Dark/Light Mode

AI di Dunia Farmasi: Asisten Cerdas atau Ancaman bagi Tenaga Kefarmasian?

Selasa, 8 September 2026 13:38 WIB
Ilustrasi pemanfaatan AI dalam dunia farmasi. (Gambar dibuat dengan AI)
Ilustrasi pemanfaatan AI dalam dunia farmasi. (Gambar dibuat dengan AI)

Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan semakin dekat dengan kehidupan kita. AI tidak hanya digunakan untuk mencari informasi atau membantu membuat tulisan, tetapi juga mulai dimanfaatkan dalam berbagai bidang kesehatan, termasuk farmasi. Untuk mahasiswa Farmasi, perkembangan ini menarik sekaligus menimbulkan pertanyaan: apakah AI nantinya akan menggantikan tenaga kefarmasian?

Menurut saya, jawabannya adalah tidak. AI seharusnya menjadi alat bantu yang memperkuat kemampuan tenaga kefarmasian, bukan pengganti manusia. Teknologi dapat mengolah data dan melakukan pekerjaan tertentu dengan cepat, tetapi keputusan terkait obat dan pasien tetap membutuhkan pengetahuan, pertimbangan profesional, serta tanggung jawab manusia.

AI sudah mulai masuk ke dunia farmasi

Pemanfaatan AI dalam farmasi bukan sekadar penggunaan chatbot. Dalam praktik kefarmasian, AI telah diteliti untuk membantu pengelolaan terapi obat, pelayanan pasien, dan pengambilan keputusan berbasis data (Chalasani et al., 2023).

Menurut saya, manfaat tersebut cukup besar. Tenaga kefarmasian berhadapan dengan banyak informasi mengenai obat, dosis, interaksi, dan kondisi pasien. AI dapat membantu menyaring serta mengolah informasi sehingga pekerjaan tertentu menjadi lebih efisien. Namun, hasil AI tetap harus dinilai oleh tenaga kefarmasian agar sesuai dengan kondisi pasien.

AI dalam Pengembangan Obat

Penggunaan AI telah berkembang hingga penelitian dan pengembangan obat. AI dapat membantu berbagai tahap, mulai dari penemuan kandidat obat hingga pengembangan dan evaluasi terapi. Kajian dalam Nature Medicine menunjukkan bahwa AI memiliki berbagai aplikasi dalam proses pengembangan obat (Zhang et al., 2025).

Baca juga : AI dan Masa Depan Farmasi: Peluang Teknologi Meningkatkan Pelayanan Farmasi

Di industri farmasi, AI juga berpotensi digunakan dalam drug discovery, pengembangan formulasi, manufaktur, pengendalian mutu, dan pemantauan setelah produk beredar (Huanbutta et al., 2024). Menurut saya, hal ini dapat mempercepat pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan analisis data secara manual, sehingga tenaga ahli dapat lebih fokus pada pekerjaan yang membutuhkan pertimbangan kompleks.

AI Membantu Memantau Keamanan Obat

Farmakovigilans merupakan bagian penting dalam memastikan keamanan obat setelah digunakan pasien. AI mulai dimanfaatkan untuk membantu mendeteksi kejadian tidak diinginkan akibat obat dari data klinis. Li et al. (2024) membahas penggunaan machine learning dan deep learning untuk mendeteksi adverse drug events dari teks klinis.

Kemampuan AI mengolah data dalam jumlah besar menjadi keuntungan dalam bidang ini. Teknologi dapat membantu menemukan pola yang mungkin sulit terlihat jika seluruh data diperiksa secara manual. Namun, menemukan suatu pola tidak otomatis membuktikan bahwa obat tertentu menyebabkan efek samping. Hasil AI tetap membutuhkan penilaian dan verifikasi tenaga yang kompeten.

