Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Sidak ke Kantor Kemenhaj Jaktim, Dahnil Komit Sapu Bersih Penyimpangan
- Ripal Wahyudi Siap Anggap Setiap Laga Sebagai Final
- Hakim PN Jaksel Tolak Lagi Praperadilan Asrul Azis Taba di Kasus Kuota Haji
- OMC Terkendala Cuaca, Menhut Andalkan Water Bombing Bromo
- MBG Jalan Rezeki Perajin Tahu Tempe, Karyawan Tambah, Cicilan Lancar
AI di Dunia Farmasi: Membantu Tenaga Farmasi, Bukan Menggantikan Perannya
Senin, 10 Agustus 2026 17:31 WIB
Perkembangan teknologi saat ini semakin cepat. Salah satu teknologi yang banyak digunakan adalah Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. AI telah dimanfaatkan dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan dan kesehatan. Dalam dunia farmasi, AI mulai digunakan untuk membantu penelitian, penemuan obat, pengolahan data, farmakovigilans, hingga pelayanan kefarmasian.
Penggunaan AI dalam dunia farmasi merupakan perkembangan yang positif. Sebagai mahasiswa farmasi, saya terbatu AI memahami materi kuliah, mencari informasi awal, membuat rangkuman, dan menyelesaikan tugas.
Namun, AI tidak boleh digunakan secara berlebihan. Informasi yang diberikan tetap harus diperiksa menggunakan sumber yang jelas dan terpercaya. Hal ini penting karena farmasi berhubungan langsung dengan obat dan kesehatan manusia. Kesalahan mengenai dosis, efek samping, interaksi obat, atau aturan penggunaan dapat membahayakan pasien. Oleh karena itu, AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu, sedangkan keputusan akhir tetap dilakukan oleh manusia.
AI dalam Penemuan Obat
Salah satu manfaat AI yang menarik adalah penggunaannya dalam penemuan dan pengembangan obat. Proses menemukan obat baru membutuhkan waktu yang panjang karena peneliti harus mengumpulkan dan menganalisis banyak data. AI dapat membantu mengolah data dalam jumlah besar, menemukan pola, serta memprediksi karakteristik suatu senyawa, seperti aktivitas biologis dan kemungkinan toksisitas. Dengan bantuan AI, peneliti dapat lebih cepat memilih senyawa yang berpotensi untuk diteliti lebih lanjut.
Namun, hasil prediksi AI tidak dapat langsung dianggap benar. Hasil tersebut tetap harus dibuktikan melalui penelitian laboratorium, uji praklinis, dan uji klinis. Jadi, AI berfungsi membantu mempercepat proses, bukan menggantikan penelitian ilmiah. FDA juga telah memperhatikan penggunaan AI dalam pengembangan obat. FDA menyebutkan bahwa AI dan machine learning telah digunakan dalam berbagai tahap pengembangan obat. Pada 2025, FDA juga mengeluarkan rancangan pedoman mengenai penggunaan AI untuk membantu pengambilan keputusan terkait obat dan produk biologis.
AI dalam Farmakovigilans
Baca juga : Pemanfaatan Kecerdasan Buatan dalam Transformasi Industri Farmasi
AI juga dapat dimanfaatkan dalam farmakovigilans, yaitu kegiatan pemantauan keamanan obat setelah digunakan masyarakat, termasuk mendeteksi efek samping dan masalah terkait obat. Data mengenai obat dan efek samping sangat banyak sehingga pemeriksaan secara manual membutuhkan waktu. AI dapat membantu mengolah data tersebut dan menemukan pola yang mungkin sulit ditemukan dengan cepat oleh manusia. Algarvio et al. (2025) menunjukkan bahwa AI memiliki potensi dalam membantu farmakovigilans, terutama dalam pengolahan dan analisis informasi keamanan obat. Namun, masih terdapat tantangan seperti kualitas data dan perlunya validasi terhadap hasil AI. Menurut saya, hasil AI tidak boleh langsung dijadikan keputusan akhir. Tenaga farmasi tetap diperlukan untuk memastikan informasi tersebut benar dan sesuai dengan kondisi pasien.
AI dalam Pelayanan Kefarmasian
Dalam pelayanan kefarmasian, AI dapat membantu mencari informasi obat, mengidentifikasi kemungkinan interaksi obat, mengolah data, dan membantu pekerjaan administratif. Penggunaan AI dapat membuat pekerjaan lebih cepat sehingga tenaga farmasi dapat lebih fokus memberikan pelayanan kepada pasien.
