Dark/Light Mode

AI dalam Pelayanan Kefarmasian: Teknologi Canggih, Tapi Manusia Tetap Utama

Selasa, 11 Agustus 2026 19:49 WIB
Ilustrasi AI sebagai teknologi pendukung pelayanan dan konsultasi kefarmasian. (Gambar dibuat dengan AI).
Ilustrasi AI sebagai teknologi pendukung pelayanan dan konsultasi kefarmasian. (Gambar dibuat dengan AI).

Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari dan mulai digunakan dalam bidang kesehatan, termasuk farmasi. Menurut saya sebagai mahasiswa farmasi, AI merupakan peluang besar untuk meningkatkan pelayanan, terutama dalam membantu apoteker memberikan informasi dan konsultasi kepada pasien. Namun, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, manusia tetap harus menjadi pusat pelayanan.

World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa AI memiliki potensi untuk membantu diagnosis, pengobatan, penelitian kesehatan, pengembangan obat, dan pelayanan kesehatan. Pada saat yang sama, WHO menekankan bahwa AI dalam kesehatan harus dikembangkan dengan memperhatikan etika, hak asasi manusia, keselamatan, transparansi, dan akuntabilitas (World Health Organization, 2021).

AI dan Pelayanan Kefarmasian

Ketika membicarakan AI dalam farmasi, sebagian orang mungkin membayangkan robot yang menggantikan apoteker. Pemanfaatan AI yang lebih masuk akal adalah menjadikannya alat bantu bagi tenaga kefarmasian.

Pelayanan kefarmasian bukan sekadar menyerahkan obat kepada pasien. Apoteker juga bertanggung jawab memastikan pasien memperoleh obat yang sesuai, memahami aturan penggunaan, mengetahui kemungkinan efek samping, serta menggunakan obat dengan benar. Dalam proses tersebut, informasi yang cepat dan akurat sangat dibutuhkan. AI dapat membantu apoteker mengolah informasi sehingga pelayanan menjadi lebih efisien.

Sebagai contoh, ketika seorang pasien menggunakan beberapa obat sekaligus, sistem berbasis AI dapat membantu menemukan potensi interaksi obat atau memberikan peringatan mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan. Hasil tersebut tetap harus diperiksa oleh apoteker sebelum disampaikan kepada pasien. Dengan cara ini, AI bekerja sebagai asisten, sedangkan apoteker tetap menjadi pihak yang menilai dan mengambil keputusan profesional.

American Society of Health-System Pharmacists (ASHP) menyatakan bahwa AI berpotensi meningkatkan pelayanan pasien dan proses penggunaan obat, membantu pengguna, meningkatkan pengalaman pendidikan, serta menyederhanakan pekerjaan administratif dalam praktik kefarmasian. ASHP juga menekankan bahwa tenaga kefarmasian perlu terlibat dalam pengambilan keputusan, validasi, penerapan, dan evaluasi teknologi AI (ASHP, 2025).

Konsultasi Pasien Bisa Lebih Efisien

Salah satu manfaat AI yang paling menarik adalah membantu konsultasi pasien. AI dapat membantu merangkum data obat, mengingatkan kemungkinan interaksi, atau menyediakan informasi mengenai aturan penggunaan. Apoteker kemudian memeriksa informasi tersebut dan menyampaikannya dengan bahasa yang mudah dipahami.

Jika AI membantu pekerjaan rutin dan pencarian informasi, waktu apoteker dapat lebih banyak digunakan untuk berbicara, mendengarkan keluhan, dan memastikan pasien memahami terapi. Jadi, teknologi tidak harus membuat pelayanan menjadi lebih dingin. Jika digunakan dengan tepat, AI justru dapat memberikan lebih banyak ruang bagi interaksi manusia.

Mengapa Manusia Tetap Dibutuhkan?

Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah AI suatu hari nanti dapat menggantikan apoteker. Bagi saya, jawabannya adalah tidak, terutama dalam pelayanan dan konsultasi pasien.

Pasien bukan sekadar kumpulan data. Dua orang yang menggunakan obat yang sama belum tentu mempunyai kebutuhan pelayanan yang sama. Misalnya, seorang pasien tidak patuh minum obat. AI mungkin dapat memberikan informasi mengenai pentingnya kepatuhan. Namun, apoteker dapat menggali alasan sebenarnya. Bisa jadi pasien sering lupa, takut terhadap efek samping, tidak memahami aturan penggunaan, merasa sudah sembuh, atau memiliki kendala tertentu dalam mendapatkan obat.

