BREAKING NEWS
 

SDM Hebat Harus Bisa Bicara?

Writer : ANGGA PUTRA MAYSA
Editor : UJANG SUNDA
Senin, 12 Oktober 2026 20:19 WIB
Ilustrasi kemampuan berbicara di depan publik. (Gambar: Istimewa)

Ketika membicarakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, banyak orang langsung berpikir tentang pendidikan tinggi, pengalaman kerja, kemampuan menggunakan teknologi, atau kemampuan menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Semua hal tersebut memang penting. Namun, ada satu kemampuan yang terkadang dianggap sederhana, padahal mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan kerja, yaitu kemampuan berkomunikasi.

Pertanyaannya kemudian adalah: apakah SDM yang hebat juga harus pandai berbicara?

Menurut saya, jawabannya adalah iya. Tetapi bukan berarti setiap karyawan harus menjadi seorang pembicara profesional. Kemampuan berbicara yang dimaksud adalah kemampuan menyampaikan ide, menjelaskan pekerjaan, menyampaikan pendapat, berdiskusi, memberikan masukan, maupun melakukan presentasi dengan jelas dan percaya diri.

Di dalam organisasi, seseorang tidak bekerja sendirian. Karyawan harus berinteraksi dengan atasan, rekan kerja, pelanggan, maupun pihak lainnya. Sebagus apa pun kemampuan seseorang dalam mengerjakan tugas, jika ia kesulitan menjelaskan hasil pekerjaannya atau menyampaikan gagasannya, kemampuan tersebut bisa saja tidak terlihat secara maksimal.

World Economic Forum juga menempatkan komunikasi sebagai salah satu kemampuan penting dalam dunia kerja. Komunikasi lisan menjadi semakin relevan karena pekerjaan modern menuntut karyawan untuk berkolaborasi, berdiskusi, memecahkan masalah, dan menyampaikan gagasan kepada orang lain.

Public Speaking Bukan Hanya Berdiri di Depan Banyak Orang

Sebagian orang masih menganggap public speaking hanya berkaitan dengan berbicara di atas panggung, menjadi pembawa acara, memberikan pidato, atau melakukan presentasi di depan banyak orang. Padahal, dalam lingkungan kerja, bentuk public speaking jauh lebih luas.

Ketika seorang karyawan menyampaikan laporan kepada atasannya, sebenarnya ia sedang menggunakan kemampuan berbicara. Ketika seorang anggota tim menyampaikan ide dalam rapat, ia juga sedang melakukan komunikasi lisan. Bahkan ketika seseorang menjelaskan sebuah masalah kepada rekan kerjanya, kemampuan public speaking dan komunikasi tetap dibutuhkan.

Karena itu, public speaking sebaiknya tidak dipandang sebagai kemampuan untuk tampil saja, tetapi sebagai kemampuan menyampaikan pesan agar dapat dipahami oleh orang lain.

Seseorang tidak harus menggunakan bahasa yang rumit agar terlihat pintar. Justru, kemampuan menjelaskan sesuatu yang sulit dengan bahasa sederhana merupakan salah satu bentuk komunikasi yang baik. Pembicara yang baik juga perlu memperhatikan siapa yang menjadi pendengarnya, menggunakan bahasa tubuh yang sesuai, menjaga kontak mata, dan mampu menyesuaikan cara penyampaian dengan situasi.

Baca juga : Kebab Blenger 777 di Jurumudi: Mulai Rp10 Ribu, Bertahan di Tengah Persaingan

World Economic Forum menjelaskan bahwa presentasi yang baik tidak hanya bergantung pada isi materi, tetapi juga fokus pada audiens, cara penyampaian, bahasa tubuh, kemampuan bercerita, serta memberikan waktu kepada audiens untuk memahami poin penting.

Mengapa Public Speaking Penting bagi SDM?

Dalam manajemen SDM, karyawan bukan hanya dipandang sebagai orang yang menjalankan tugas. Karyawan merupakan bagian penting dari organisasi yang mempunyai pengetahuan, ide, pengalaman, dan kemampuan untuk membantu organisasi mencapai tujuan.

Karena itu, perusahaan tidak cukup hanya merekrut orang yang memiliki kemampuan teknis. Perusahaan juga perlu memperhatikan kemampuan interpersonal, termasuk kemampuan berkomunikasi.

Komunikasi yang baik dapat membantu mengurangi kesalahpahaman dalam pekerjaan. Instruksi yang disampaikan dengan jelas akan lebih mudah dipahami. Masalah yang disampaikan dengan baik akan lebih mudah dicari solusinya. Begitu pula dengan ide baru. Ide yang sebenarnya bagus akan lebih mudah mendapatkan perhatian ketika disampaikan secara runtut dan meyakinkan.

