BREAKING NEWS
 

Pengamat: Paksakan BMAD Ubin Keramik, Indonesia Bisa Kehilangan China

Reporter : AHMAD LATHIF ROSYIDI
Editor : OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Rabu, 31 Juli 2024 18:28 WIB
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pengamat Hubungan Internasional (HI) Robi Sugara mengungkapkan dampak buruk bagi hubungan bilateral antara Indonesia-Cina jika memaksakan rencana penerapan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) terhadap produk keramik China.

Menurut Robi, kajian Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) atas ubin keramik asal China yang masih menuai polemik akan menjadi masalah jika tidak disikapi dengan serius oleh pemerintah.

Salah satunya akan menjadi blunder bagi perdagangan dalam negeri dan internasional. Pasalnya, nilai ekspor Indonesia ke China cukup besar.

China, kata Robi, bisa melakukan retaliasi (tindakan balasan) atas produk-produk Indonesia.

“Apalagi kalau kita berbicara komoditas-komoditas strategis pertambangan dan juga perkebunan yang saat ini banyak kita ekspor ke China dan juga komoditas-komoditas hilirisasi, terutama ketakutan dari kami adalah Cina mencoba untuk melakukan retaliasi,” ujar Robi, Rabu (31/7/2024).

Robi, yang juga Ketua Program Studi Hubungan Internasional UIN Jakarta itu mengingatkan, bukan hanya akan mengalami kerugian perekonomian dalam negeri, tapi juga akan kehilangan China sebagai mitra strategis dalam perdagangan internasional.

Baca juga : S&P Naikkan Peringkat Kredit Indonesia Menjadi BBB

"Ini jangan sampai hubungan baik antara Indonesia dan China (yang dibangun) lewat Presiden Jokowi kemudian salah langkah hanya gara-gara ini,” tambahnya.

Dikatakan Robi, Indonesia memiliki kedaulatan untuk menjalankan kebijakan anti dumping.

Namun, ia mengingatkan bahwa China juga bisa membalasnya dengan cara yang lebih kejam yaitu menerapkan tarif 300 persen atas produk Indonesia yang masuk ke China.

“Indonesia melakukan anti dumping sampai 200 persen, bisa jadi China malah 300 persen balasannya bisa jadi begitu,” bebernya.

Robi khawatir kebijakan BMAD bisa membuat China sebagai mitra dagang penting marah kepada Indonesia.

Adsense

Sebab jika melihat data pada tahun 2023 nilai ekspor Indonesia ke China mencapai 64,94 miliar dolar AS atau sekitar 23 persen dari total nilai ekspor.

Baca juga : Menko PMK Banggakan Keberhasilan Indonesia Entaskan Kemiskinan Ekstrem

Hal tersebut, kata Robi, menjadi bukti bahwa Cina merupakan mitra dagang strategis bagi Indonesia.

Maka dari itu, dia mewanti-wanti jika retaliasi dari Cina ini bisa berdampak serius pada semua industri yang bergantung pada ekspor ke negara tersebut.

Lebih tragis lagi, tambah Robi, selain melakukan balasan, China juga bisa saja menarik investasinya dari dalam negeri.

“Jadi tidak sampai di situ dia melakukan balasan yang serupa kemudian investasi yang rencana akan ditanam di Indonesia kemungkinan akan ditahan atau bahkan tidak jadi," ucapnya.

Menurut Robi, saat ini China sudah menjelma menjadi raksasa ekonomi dunia. Ia meyakini Indonesia tidak akan diadukan ke organisasi perdagangan internasional (WTO) sebab tanpa WTO pun China bisa melakukan aksi balasan yang kontan terhadap Indonesia.

“Saya tidak yakin Cina melakukan ya, karena powernya dia jauh lebih kuat, karena tanpa WTO pun dia melakukan aksi balik dengan anti dumping misalkan Indonesia 200 persen, dia 300 persen atas barang-barang masuk dari Indonesia ke China, mau ngapain habis itu investasinya ditarik dari Indonesia misalnya,” ucapnya.

Baca juga : Dirjen Imigrasi Pastikan Tidak Sembarang Orang Bisa Pegang Golden Visa

“Saya kira merepotkan, jadi menurut saya tidak akan memerlukan jasa WTO tetapi power Cina selama ini itu bisa melakukan dengan aksi-aksi balasan yang menurut saya tidak terlalu baik hubungan kedua negara itu,” imbuhnya.

Jangan sampai, kata dia, perlakuan Indonesia ini menyulut perang dagang seperti yang terjadi dengan Amerika.

Sebab itu, untuk saat ini Indonesia harus mengukur diri, dan tidak terlalu frontal mengeluarkan kebijakan yang menyangkut dengan negara lain.

“Hal itu bisa menyulitkan pada positioning narasi perang dagang antara Amerika dan Cina, Indonesia masuk kepada komposisi menjadi bagian dari apa yang juga pernah dilakukan oleh Amerika terhadap Cina itu,” ucapnya.

“Saya kira penting untuk dipertimbangkan kembali kajiannya, meskipun semangatnya baik, semangat untuk memproteksi pengusaha-pengusaha keramik di Indonesia tapi (perlu) kajian yang mendalam,” tukasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense