Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berkembang sangat cepat dan mulai digunakan dalam berbagai bidang, termasuk kesehatan dan farmasi. Sebagai mahasiswa farmasi, saya melihat perkembangan AI sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari. Persoalannya bukan lagi apakah AI akan masuk ke dunia farmasi, tetapi bagaimana teknologi tersebut digunakan dengan tepat. AI dapat menjadi alat yang sangat membantu, tetapi tidak seharusnya menggantikan pengetahuan, pertimbangan profesional, komunikasi, dan tanggung jawab apoteker terhadap pasien.
Farmasi memiliki banyak kegiatan yang menghasilkan data dalam jumlah besar. Karena itu, AI berpeluang membantu pekerjaan yang membutuhkan pengolahan data secara cepat. Chalasani et al. (2023) menjelaskan bahwa AI berpotensi mendukung praktik farmasi, terutama pengelolaan obat dan pelayanan pasien. Algoritma AI dan machine learning dapat membantu menganalisis rekam medis, hasil laboratorium, serta profil penggunaan obat untuk mengidentifikasi potensi interaksi dan mendukung keputusan berbasis bukti. Namun, hasil AI tidak boleh langsung menjadi keputusan akhir. Apoteker tetap harus memeriksa kesesuaiannya dengan kondisi pasien.
AI dalam Pelayanan Kefarmasian
AI juga berpeluang membantu pelayanan kefarmasian. Saya membayangkan sistem AI dapat membantu apoteker meninjau profil pengobatan pasien, mencari informasi obat, mendeteksi kemungkinan masalah terkait obat, atau memberikan peringatan mengenai potensi interaksi. Wong et al. (2023) membahas peran AI dalam praktik farmasi pada aspek keselamatan obat, operasional kefarmasian, dan precision medicine.
Manfaat terbesar AI bukan hanya membuat pekerjaan lebih cepat. Waktu yang dihemat dapat digunakan apoteker untuk lebih banyak berinteraksi dengan pasien, misalnya menjelaskan cara penggunaan obat, efek samping, dan kepatuhan. Komunikasi dan empati membuat peran apoteker tetap penting karena hubungan dengan pasien membutuhkan kepercayaan. AI dapat memberikan informasi dengan cepat, tetapi pasien tetap membutuhkan tenaga kesehatan yang mampu memahami kondisi mereka secara langsung.
AI sebagai Teman Belajar Mahasiswa Farmasi
Saya melihat AI sebagai alat yang dapat membantu pembelajaran, misalnya menjelaskan materi sulit, membuat latihan soal, atau membantu mencari ide. Namun, mahasiswa tidak boleh menjadikan AI sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. AI dapat memberikan jawaban yang terlihat meyakinkan tetapi salah. Dalam farmasi, kesalahan mengenai dosis atau interaksi obat dapat menjadi masalah serius. Karena itu, informasi AI perlu diverifikasi melalui jurnal, buku teks, pedoman klinis, dan sumber resmi.
Mahasiswa farmasi harus belajar menggunakan AI secara kritis. Kita tidak cukup hanya mengetahui cara memberikan perintah kepada AI, tetapi juga harus mampu menilai apakah jawaban yang diberikan masuk akal dan sesuai dengan sumber ilmiah. Kemudahan teknologi jangan sampai membuat mahasiswa berhenti membaca dan berpikir. AI seharusnya membantu proses belajar, bukan menggantikan proses belajar.
Risiko dan Persoalan Etika
Di balik manfaatnya, AI memiliki risiko yang tidak boleh diabaikan. Salah satu yang menurut saya paling serius adalah munculnya informasi yang salah atau tidak sesuai konteks. Hal ini penting dalam kesehatan karena kesalahan informasi dapat berdampak pada keselamatan pasien. Ning et al. (2024) membahas berbagai pertimbangan etika dalam penggunaan AI generatif di bidang kesehatan. Kajian tersebut menunjukkan pentingnya evaluasi dan tata kelola dalam penggunaan AI. Prinsip tersebut sangat relevan dalam farmasi.