Masalah tersebut membutuhkan komunikasi dan empati. Apoteker harus mampu mendengarkan pasien dan menyesuaikan cara menjelaskan informasi dengan kondisi pasien. Menurut saya, inilah salah satu bagian penting dalam pelayanan kefarmasian yang sulit digantikan oleh sistem otomatis.

WHO menegaskan bahwa manusia harus tetap memiliki kendali dalam sistem kesehatan dan keputusan medis. WHO juga menekankan perlindungan privasi dan kerahasiaan, transparansi, tanggung jawab, serta akuntabilitas dalam penggunaan AI (World Health Organization, 2021). Prinsip ini memperkuat pandangan saya bahwa AI seharusnya membantu tenaga kesehatan, bukan mengambil alih seluruh keputusan.

AI Tidak Selalu Benar

Walaupun saya mendukung pemanfaatan AI, bukan berarti teknologi ini bebas dari kekurangan. Salah satu risiko yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan AI memberikan informasi yang keliru. Jawaban yang dihasilkan AI dapat terlihat meyakinkan, tetapi belum tentu benar atau sesuai dengan kondisi pasien.

Dalam bidang kesehatan, kesalahan informasi tidak boleh dianggap sepele. Pasien dapat mengambil keputusan yang salah jika menerima informasi obat tanpa verifikasi. Misalnya, pasien dapat mengubah dosis, menghentikan obat, atau menggabungkan obat tertentu tanpa memahami risikonya.

WHO memperingatkan bahwa model AI generatif dapat menghasilkan jawaban yang tampak meyakinkan tetapi sebenarnya salah, terutama dalam konteks kesehatan. Karena itu, WHO mendorong pengawasan ahli, evaluasi yang ketat, transparansi, dan perlindungan terhadap keselamatan pasien (World Health Organization, 2023). Karena itu, penggunaan AI harus disertai kemampuan berpikir kritis. Kita tidak boleh menerima jawabannya begitu saja; informasi harus dibandingkan dengan sumber terpercaya dan dinilai kembali oleh tenaga kefarmasian.

Apoteker Masa Depan Harus Beradaptasi

Perkembangan AI juga menjadi tantangan bagi mahasiswa farmasi. Menurut saya, kita harus mulai memahami AI dan cara menggunakannya secara bertanggung jawab. Namun, belajar menggunakan AI bukan berarti bergantung pada AI. Kita tetap harus memahami ilmu farmasi dan mampu berpikir kritis. Ketika mendapatkan jawaban dari AI, kita perlu bertanya: apakah informasi ini benar, berasal dari sumber terpercaya, masih relevan, dan sesuai dengan kondisi pasien?

Masa Depan Farmasi adalah Kolaborasi

Masa depan farmasi bukan tentang manusia melawan AI. Masa depan farmasi adalah tentang manusia yang bekerja bersama AI. AI unggul dalam mengolah data dan melakukan pekerjaan secara cepat. Manusia unggul dalam memahami konteks, berkomunikasi, menunjukkan empati, dan bertanggung jawab atas keputusan. Keduanya memiliki kelebihan yang berbeda.

Karena itu, saya percaya bahwa AI memang penting untuk masa depan dunia farmasi. Teknologi ini dapat membantu mempercepat pekerjaan, mengolah informasi, mendukung pelayanan, dan membantu apoteker memberikan konsultasi kepada pasien. Namun, AI tidak seharusnya menggantikan manusia dalam pelayanan kefarmasian.

Bagi saya, masa depan pelayanan kefarmasian bukanlah AI menggantikan apoteker, melainkan AI membantu apoteker menjadi lebih baik. Teknologi boleh semakin canggih, tetapi manusia tetap harus menjadi pusatnya.Gunakan kecerdasan buatan untuk membantu pekerjaan manusia, tetapi jangan sampai kecanggihan teknologi membuat kita melupakan nilai kemanusiaan dalam memberikan pelayanan kepada pasien. 

Dini Julianti
Dini Julianti
Mahasiswa Universitas Batam

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.