RM.id Rakyat Merdeka - Membangun infrastruktur jaringan bisa menjadi resep manjur pemerintah untuk menggenjot ekonomi digital. Salah satunya, Palapa Ring yang keberadaannya terus dikembangkan.
Demikian diungkapkan Gatot M Manan, Kepala Kantor Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara. Menurutnya, dengan mem bangun infrastruktur jaringan akan menghubungkan Nusantara secara digital.
“Perbaikan perlu dilakukan agar kualitas jaringan merata secara spasial,” ujar Gatot dalam keterangan kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Dia mengatakan, tol jari ngan tak kalah penting untuk jadi konektivitas. Sayangnya, penggunaan serat optik terkendala area ring of fire yang rentan be n cana. “Teknologi VSAT men jadi pilihan yang stabil,” ungkapnya.
Menurutnya, faktor krusial lain adalah terkait data. “Digitalisasi memungkinkan data dikelola sistem. Untuk itu, pengelolaan terintegrasi sangat dibutuhkan. Otoritas data berperan sebagai agregator dari berbagai sumber,” tuturnya.
Baca juga : RI Perkuat Kerja Sama Infrastruktur Dengan Timor Leste
Dia mengungkapkan, bisnis digital mendorong ekonomi inklusif karena usaha kecil terhubung ke pasar tanpa terkendala tempat dan waktu. “Kebijakan berorientasi menyuburkan usaha kecil ini,” kata Gatot.
Gatot mengatakan, di era digital kegiatan ekonomi tidak untuk dikuasai korporasi besar. Melainkan,korporasi menjadi induk satelit plasma Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). “Digitalisasi mengakomodasi kolaborasi usaha besar dan kecil secara mutualistik. Kerja sama pun saling menguntungkan,” ujarnya.
Gatot mengutip pesan Presiden Jokowi di Annual Meeting IMF yang menyebut kini bukan era perang yang saling mengalahkan. Melainkan kolaborasi sinergi yang saling melengkapi. “Digitalisasi dan inklusi keuangan menjadi jawaban agar ekonomi tumbuh secara bottom-up dan berkualitas,” ungkapnya.
Menurutnya, ketidakpastian kini bersumber dari perang dagang. “Perseteruan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump Versus Presiden China Xi Jinping berdampak pada keduanya, berimbas pada semua. Tanpa terkecuali,” katanya.
Menurutnya, mesin ekonomi tersendat karena perang dagang. “Semua negara tumbuh lamban. Indonesia juga tak dapat menghindari perlambatan. Dibutuhkan sumber-sumber pertumbuhan baru.
Baca juga : Bangun Sentra Ekonomi Baru, PGN Perluas Infrastruktur Gas
Kondisi apapun tetap menciptakan peluang,” tuturnya. Para ekonom pun berbagi gagasan di Kongres Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) 2019. Tujuannya, merumuskan resep manjur bagaimana navigasi ekonomi diarahkan di era serba digital ini.
Dia mengatakan, teknologi informasi membuat semuanya serba mudah. “Berbagai disrupsi dipangkas algoritma. Tata niaga rente terhapus teknologi. Digitalisasi memaksa semua bekerja efisien,” ujarnya.
Gatot mengungkapkan, ekonomi digital membuka ruang tanpa batas karena pemenuhan kebutuhan segampang menjentikkan jari. “Semua dilakukan dengan mudah dan cepat. Penjual terhindar dari sewa gerai mahal. Modal utamanya adalah kepercayaan dan kualitas,” tuturnya.
Berkah Dan Musibah
Indonesia didukung mega populasi sebanyak 268 juta. Ini jelas menjadi pasar yang gurih. Sumber Daya Manusia (SDM) yang melimpah menjadi berkah kalau ditopang kapabilitas. Upaya elevasi produktivitas SDM menjadi kunci.
Baca juga : Tinggal 1 Tahun Lagi, Jokowi Minta Infrastruktur PON di Papua Dipercepat
Menurut Gatot, inovasi perlu menjadi budaya. Setiap inventor harus dianggap pahlawan bangsa sekecil apapun temuannya. “Pemerintah perlu menciptakan iklim tersebut. Paten intelektual dimudahkan,” ujarnya.
Menurutnya, SDM yang me limpah pun bisa menjadi musibah. "Populasi besar menjadi pasar bagi produk asing. Ini dikarenakan skala produksi domestik rendah dengan modal terbatas,” tukasnya. [ASI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.