AI Juga Bisa Salah

Kita tidak boleh menganggap AI selalu benar. AI sangat bergantung pada data. Dalam drug discovery, AI masih menghadapi keterbatasan seperti data yang tidak mencukupi atau tidak seragam, keterbatasan pemahaman biologis, dan persoalan berbagi data (Gangwal et al., 2024).

Hal yang sama berlaku ketika mahasiswa menggunakan AI generatif untuk mencari informasi tentang obat. Jawaban yang terlihat meyakinkan belum tentu benar. Karena itu, informasi dari AI harus diperiksa dan dibandingkan dengan jurnal, pedoman, atau sumber terpercaya. Dalam bidang kesehatan, kesalahan informasi tidak boleh dianggap sepele karena dapat berkaitan dengan keselamatan pasien.

Baca juga : Farmasi 4.0: Siapkah Generasi Apoteker Muda Berdampingan dengan AI?

Mahasiswa Farmasi Harus Takut atau Tidak?

Menurut saya, justru tidak. Mahasiswa Farmasi perlu belajar menggunakan AI sekaligus belajar mengkritisi hasilnya. Kemampuan menggunakan teknologi saja tidak cukup. Kita harus mampu memeriksa informasi, membandingkannya dengan sumber terpercaya, dan menentukan apakah informasi tersebut dapat digunakan.

Saya melihat AI sebagai asisten. AI dapat membantu menjelaskan konsep yang sulit, mencari ide penelitian, merangkum informasi, atau membantu pekerjaan tertentu. Namun, keputusan akhirnya tetap harus berdasarkan ilmu pengetahuan dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

AI Membutuhkan Manusia yang Bertanggung Jawab

Tantangan terbesar penggunaan AI dalam kesehatan bukan hanya teknologi, tetapi juga etika dan tanggung jawab. WHO menekankan pentingnya etika, keselamatan, transparansi, akuntabilitas, inklusivitas, keadilan, dan perlindungan otonomi manusia dalam penggunaan AI untuk kesehatan (WHO, 2021).

Hal ini sangat relevan dengan dunia farmasi. Ketika AI memberikan rekomendasi yang salah, kita tidak cukup hanya bertanya apakah algoritmanya salah, tetapi juga siapa yang bertanggung jawab atas keputusan yang diambil berdasarkan hasil tersebut. Karena itu, manusia tetap harus berada dalam posisi yang bertanggung jawab. AI boleh memberikan rekomendasi, tetapi tenaga profesional harus mampu menilai, memverifikasi, dan mengambil keputusan sesuai kompetensinya.

AI sebagai Partner

Baca juga : Kecerdasan Buatan di Dunia Farmasi: Antara Revolusi dan Tanggung Jawab Etis

Saya tidak melihat masa depan farmasi sebagai persaingan antara manusia dan AI. Saya lebih melihatnya sebagai kerja sama. AI unggul dalam mengolah data dalam jumlah besar, menemukan pola, dan melakukan pekerjaan berulang. Manusia unggul dalam memahami konteks, berkomunikasi dengan pasien, mempertimbangkan kondisi individual, menerapkan etika, dan bertanggung jawab atas keputusan.

Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan “Apakah AI akan menggantikan apoteker?”, tetapi “Apakah tenaga kefarmasian siap bekerja bersama AI?”

Jika kita tidak mau belajar, kita mungkin akan tertinggal. Sebaliknya, jika kita memahami teknologi sekaligus mempertahankan kemampuan profesional, AI dapat menjadi alat yang membantu perkembangan farmasi.

Pada akhirnya, saya percaya AI bukan pengganti tenaga kefarmasian. AI adalah alat yang manfaatnya sangat bergantung pada manusia yang menggunakannya. AI boleh semakin pintar, tetapi ketika yang dipertaruhkan adalah kesehatan dan keselamatan manusia, keputusan tetap membutuhkan manusia yang memahami ilmu, etika, dan tanggung jawab profesinya.

Dama Yemima
Dama Yemima
Mahasiswa Farmasi Universitas Batam

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.