Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini telah memasuki berbagai bidang, termasuk kesehatan dan farmasi. Sebagai mahasiswa farmasi, saya melihat AI bukan lagi sekadar teknologi masa depan. Saat ini, AI sudah mulai dimanfaatkan dalam penelitian, pengolahan data, penemuan obat, hingga mendukung berbagai kegiatan kesehatan.
Keberadaan AI dalam dunia farmasi tidak seharusnya langsung dianggap sebagai ancaman bagi profesi apoteker. Jika digunakan secara tepat, AI justru dapat menjadi alat bantu yang membuat pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien. Namun, penggunaannya tetap harus dilakukan secara hati-hati karena bidang farmasi berkaitan langsung dengan kesehatan dan keselamatan manusia.
AI dalam Penemuan dan Pengembangan Obat
AI memiliki potensi besar dalam penemuan dan pengembangan obat. Teknologi ini dapat membantu menganalisis data, mengidentifikasi target obat, menyaring senyawa, serta memprediksi karakteristik kandidat obat. Dengan demikian, proses penelitian dapat dilakukan lebih efisien dan peneliti dapat lebih fokus pada kandidat yang berpotensi (Arora et al., 2024; Mukherjee et al., 2024).
WHO menjelaskan, AI telah digunakan dalam berbagai tahapan pengembangan obat dan vaksin, serta diperkirakan akan semakin banyak diterapkan dalam pengembangan produk farmasi (World Health Organization, 2024).
Namun, AI tidak dapat menggantikan peneliti. Hasil yang diberikan tetap harus dibuktikan melalui penelitian dan pengujian untuk memastikan keamanan serta efektivitas obat. AI sebaiknya menjadi alat bantu, sedangkan keputusan ilmiah tetap berada pada manusia.
Baca juga : AI di Dunia Farmasi: Sebenarnya, Apakah AI Menjadi Teman Kerja atau Ancaman?
AI dalam Pelayanan Kefarmasian
AI juga dapat dimanfaatkan dalam pelayanan kefarmasian untuk membantu mengolah informasi dan data. WHO menyebutkan bahwa AI berpotensi digunakan dalam berbagai aspek kesehatan, tetapi penerapannya harus tetap memperhatikan etika dan hak asasi manusia (World Health Organization, 2021).
Menurut saya, AI sebaiknya membantu pekerjaan administratif dan pengolahan informasi sehingga apoteker dapat lebih fokus pada pasien. Untuk konseling, edukasi obat, komunikasi, empati, dan pertimbangan profesional tetap membutuhkan peran apoteker.
AI sebagai Alat Bantu Mahasiswa Farmasi
Sebagai mahasiswa farmasi, saya juga melihat AI sebagai salah satu teknologi yang dapat membantu proses pembelajaran. AI dapat digunakan untuk menjelaskan materi yang sulit, membuat rangkuman, memahami istilah farmasi, menyusun latihan soal, maupun memberikan penjelasan dengan bahasa yang lebih sederhana.
Baca juga : Ketika Teknologi Ikut Meracik Masa Depan Farmasi
Namun, penggunaan AI dalam pendidikan tetap harus memiliki batas. Kemudahan mendapatkan jawaban jangan sampai membuat mahasiswa berhenti berpikir dan hanya bergantung pada teknologi. Menurut saya, terdapat perbedaan antara menggunakan AI sebagai alat bantu belajar dan menggunakan AI untuk menggantikan proses belajar.
Karena itu, mahasiswa farmasi perlu memiliki kemampuan AI literacy. Kemampuan tersebut tidak hanya berarti mampu menggunakan AI, tetapi juga mampu memberikan instruksi yang tepat, menilai hasil yang diberikan, memahami keterbatasannya, dan memverifikasi informasi yang diperoleh.
AI Tidak Selalu Benar
Baca juga : Membangun Masa Depan Farmasi melalui Pemanfaatan AI yang Etis dan Inovatif
Walaupun memiliki berbagai manfaat, AI tidamasik dapat dianggap sebagai sumber informasi yang selalu benar. Menurut saya, jawaban AI tidak boleh langsung digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan kesehatan. Informasi yang diperoleh harus diperiksa terlebih dahulu melalui sumber ilmiah, pedoman terapi, regulasi, dan pertimbangan profesional tenaga kesehatan.