Namun, informasi dari AI tidak boleh langsung diberikan kepada pasien tanpa pemeriksaan. AI dapat memberikan jawaban yang terlihat benar tetapi sebenarnya tidak sesuai. Misalnya, informasi dosis yang salah dapat membahayakan pasien. Oleh karena itu, tenaga farmasi harus memiliki pengetahuan yang kuat dan mampu menilai kebenaran informasi yang diberikan AI.
Apakah AI Bisa Menggantikan Apoteker?
Menurut saya, AI tidak dapat sepenuhnya menggantikan apoteker. AI memang mampu mencari informasi dan menganalisis data, tetapi tugas apoteker tidak hanya berkaitan dengan obat dan data. Apoteker juga berinteraksi langsung dengan pasien, memberikan konseling, menjelaskan cara penggunaan obat, mendengarkan keluhan, serta memberikan pelayanan berdasarkan kondisi pasien. AI dapat memberikan informasi dengan cepat, tetapi keputusan mengenai pasien tetap membutuhkan pertimbangan manusia. Karena itu, AI lebih tepat dianggap sebagai alat bantu atau rekan kerja tenaga farmasi, bukan pengganti apoteker.
Risiko Penggunaan AI
AI memiliki banyak manfaat, tetapi juga memiliki risiko. Salah satunya adalah keamanan dan privasi data pasien. Data kesehatan merupakan informasi penting yang harus dilindungi. WHO menekankan bahwa penggunaan AI dalam kesehatan harus memperhatikan keamanan, privasi, transparansi, akuntabilitas, dan etika. Selain itu, terdapat risiko ketergantungan terhadap AI. Sebagai mahasiswa, kita mungkin terbiasa menggunakan AI ketika mendapatkan tugas atau materi yang sulit. Hal tersebut tidak menjadi masalah jika AI hanya digunakan sebagai alat bantu. Namun, jika kita hanya menyalin jawaban tanpa memahami isinya, kemampuan berpikir kritis dapat berkurang. Karena itu, mahasiswa farmasi harus menggunakan AI secara bijak. AI dapat membantu memberikan informasi awal, tetapi kita tetap perlu memeriksa kebenarannya melalui jurnal, buku, farmakope, dan pedoman resmi.
Mahasiswa Farmasi dan Masa Depan AI
Mahasiswa farmasi tidak perlu takut terhadap perkembangan AI. Kita justru perlu belajar menggunakannya karena teknologi ini kemungkinan akan semakin banyak digunakan dalam dunia kerja. AI dapat membantu memahami materi, mencari ide penelitian, merangkum jurnal, mengolah data, dan berbagai kegiatan lainnya. Namun, kemampuan menggunakan AI saja tidak cukup. Tenaga farmasi tetap membutuhkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, etika, dan tanggung jawab.
Baca juga : Ketika Algoritma Ikut Meracik Obat: Refleksi tentang AI di Balik Layar Farmasi
Penggunaan AI yang tepat adalah membantu kita berpikir, bukan menggantikan kita untuk berpikir. Saya percaya bahwa dunia farmasi di masa depan akan semakin dekat dengan teknologi. AI dapat membantu penelitian obat, industri farmasi, farmakovigilans, dan pelayanan kefarmasian. Menurut saya, keberhasilan AI bukan dilihat dari seberapa banyak pekerjaan apoteker yang dapat digantikan, tetapi dari seberapa besar AI dapat membantu tenaga farmasi bekerja lebih cepat, efektif, dan memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pasien.
Pada akhirnya, AI hanyalah sebuah alat. Dampaknya bergantung pada cara manusia menggunakannya. Bagi saya, masa depan farmasi bukan tentang AI menggantikan apoteker, tetapi tentang apoteker yang mampu menggunakan AI untuk menjadi tenaga farmasi yang lebih baik.
Daftar Rujukan
Algarvio, R. C., Conceição, J., Rodrigues, P. P., & Ribeiro, I. (2025). Artificial intelligence in pharmacovigilance. International Journal of Clinical Pharmacy, 47, 932–944.
Food and Drug Administration. (2025). Considerations for the Use of Artificial Intelligence to Support Regulatory Decision-Making for Drug and Biological Products. U.S. FDA.
Food and Drug Administration. (2026). Artificial Intelligence and Machine Learning (AI/ML) in Drug Development. U.S. FDA.
Baca juga : Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Farmasi: Antara Harapan dan Kehati-hatian
Patil, H. G., & Khairnar, V. S. (2025). Impact of AI on Pharmacovigilance: A Systematic Review. International Journal of Research in Pharmacy and Allied Science, 4(5), 26–35.
World Health Organization. (2024). Artificial Intelligence for Health. WHO.
World Health Organization. (2024). Ethics and Governance of Artificial Intelligence for Health. WHO.
Lindi Gistia Dewi
Mahasiswa Farmasi Universitas Batam
Mahasiswa Farmasi Universitas Batam
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya