Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Sidak ke Kantor Kemenhaj Jaktim, Dahnil Komit Sapu Bersih Penyimpangan
- Ripal Wahyudi Siap Anggap Setiap Laga Sebagai Final
- Hakim PN Jaksel Tolak Lagi Praperadilan Asrul Azis Taba di Kasus Kuota Haji
- OMC Terkendala Cuaca, Menhut Andalkan Water Bombing Bromo
- MBG Jalan Rezeki Perajin Tahu Tempe, Karyawan Tambah, Cicilan Lancar
Kecerdasan Buatan di Dunia Farmasi: Antara Revolusi dan Tanggung Jawab Etis
Senin, 10 Agustus 2026 18:51 WIB
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dalam beberapa tahun terakhir telah membawa gelombang perubahan besar di berbagai sektor, tak terkecuali dunia farmasi. Jika dahulu proses penemuan obat baru diibaratkan sebagai perjalanan panjang yang memakan waktu 10 hingga 15 tahun dengan biaya miliaran dolar AS, kini AI hadir sebagai katalis yang mampu memangkas waktu dan biaya secara signifikan. Namun, di balik optimisme itu, ada satu pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan bersama: sejauh mana kita siap menghadapi transformasi ini tanpa kehilangan kendali atas nilai-nilai kemanusiaan dan etika profesi?
AI: Mengubah Wajah Penemuan Obat dari Hulu ke Hilir
Integrasi AI ke dalam industri farmasi telah membawa transformasi nyata dalam proses penemuan dan pengembangan obat. Kemampuan AI untuk menganalisis dataset besar dan memprediksi interaksi obat-target secara efektif telah mempercepat proses penemuan obat berkali-kali lipat. Tak hanya itu, AI juga memungkinkan desain uji klinis dan rekrutmen pasien melalui analisis prediktif, serta pelacakan hasil pasien secara real-time.
Salah satu tonggak penting terjadi pada 2025, ketika dunia menyaksikan keberhasilan pertama obat yang ditemukan dan dikembangkan sepenuhnya oleh AI—Rentosertib dari Insilico Medicine—yang hasil uji klinis IIa-nya dipublikasikan di Nature Medicine. Ini bukan sekadar pencapaian teknologi, melainkan bukti nyata bahwa AI mampu menembus apa yang selama ini dianggap sebagai “tembok” dalam penelitian farmasi. Di sisi lain, perusahaan raksasa seperti Bayer pun telah mengintegrasikan AI ke dalam strategi bisnis mereka, menargetkan peningkatan produktivitas riset dan pengembangan secara signifikan melalui pemanfaatan AI.
Dari Laboratorium ke Apotek: AI dalam Praktik Keseharian
Yang tak kalah menarik adalah bagaimana AI mulai merambah ke praktik farmasi sehari-hari. Di apotek komunitas, implementasi teknologi AI telah menunjukkan hasil yang menggembirakan: peningkatan kepatuhan minum obat hingga 40% dan pengurangan 55% dalam kasus resep yang tidak ditebus. Di rumah sakit, penerapan AI mampu mengurangi kesalahan distribusi resep hingga 75% dan meningkatkan deteksi reaksi obat merugikan hingga 65%.
Baca juga : AI di Dunia Farmasi: Membantu Tenaga Farmasi, Bukan Menggantikan Perannya
Di Indonesia, Kementerian Perindustrian telah mempercepat transformasi digital sektor farmasi melalui pemanfaatan AI, dengan implementasi sistem predictive maintenance berbasis AI di PT Kalbe Farma Tbk sebagai salah satu contoh nyata. Sementara itu, para apoteker mulai dilibatkan dalam clinical decision support system (CDSS) untuk membaca data interaksi obat dan duplikasi terapi. Saya melihat ini sebagai langkah maju yang patut diapresiasi, sekaligus pengingat bahwa profesi apoteker tidak lagi sekadar meracik obat, tetapi juga memproses dan menganalisis data untuk keputusan terapi yang lebih tepat.