Teknologi yang canggih tidak berarti boleh digunakan tanpa pengawasan. Setiap informasi yang diberikan AI tetap perlu diperiksa sebelum digunakan sebagai dasar keputusan. Masalah lain adalah privasi data. Dunia farmasi berkaitan dengan data kesehatan pasien, sehingga informasi tersebut tidak boleh digunakan sembarangan. Menurut saya, penggunaan AI bukan hanya persoalan bisa menggunakan aplikasi, tetapi juga menyangkut tanggung jawab profesional.
Apakah AI Akan Menggantikan Apoteker?
AI tidak seharusnya menggantikan apoteker. Pekerjaan rutin seperti pengolahan data, pencatatan, pengelolaan persediaan, atau pemberian pengingat memang dapat dibantu otomatisasi. Namun, profesi apoteker tidak hanya terdiri dari pekerjaan rutin. Apoteker harus memahami obat, menilai masalah terkait obat, memberikan informasi, berkomunikasi dengan pasien, dan bekerja sama dengan tenaga kesehatan lainnya. Kondisi setiap pasien juga berbeda.
Hatzimanolis et al. (2025) melalui scoping review mengenai penerapan AI dalam praktik farmasi menunjukkan bahwa AI telah diteliti dalam berbagai aspek praktik kefarmasian. Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa tenaga kefarmasian perlu belajar bekerja bersama teknologi. Saya membayangkan AI menjadi asisten digital apoteker: membantu mengolah informasi, sementara apoteker menilai hasilnya dan mengambil keputusan secara profesional. Dengan pola tersebut, teknologi tidak mengurangi peran apoteker, tetapi justru dapat membuat apoteker lebih fokus pada hal-hal yang membutuhkan kemampuan manusia.
Kesimpulan
Baca juga : AI Membantu Tenaga Kefarmasian, Bukan Menggantikannya
Saya memandang AI sebagai peluang besar bagi dunia farmasi. AI dapat membantu penelitian, analisis data, pelayanan kefarmasian, dan pembelajaran mahasiswa. Namun, saya tidak melihat AI sebagai pengganti apoteker. Teknologi dapat mengolah data dengan cepat, tetapi pelayanan kefarmasian tetap membutuhkan pengetahuan, pertimbangan profesional, komunikasi, empati, etika, dan tanggung jawab terhadap pasien.
Baca juga : Peluang, Tantangan, dan Masa Depan Apoteker di Era AI
Bagi saya, masa depan farmasi bukan tentang manusia melawan AI, tetapi tentang manusia yang mampu bekerja bersama AI. Apoteker yang memahami ilmu kefarmasian sekaligus mampu menggunakan teknologi secara kritis akan lebih siap menghadapi perubahan. AI boleh semakin pintar, tetapi keputusan yang menyangkut keselamatan pasien tetap membutuhkan manusia yang bertanggung jawab.
Daftar Pustaka
- Chalasani, S. H., Syed, J., Ramesh, M., Patil, V., & Pramod Kumar, T. M. (2023). Artificial intelligence in the field of pharmacy practice: A literature review. Exploratory Research in Clinical and Social Pharmacy, 12, 100346. https://doi.org/10.1016/j.rcsop.2023.100346
- Wong, A., Wentz, E., Palisano, N., et al. (2023). Role of artificial intelligence in pharmacy practice: A narrative review. Journal of the American College of Clinical Pharmacy, 6(11), 1237–1250. https://doi.org/10.1002/jac5.1856
- Catacutan, D. B., Alexander, J., Arnold, A., & Stokes, J. M. (2024). Machine learning in preclinical drug discovery. Nature Chemical Biology, 20, 960–973. https://doi.org/10.1038/s41589-024-01679-1
- Ning, Y., Teixayavong, S., Shang, Y., et al. (2024). Generative artificial intelligence and ethical considerations in health care: A scoping review and ethics checklist. The Lancet Digital Health, 6(11), e848–e856. https://doi.org/10.1016/S2589-7500(24)00143-2
- Hatzimanolis, J., Riley, B., El-Den, S., Aslani, P., Zhou, J., & Chaar, B. B. (2025). Applications of artificial intelligence in current pharmacy practice: A scoping review. Research in Social and Administrative Pharmacy, 21(3), 134–141. https://doi.org/10.1016/j.sapharm.2024.12.007
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.