WHO menjelaskan bahwa penggunaan AI dalam kesehatan memiliki berbagai tantangan dan risiko, termasuk masalah etika, hak asasi manusia, privasi, keamanan, bias, dan akuntabilitas. Karena itu, aspek etika dan hak asasi manusia harus diperhatikan dalam perancangan maupun penggunaan AI di bidang kesehatan (World Health Organization, 2021).
Apoteker Harus Beradaptasi dengan Teknologi
Perkembangan AI bukan alasan bagi apoteker untuk takut atau menolak teknologi. Sebaliknya, apoteker perlu belajar menggunakannya secara bijak. AI dapat mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan pengolahan data dengan cepat, sedangkan apoteker dapat lebih mengembangkan kemampuan yang sulit digantikan teknologi, seperti komunikasi, empati, pertimbangan etis, dan tanggung jawab profesional.
Penggunaan AI juga membutuhkan regulasi dan pengawasan agar manfaatnya lebih besar daripada risikonya. WHO menekankan pentingnya penilaian manfaat dan risiko serta evaluasi terhadap penggunaan AI dalam kesehatan (World Health Organization, 2023).
AI sebagai Partner Apoteker, Bukan Pengganti Apoteker
Pada akhirnya, saya melihat AI sebagai partner kerja, bukan pengganti apoteker. AI dapat membantu manusia bekerja lebih cepat dan efisien, tetapi keputusan yang menyangkut kesehatan tetap membutuhkan tenaga profesional.
WHO menekankan prinsip penting dalam penggunaan AI untuk kesehatan, seperti perlindungan otonomi manusia, keselamatan, transparansi, akuntabilitas, keadilan, dan keberlanjutan. (World Health Organization, 2021). Selain itu, penggunaan AI juga membutuhkan regulasi, penilaian manfaat dan risiko, serta evaluasi dan pemantauan kinerja sistem (World Health Organization, 2023).
Menurut saya, teknologi boleh berkembang cepat, tetapi keselamatan pasien harus tetap menjadi prioritas. AI harus membantu pelayanan, bukan menghilangkan tanggung jawab manusia.
Masa Depan Farmasi adalah Kolaborasi
Bagi saya, masa depan farmasi bukanlah pertarungan antara manusia dan AI, melainkan kolaborasi. AI dapat membantu mempercepat penemuan obat, menganalisis data, mendukung pelayanan kesehatan, dan membantu pembelajaran. Di sisi lain, AI tetap memiliki keterbatasan dan dapat menghasilkan kesalahan. Karena itu, apoteker tetap dibutuhkan untuk melakukan verifikasi, memberikan pertimbangan profesional, menjaga etika, dan memastikan keselamatan pasien (World Health Organization, 2024).
Sebagai mahasiswa farmasi, saya melihat AI sebagai tantangan sekaligus kesempatan. Kita perlu belajar teknologi agar menjadi tenaga farmasi yang adaptif. Menurut saya, pertanyaan yang lebih tepat bukan “Apakah AI akan menggantikan apoteker?”, tetapi “Seberapa baik apoteker dapat menggunakan AI untuk meningkatkan pelayanan kepada pasien?”
Jika digunakan secara kritis, etis, dan bertanggung jawab, AI bukanlah akhir dari profesi farmasi, melainkan alat yang dapat membantu profesi berkembang. Teknologi akan terus berubah, tetapi penggunaannya secara bijak tetap menjadi tanggung jawab manusia.
Daftar Pustaka
Arora, P., Behera, M., Saraf, S. A., & Shukla, R. (2024). Leveraging artificial intelligence for synergies in drug discovery: From computers to clinics. Current Pharmaceutical Design, 30(28), 2187–2205.
Mukherjee, D., et al. (2024). Advancement of artificial intelligence in drug discovery: A comprehensive review. Current Artificial Intelligence, 2.
World Health Organization. (2021). Ethics and governance of artificial intelligence for health: WHO guidance. Geneva: WHO.
World Health Organization. (2023). Regulatory considerations on artificial intelligence for health. Geneva: WHO.
World Health Organization. (2024). Benefits and risks of using artificial intelligence for pharmaceutical development and delivery. Geneva: WHO.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.