Tantangan Etis: Mengapa Kita Tak Boleh Terbuai
Namun, seperti dua sisi mata uang, kemajuan ini membawa tantangan etis yang tak bisa diabaikan. Federasi Farmasi Internasional (FIP) dengan tegas menyatakan bahwa AI akan mengubah masa depan farmasi hanya jika diintegrasikan secara bertanggung jawab dan etis. Kebijakan FIP menyerukan perlunya perlindungan kuat untuk privasi pasien dan keamanan data, mengatasi bias, serta memastikan transparansi agar alat AI melengkapi—bukan menggantikan—keahlian apoteker.
Survei terhadap mahasiswa farmasi di kawasan MENA mengungkapkan bahwa 62% responden menyatakan kekhawatiran tentang privasi data dan 56,2% tentang kerentanan terhadap peretasan. Bahkan 60,5% mahasiswa farmasi lainnya mengungkapkan kekhawatiran bahwa AI dapat mengurangi aspek humanistik dari profesi farmasi. Kekhawatiran ini bukanlah ketakutan berlebihan. Ketika data pasien menjadi komoditas berharga dalam pengembangan obat berbasis AI, pertanyaan tentang siapa yang mengontrol data medis, bagaimana informed consent diperoleh, dan bagaimana memastikan keadilan dalam akses terhadap terapi berbasis AI menjadi semakin mendesak.
Menuju Masa Depan yang Seimbang
Saya meyakini bahwa AI di dunia farmasi bukanlah ancaman, melainkan peluang—asalkan kita bijak dalam menyikapinya. Ada tiga hal yang menurut saya perlu menjadi perhatian utama. Pertama, literasi AI bagi para tenaga farmasi. Seperti halnya literasi AI bagi guru yang terbukti mempengaruhi keyakinan diri dan kesadaran etika, para apoteker dan peneliti farmasi juga perlu dibekali pemahaman yang memadai tentang cara kerja AI, keterbatasannya, serta implikasi etisnya. Kedua, penguatan regulasi dan kerangka etik yang jelas. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan regulator lainnya perlu mengadopsi pendekatan serupa dengan FDA yang telah mengeluarkan draf panduan penilaian kredibilitas AI dalam tujuh langkah. Ketiga, menjaga peran manusia sebagai pengambil keputusan final. Sehebat apa pun AI, keputusan akhir tentang terapi pasien harus tetap berada di tangan tenaga farmasi yang kompeten.
Baca juga : Pemanfaatan Kecerdasan Buatan dalam Transformasi Industri Farmasi
Penutup
Revolusi AI di dunia farmasi telah dimulai. Kita menyaksikan sendiri bagaimana teknologi ini mampu mempercepat penemuan obat, meningkatkan keselamatan pasien, dan mengoptimalkan pelayanan kefarmasian. Namun seperti yang diingatkan oleh Fei-Fei Li, profesor Stanford, narasi tentang AI perlu diimbangi dengan kesadaran akan tanggung jawab etis. Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan digunakan di dunia farmasi, tetapi bagaimana kita menggunakannya dengan bijak, bertanggung jawab, dan tetap berpegang pada nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi profesi kita. Sebab pada akhirnya, teknologi hanyalah alat—manusialah yang menentukan arah dan dampaknya.
Daftar Rujukan
Saini, J.P.S., Thakur, A., & Yadav, D. (2025). AI-driven innovations in pharmaceuticals: optimizing drug discovery and industry operations. RSC Pharmaceutics, 2, 437-454.
Clinical and Operational Applications of Artificial Intelligence and Machine Learning in Pharmacy: A Narrative Review of Real-World Applications. (2025). Pharmacy, 13(2), 41.
Kemenperin Percepat Transformasi Digital Industri Farmasi Dengan AI. (2026). RM.id.
Baca juga : Ketika Algoritma Ikut Meracik Obat: Refleksi tentang AI di Balik Layar Farmasi
FIP Statement of Policy on Artificial Intelligence in Pharmacy Practice. (2025). International Pharmaceutical Federation.
Pharmacy students' perceptions of artificial intelligence integration in pharmacy practice: Ethical challenges in multiple countries of the MENA region. (2025). PubMed.
Long, D., & Magerko, B. (2020). What is AI Literacy? Competencies and Design Considerations. Proceedings of the 2020 CHI Conference on Human Factors in Computing Systems.
R. Siti Nadia
Mahasiswa Farmasi Universitas Batam
Mahasiswa Farmasi Universitas Batam
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya