RM.id Rakyat Merdeka - Kesenjangan antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan industri menjadi tantangan dalam menyiapkan tenaga kerja yang siap bersaing.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Lembaga Sertifikasi Profesi Universitas Mercu Buana (LSP UMB) melatih 48 calon asesor kompetensi melalui program Pelatihan dan Sertifikasi Asesor Kompetensi Batch 7 pada 26-30 Oktober 2026.
Kegiatan yang bekerja sama dengan LSP BPJS Ketenagakerjaan ini diikuti peserta dari berbagai institusi pendidikan, lembaga sertifikasi profesi, dan sektor industri.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas sertifikasi kompetensi sekaligus menyelaraskan kemampuan lulusan dengan kebutuhan dunia kerja.
Pelatihan dibuka pada Senin (26/10/2026) di Auditorium Prof. Harun Zain, Kampus Universitas Mercu Buana, Meruya, Jakarta Barat.
Wakil Rektor Pembelajaran dan Riset UMB, Dr. Erna Setiany, S.E., M.Si. mengatakan, capaian akademik perlu berjalan seiring dengan penguasaan kompetensi yang dibutuhkan industri.
Menurutnya, nilai akademik yang tinggi belum cukup menjadi satu-satunya bekal bagi lulusan perguruan tinggi untuk memasuki dunia kerja.
Baca juga : UIN KHAS Jember Luncurkan LSP Berlisensi BNSP, Perkuat Daya Saing Lulusan
“Banyak lulusan sarjana yang tinggi IPK, tapi kami mengharapkan lulusan Mercu Buana juga memiliki kompetensi setelah lulus dari Mercu Buana,” ujar Erna dalam pembukaan pelatihan.
Ia menegaskan, keterkaitan antara proses pembelajaran di perguruan tinggi dan standar kompetensi profesional perlu terus diperkuat.
Melalui sertifikasi, penguasaan keterampilan seseorang dapat dinilai berdasarkan skema dan standar yang berlaku.
Dengan demikian, lulusan diharapkan memiliki bekal yang lebih relevan dengan kebutuhan perusahaan sekaligus meningkatkan daya saing di pasar tenaga kerja.
Kurikulum Perlu Selaras dengan Kebutuhan Industri
Komisioner Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Miftakul Azis menilai, embaga sertifikasi profesi memiliki peran penting dalam meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia.
Ia menekankan perlunya penyelarasan kurikulum perguruan tinggi dengan skema kompetensi agar kemampuan lulusan sesuai dengan profil dan kebutuhan pekerjaan yang dituju.
“LSP harus bisa menjawab persaingan tenaga kerja di Indonesia. Kurikulum di perguruan tinggi harus bisa disinkronisasikan dengan Skema Kompetensi sesuai dengan profil lulusan sehingga bisa menjawab mismatch dan berbagai tantangan lainnya bagi lulusan,” kata Miftakul.
Baca juga : BNSP Sambut LSP MPI, Dorong Profesionalisme Kepala Madrasah
Ia juga menilai, LSP UMB telah menerapkan upaya penyelarasan tersebut dan berkontribusi dalam menyiapkan tenaga kerja yang kompeten.
Penyelarasan ini dinilai penting karena kebutuhan industri terus berkembang, sementara lulusan perguruan tinggi dituntut memiliki kemampuan praktis yang dapat diterapkan di lingkungan profesional.
Diikuti Peserta dari Berbagai Sektor
Pelatihan dan Sertifikasi Asesor Kompetensi Batch 7 dibagi menjadi dua kelas. Dalam pelaksanaannya, para peserta didampingi master asesor untuk memperkuat pemahaman dan kemampuan dalam proses asesmen kompetensi.
Sebanyak 48 peserta berasal dari sejumlah institusi, antara lain Universitas Mercu Buana, BPJS Ketenagakerjaan, LSP Perlindungan Data Pribadi, IAIN Pontianak, CLSP Standar Mutu Keamanan Pangan, LSP LPK Petro Safeti Energy, dan SMK Muhammadiyah.
Pembukaan kegiatan turut dihadiri Ketua LSP UMB Haekal Fajri Amrullah, S.I.Kom., M.Sc., serta Kepala Sertifikasi LSP BPJS Ketenagakerjaan Agung Yuniarto.
Keterlibatan peserta dari berbagai sektor menunjukkan bahwa pengembangan asesor kompetensi tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan perguruan tinggi, tetapi juga menyentuh lembaga sertifikasi dan dunia industri.
Asesor memiliki peran penting dalam menilai apakah seseorang telah memenuhi standar kompetensi yang dipersyaratkan dalam suatu skema sertifikasi.
Baca juga : Taman Hujan Produktif, Jurus Baru Atasi Genangan Sambil Panen Pangan
Karena itu, peningkatan kapasitas asesor menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas proses sertifikasi profesi. Saat ini, LSP UMB memiliki 146 asesor aktif.
Melalui pelatihan dan sertifikasi tersebut, LSP UMB berupaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia yang terlibat dalam asesmen, sekaligus memperluas kolaborasi dengan lembaga sertifikasi dan institusi pendidikan.
Penguatan jumlah dan kualitas asesor diharapkan dapat mendukung pelaksanaan sertifikasi sesuai standar profesi, sehingga pengakuan kompetensi tenaga kerja dilakukan secara lebih terarah.
Melalui pengembangan asesor kompetensi, LSP UMB berupaya memperkuat hubungan antara pendidikan tinggi dan kebutuhan industri.
Dengan kompetensi yang terukur, lulusan diharapkan tidak hanya memiliki ijazah dan capaian akademik, tetapi juga keterampilan yang relevan dengan tuntutan pekerjaan.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari langkah untuk mengatasi kesenjangan kompetensi tenaga kerja Indonesia dan mendukung terciptanya sumber daya manusia yang lebih siap menghadapi persaingan dunia kerja.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.