RM.id Rakyat Merdeka - Dua orasi ilmiah mewarnai Rapat Luar Biasa Senat dalam rangka Dies Natalis ke-61 Universitas Lampung (Unila), Rabu (23/9/2026). Orasi tersebut menyoroti persoalan hilirisasi ekonomi daerah hingga pentingnya riset kampus menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.
Orasi pertama disampaikan praktisi industri yang juga Wakil Direktur Utama MIND ID, Dr. Dany Amrul Ichdan. Sementara orasi kedua disampaikan Guru Besar Unila Prof. Suharso.
Dany yang merupakan putra daerah Lampung menyoroti stagnasi ekonomi Lampung. Menurutnya, perekonomian daerah masih terjebak dalam fenomena middle income trap atau seperti berlari di atas treadmill.
“Dalam 15 tahun PDRB Lampung hanya naik 3,5 kali, dari Rp150 triliun pada 2010 menjadi Rp523 triliun pada 2025. Pertumbuhan 5,25 persen tertinggi di Sumatra, tapi kontribusi manufaktur stagnan di 17-20 persen. Kelihatannya capek larinya kencang, tapi posisinya di situ-situ saja,” ujar Dany.
Menurut Dany, salah satu akar persoalan tersebut adalah rantai nilai komoditas yang berhenti terlalu awal. Dari total produksi pertanian Lampung yang mencapai Rp190 triliun, baru sekitar Rp20-30 triliun yang masuk ke industri. Sementara sekitar Rp130 triliun lainnya masih dijual dalam bentuk mentah.
Baca juga : PTPN I Undang Investor Garap Hilirisasi Hingga Hospitality
Padahal, Lampung memiliki sejumlah komoditas unggulan nasional. Ubi kayu mencapai 7,9 juta ton dengan nilai Rp10,6 triliun dan menempati peringkat pertama nasional. Pisang bernilai Rp25,3 triliun juga berada di peringkat pertama, sedangkan jagung berada di peringkat ketiga dan kopi robusta di peringkat kedua. Lampung juga memiliki komoditas lada hitam yang dinilai memiliki kualitas terbaik di dunia.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dany menawarkan kerangka DAI, yakni Distinctive, Adaptive, dan Inclusive. Kerangka tersebut diarahkan untuk memperkuat keunggulan daerah, kemampuan beradaptasi, sekaligus memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan masyarakat.
Dari sisi Adaptive, Dany mengapresiasi langkah Pemprov Lampung membangun tiga kawasan industri strategis. Katibung disiapkan sebagai kawasan energi terintegrasi dengan kilang berkapasitas 300 ribu barel per hari serta pengembangan bioetanol jagung yang ditargetkan groundbreaking pada 2027.
Sementara itu, KAIL II dan Rejosari diarahkan menjadi fondasi agroindustri berbasis sorgum dan singkong.
Pada aspek Inclusive, Dany menyoroti masih lemahnya posisi tawar petani. Ia mengapresiasi program Bed Dryer Pemprov Lampung yang telah diwujudkan di Pringsewu.
Baca juga : APHI: Pencegahan Karhutla Harus Menyentuh Akar Masalah
Menurutnya, alat tersebut mampu memangkas waktu pengeringan gabah dari sekitar 15 hari menjadi hanya 10-12 jam. Dengan waktu pengeringan yang lebih singkat, petani memiliki peluang menyimpan hasil panen dan menunggu harga yang lebih baik.
Jika Dany menyoroti pembangunan dari perspektif industri, Prof. Suharso melengkapinya dari sisi perguruan tinggi. Guru Besar Unila tersebut menegaskan, universitas masa depan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dan publikasi ilmiah.
“Masyarakat sekarang tidak hanya bertanya berapa banyak penelitian yang kita hasilkan, tetapi masalah apa yang berhasil kita selesaikan. Ukuran keberhasilan harus bergerak dari academic output menuju academic impact,” tegas Suharso.
Suharso kemudian menempatkan Lampung sebagai Living Laboratory bagi Unila. Hal ini sejalan dengan besarnya peran sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dalam perekonomian daerah.
Pada triwulan III 2025, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 28,38 persen terhadap ekonomi Lampung.
Baca juga : Pemkot Salatiga-BPDP Dorong UKMK Naik Kelas Lewat Hilirisasi Perkebunan
“Lampung bukan hanya lokasi Universitas Lampung, Lampung adalah laboratorium Universitas Lampung. Setiap persoalan daerah adalah research question,” ujarnya.
Suharso mengingatkan, banyak hasil penelitian berhenti pada publikasi dan belum memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Menurutnya, hilirisasi tidak semata-mata berarti komersialisasi, tetapi proses membawa pengetahuan dari laboratorium menuju kehidupan nyata.
Karena itu, diperlukan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan masyarakat agar hasil riset dapat menjawab persoalan di lapangan.
“Universitas kelas dunia bukan hanya yang dikenal dunia, tapi kontribusinya dibutuhkan dunia. Kita membangun pengetahuan dari Lampung, inovasi untuk Indonesia, dan solusi bagi dunia,” tutupnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.