International Labour Organization (ILO) juga menekankan pentingnya komunikasi dan kerja sama di tempat kerja. Dalam salah satu programnya, komunikasi dua arah antara pekerja dan manajemen digunakan untuk membangun kepercayaan, keterlibatan, serta mendorong pekerja menyampaikan gagasan untuk memperbaiki pekerjaan.

Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi bukan sekadar kemampuan berbicara, tetapi juga bagian dari bagaimana organisasi membangun hubungan antara manusia di dalamnya.

Masalahnya Bukan Tidak Mampu, tetapi Tidak Berani

Menurut saya, salah satu masalah yang sering terjadi adalah masih banyak orang yang sebenarnya memiliki kemampuan dan ide yang bagus, tetapi tidak percaya diri untuk menyampaikannya.

Ada karyawan yang sangat baik dalam menyelesaikan pekerjaannya, tetapi ketika diminta menjelaskan hasil pekerjaan di depan tim, ia menjadi gugup. Ada pula mahasiswa yang memiliki pengetahuan cukup baik, tetapi kesulitan menyampaikan pendapat ketika melakukan presentasi.

Hal tersebut sebenarnya wajar. Kemampuan berbicara bukan sesuatu yang harus langsung sempurna. Rasa gugup ketika berbicara di depan orang lain dapat terjadi, terutama ketika seseorang belum terbiasa.

Baca juga : Perencanaan SDM di Tengah Perubahan Teknologi: Kebutuhan dan Kesiapan Karyawan

Yang menjadi persoalan adalah apabila rasa takut tersebut membuat seseorang selalu memilih diam.

Dalam dunia kerja, kesempatan terkadang datang melalui komunikasi. Ketika rapat berlangsung, seseorang yang mampu menyampaikan ide dengan baik akan lebih mudah membuat orang lain memahami pemikirannya. Ketika wawancara kerja, kemampuan menjelaskan pengalaman dan kemampuan diri juga menjadi bagian penting. Ketika sudah bekerja, kemampuan menyampaikan laporan, melakukan presentasi, bernegosiasi, dan berdiskusi akan terus digunakan.

Dengan demikian, belajar berbicara sebenarnya bukan hanya mempersiapkan seseorang untuk tampil di depan banyak orang. Public speaking juga mempersiapkan seseorang untuk berani menyampaikan apa yang ia pikirkan.

Public Speaking Bukan Bakat Semata

Ada anggapan bahwa orang yang pandai berbicara memang sudah memiliki bakat sejak lahir. Sementara itu, orang yang pemalu dianggap akan sulit menjadi pembicara yang baik. Menurut saya, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Kemampuan public speaking dapat dilatih dan dikembangkan.

Latihan dapat dimulai dari hal sederhana. Misalnya, membiasakan diri berbicara di depan teman, menyampaikan pendapat dalam diskusi, melakukan presentasi kecil, merekam suara atau video ketika berlatih, kemudian mengevaluasi cara berbicara sendiri.

Hal yang perlu dilatih bukan hanya keberanian berbicara, tetapi juga bagaimana menyusun pesan. Sebelum berbicara, seseorang perlu mengetahui apa yang ingin disampaikan, siapa yang menjadi pendengar, dan apa tujuan pembicaraan tersebut.

Bahkan dalam konteks SDM, perusahaan dapat membantu karyawannya melalui pelatihan komunikasi, diskusi kelompok, mentoring, simulasi presentasi, dan kegiatan yang memberikan kesempatan kepada karyawan untuk berbicara.

ILO sendiri menempatkan pengembangan keterampilan interpersonal dan komunikasi sebagai bagian dari pengembangan soft skills di lingkungan kerja.

Baca juga : Syahrini, Pestapora 2026, dan Nilai yang Tak Bisa Diukur Akuntansi

Artinya, pengembangan SDM seharusnya tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis, tetapi juga memberikan ruang bagi karyawan untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi.

SDM Hebat Bukan yang Paling Banyak Bicara

Namun, perlu dipahami bahwa SDM hebat bukan berarti orang yang paling banyak berbicara.

Orang yang terlalu banyak berbicara tetapi tidak mampu mendengarkan juga belum tentu mempunyai kemampuan komunikasi yang baik. Public speaking yang baik harus diimbangi dengan kemampuan mendengarkan, memahami situasi, menghargai pendapat orang lain, dan memberikan respons yang tepat.

Komunikasi merupakan proses dua arah. Seorang pemimpin yang mampu berbicara dengan jelas tetapi tidak mau mendengarkan karyawannya tentu akan mengalami masalah. Sebaliknya, karyawan yang mampu menyampaikan pendapat sekaligus mendengarkan masukan akan lebih mudah bekerja sama dengan tim.

Karena itu, pengembangan SDM seharusnya menciptakan keseimbangan antara kemampuan berbicara dan kemampuan mendengarkan.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense