BREAKING NEWS
 

Tes Kemampuan Akademik (TKA) Dan Masa Depan Pendidikan Kita

Reporter & Editor :
FAQIH MUBAROK
Rabu, 24 September 2025 16:13 WIB
Dosen PGSD Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta, Mahasiswa Doktoral Shaanxi Normal University, Tiongkok, Nofica Andriyati. Foto: Dok Nofica Andriyati

 Sebelumnya 
Sebagaimana disampaikan Mendikdasmen Prof. Abdul Mu’ti, TKA dirancang agar tidak membebani siswa. Penilaian ini bersifat opsional, hanya mengukur beberapa mata pelajaran inti, dan tidak menggantikan penilaian sekolah.

Kelulusan tetap menjadi kewenangan guru dan satuan pendidikan. Dengan demikian, TKA bukan momok bagi siswa, tetapi justru alat bantu yang memperkuat sistem evaluasi pendidikan secara menyeluruh.

Dalam praktiknya, TKA menjadi jembatan antara penilaian lokal dan standar nasional. Sekolah tetap diberi keleluasaan menilai murid sesuai konteks lokal, sementara pemerintah memiliki data terstandar untuk memantau mutu pendidikan, merancang kebijakan berbasis bukti, dan melakukan intervensi pada daerah yang masih tertinggal.

Tanpa data standar, sulit merumuskan strategi yang tepat untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara merata di seluruh Indonesia. Dengan pengelolaan yang tepat, TKA dapat menjadi fondasi sistem evaluasi yang adil, kredibel, dan berorientasi masa depan.

Evaluasi bukan sekadar angka atau kelulusan, tetapi upaya memastikan setiap anak Indonesia memperoleh haknya untuk belajar secara bermakna dan berkualitas, sekaligus menghadirkan pendidikan yang relevan dengan tuntutan abad ke-21.

Baca juga : Gelar Industrial Festival 2025, Kemenperin Ajak Gen Z Bangun Masa Depan Industri

Kesiapan Siswa Indonesia untuk Tantangan Internasional Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebaiknya disusun tidak sekadar mengukur pencapaian akademik umum, tetapi berpotensi menjadi instrumen strategis untuk menumbuhkan dan menilai kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS).

HOTS sendiri merujuk pada kemampuan siswa untuk menganalisis, mengevaluasi, memecahkan masalah kompleks, dan menciptakan solusi baru, jauh melampaui kemampuan menghafal atau memahami fakta dasar.

Kompetensi ini sangat relevan dengan tuntutan abad ke-21, di mana kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan adaptif menjadi kunci untuk bersaing di tingkat global.

Soal berbasis HOTS dirancang agar siswa tidak hanya meniru atau mengulang informasi yang diajarkan, tetapi mampu menerapkan konsep pada situasi baru, mengambil keputusan berdasarkan analisis data, mengevaluasi berbagai kemungkinan solusi, dan menyusun argumen logis.

Misalnya, dalam matematika, siswa mungkin diminta memecahkan masalah yang mengintegrasikan konsep aljabar dan statistika, bukan sekadar menghitung. Dalam sains, mereka bisa diminta menganalisis eksperimen, menarik kesimpulan, dan memprediksi hasil percobaan.

Baca juga : Tito Karnavian Merapat ke Istana, Dapat Undangan Pelantikan Menko Polkam

Dengan pendekatan ini, TKA menjadi alat untuk mengukur dan menumbuhkan keterampilan berpikir kritis dan reflektif secara sistematis. Penerapan HOTS dalam TKA memungkinkan standar evaluasi yang lebih adil dan relevan.

Semua siswa, baik dari sekolah perkotaan maupun pelosok, diuji dengan instrumen yang menantang secara kognitif, bukan sekadar pengetahuan faktual. Hal ini memberi guru kesempatan untuk menyesuaikan pembelajaran agar siswa dapat berkembang secara maksimal, sekaligus memberikan pemerintah data yang kredibel untuk menilai efektivitas pembelajaran di seluruh wilayah.

HOTS juga membuka peluang bagi siswa untuk diakui di tingkat internasional, karena banyak institusi pendidikan luar negeri mengacu pada standar kemampuan berpikir kritis dan kreatif sebagai salah satu kriteria penerimaan. Beberapa negara telah mengintegrasikan HOTS dalam evaluasi nasional mereka.

Misalnya, Singapura dan Finlandia menekankan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah dalam ujian nasional mereka, bukan sekadar hafalan. Australia melalui NAPLAN (National Assessment Program – Literacy and Numeracy) menggunakan soal berbasis HOTS untuk mengukur kemampuan literasi dan numerasi yang kompleks.

Bahkan OECD dalam Program for International Student Assessment (PISA) menekankan keterampilan berpikir tingkat tinggi sebagai indikator utama kesiapan siswa menghadapi dunia global.

Baca juga : Tes Kemampuan Akademik (TKA): Katalisator era Disruptif

Indonesia, dengan TKA berbasis HOTS, memiliki peluang menyesuaikan diri dengan praktik internasional ini, sehingga hasil asesmen tidak hanya relevan secara nasional, tetapi juga dapat menjadi referensi di kancah global.

Dengan demikian, jika TKA disusun berbasis HOTS tidak hanya menjadi alat evaluasi berskala nasional, tetapi instrumen strategis untuk membangun kesiapan siswa Indonesia menghadapi tantangan internasional. HOTS menjadikan

TKA lebih dari sekadar tes akademik: ia menjadi medium untuk menyiapkan generasi yang berpikir kritis, kreatif, dan adaptif, sekaligus menjaga relevansi dan kualitas pendidikan nasional dalam konteks global.

Dosen PGSD Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta, Mahasiswa Doktoral Shaanxi Normal University, Tiongkok, Nofica Andriyati.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense