mana siswa terlibat aktif di dalam pendidikan mereka, didorong untuk memiliki kepemilikan atas proses pembelajaran mereka, dan dimotivasi oleh minat dan tujuan mereka sendiri.
Meski definisi itu sudah memenuhi unsur humanisme dari pendidikan, namun gagasan tersebut belum mengandung apa yang disebut oleh filosof dan teoretikus pendidikanq asal Brasil Paulo Freire (1921–1997) sebagai conscientização — atau kesadaran kritis.
Dengan conscientização, Freire percaya bahwa humanisme tumbuh subur di ruang dialog terbuka — orang-orang berkumpul bersama, tidak hanya untuk berbicara tetapi juga untuk berpikir kritis tentang planet dan makhluk hidup di dalamnya.
Di ruang-ruang ini, individu bukanlah pendengar pasif; melainkan peserta aktif yang secara kolektif memiliki kekuatan untuk mengubah realitas.
Dalam mahakarya-nya tahun 1968, Pedagogia del Oprimido (Pedagogy of the Oppressed), Freire mengembangkan konsep humanisme yang ditujukan bukan sekadar untuk mencapai cita-cita luhur, tetapi juga panggilan untuk bertindak (kritis), yang sifatnya membebaskan manusia.
Pedagogi humanisme Freire, yang berakar pada conscientização, memandang pendidikan sebagai alat untuk transformasi sosial, memberdayakan peserta didik untuk menganalisis realitas mereka secara kritis dan berpartisipasi aktif dalam membentuk dunia yang lebih adil. P
endekatan Freire itu menantang metode pendidikan perbankan. Dalam metode perbankan, pemikiran siswa dipandang kosong dan harus diisi informasi oleh guru. Tanggung jawab siswa adalah menghafal dan menjawab sesuai informasi guru. Akibatnya, tidak ada proses dialektis antara guru dan siswa.
Sebaliknya, pedagogi humanisme kritis Freire berorientasi problem-posing. Model ini menekankan kreativitas, berpikir kritis, dan pemecahan masalah. Dengan begitu, siswa tidak hanya mampu menjawab soal yang sudah ada, tetapi juga bisa diajak merumuskan dan mengajukan pertanyaan sendiri.
Peran pendidik yang menggunakan metode problem posing dapat menciptakan rasa kebersamaan dengan siswa, di mana pengetahuan pada tingkat keyakinan (doxa) digantikan oleh pengetahuan pada tingkat sains (logos) (Salman Al Farisi, 2023). Dengan menggunakan pedagogi humanisme kritis Freire, kita dapat menggali potensi siswa.
Kebijakan Mu'ti
Baca juga : Beri Kuliah Umum Di President University, Mendikdasmen Tekankan Pentingnya AI
Meski Mu’ti bukan seorang Freirean, tetapi sebagai Mendikdasmen dan tokoh pendidikan, semangat dan gagasannya mengenai pendidikan menyerupai Freire.
Mu’ti - seperti kita tahu - dikenal sebagai sosok yang gigih memperjuangkan pendidikan yang humanis, transformatif, dan berakar pada nilai-nilai keislaman progresif.
Dia meyakini bahwa pendidikan bukan hanya soal penguasaan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga pembentukan karakter dan kemampuan adaptif terhadap perubahan.
Untuk merealisasikan pedagogi humanisme-nya itu, Mu’ti merumuskan visi Pendidikan Bermutu untuk Semua. Visi tersebut diarahkan untuk membentuk generasi yang berpengetahuan (knowledgeable), terampil (capable), dan rendah hati (humble).
“Berpengetahuan” menggambarkan generasi yang tahu dan mengerti banyak hal, sehingga kekuatan ilmu akan menjadi kekuatan suatu bangsa. “Terampil” menunjukkan generasi yang memiliki keterampilan dan kesiapan menghadapi dunia kerja setelah menyelesaikan studi.
“Rendah hati” menegaskan bahwa generasi muda tetap harus memiliki akhlak mulia dan budi pekerti luhur sesuai dengan amanat konstitusi.
Mu’ti juga bertekad untuk mencetak generasi muda yang memiliki soft skills seperti kreativitas (creativity), berpikir kritis (critical thinking), komunikasi (communication), dan kolaborasi (collaboration) yang relevan dengan perkembangan dunia saat ini.
Untuk mencapainya, Mu’ti menerapkan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) sebagai strategi untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.
Dalam kuliah tamu bertajuk ‘Implementasi Deep Learning dalam Peningkatan Mutu Pendidikan untuk Semua', di Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Malang (16/2/2025), Mu’ti menyampaikan bahwa konsep Deep Learning yang sudah dikenal sejak tahun 1970-an ini menitikberatkan pada perhatian (attention) dalam proses belajar.
Menurutnya, perhatian adalah gerbang pertama yang memungkinkan manusia memperoleh pembelajaran lebih dalam. Mu’ti juga menyebutkan bahwa Deep Learning bukan sekadar memahami materi secara akademik, tetapi juga menemukan makna mendalam dari proses pembelajaran itu sendiri.
Baca juga : Sidang Hasto, Ahli: Tak Logis Halangi Penyelidikan yang Belum Pro Justitia
Dengan Deep Learning, pendidikan tidak hanya bertujuan untuk menyampaikan pengetahuan, tetapi juga memuliakan manusia dengan menghargai perbedaan kemampuan dan keahlian setiap individu.
Oleh karena itu, dia menambahkan bahwa Deep Learning harus didasarkan pada tiga prinsip utama. Pertama, Mindful Learning. Konsep ini menekankan bahwa proses pembelajaran harus dilakukan dengan penuh kesadaran dan perhatian.
Seorang guru harus menghormati seluruh siswanya dan memberikan ruang bagi mereka untuk menemukan metode belajar yang paling efektif.
Kedua, Meaningful Learning. Prinsip ini mengajak peserta didik untuk menemukan makna dari ilmu yang dipelajari. Ilmu tidak boleh hanya sekadar dihafalkan melalui transfer informasi (metode pendidikan perbankan), tetapi juga dipahami dan dikembangkan agar memberikan manfaat yang lebih luas.
Ketiga, Joyful Learning. Pembelajaran yang efektif adalah yang memberikan kebahagiaan bagi peserta didik. Apresiasi terhadap pencapaian siswa dalam memahami suatu konsep dan menggunakannya dalam kehidupan nyata adalah bagian dari Deep Learning yang berhasil.
Tentu saja gagasan Mu’ti mengenai Deep Learning sangat bergantung pada kemampuan guru dalam menyampaikan materi sesuai kurikulum yang relevan.
Oleh sebab itu, meningkatkan kompetensi guru, kesejahteraan guru, dan efisiensi administrasi guru, serta memastikan pemerataan distribusi guru menjadi sangat mendesak dilakukan.
Semua upaya untuk mengoptimalisasi peran guru ini sudah dimasukkan Mu’ti ke dalam kebijakan pendidikan bermutu untuk semua. Jika kebijakan pedagogi humanisme Mu’ti yang berpusat pada Deep Learning ini dapat dijalankan secara persisten, bukan tidak mungkin, ke depan, Indonesia akan bisa mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kreatif, kritis, dan mampu memecahkan masalah.
Hal ini sejalan dengan pemikiran pedagogi humanisme kritis Paulo Freire, "Liberating education consists in acts of cognition, not transferals of information."
Penulis adalah Dosen HI FISIP Universitas Satyagama, Asrudin Azwar.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.