RM.id Rakyat Merdeka - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkirakan tantangan dan ketidakpastian ekonomi tahun ini tidak lebih mudah dibandingkan tahun 2024. Meski begitu, kinerja perbankan di Tanah Air diyakini tetap menyala.
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar memaparkan sejumlah tantangan tahun ini. Mulai dari pertumbuhan ekonomi global yang terbatas, hingga normalisasi suku bunga kebijakan Amerika Serikat (AS) masih belum mereda.
Dan pada saat yang sama, kata Mahendra, terjadi perbedaan laju pemulihan ekonomi negara-negara industri. Sehingga menimbulkan divergensi pertumbuhan ekonomi setiap negara, yang pada akhirnya memicu capital outflow.
Kondisi geopolitik, menurutnya, menjadi salah satu kontributor utama tantangan prospek ekonomi tahun ini. Trade policy ditentukan oleh aspek politik dibandingkan ekonomi.
Baca juga : DKI Siapkan Database Penjualan Gas Melon
“Ini dikhawatirkan menciptakan fragmentasi global dan menurunkan perdagangan itu sendiri,” terang Mahendra dalam acara Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2025: Penguatan Sektor Jasa Keuangan yang Stabil dan Inklusif untuk Mendukung Program Prioritas Nasional di Jakarta Convention Center (JCC), Selasa (11/2/2025).
Sementara dari dalam negeri, ekonomi Indonesia masih dipengaruhi pada isu struktural. Seperti diperlukan kembali penyerapan tenaga kerja, khususnya di sektor informal. Ditambah lagi daya beli masyarakat, terutama di kelas menengah ke bawah, yang juga masih tertahan.
“Untuk itu OJK terus mendukung strategi transformatif Pemerintah, dalam menghadapi berbagai tantangan di depan,” tegas mantan Wakil Menteri Keuangan ini.
Meski begitu, Mahendra tetap menyakini, berbagai indikator sektor jasa keuangan profit dan permodalan sangat solid. Bahkan likuiditas juga mencukupi, dengan profil risiko yang baik.
Baca juga : Shenina Cinnamon, Dinikahi Angga Di Pulau Dewata
“Perbankan menyalurkan kredit dan pembiayaan senilai Rp 7.8277 triliun sepanjang 2024, atau tumbuh 10,39 persen secara tahunan (year on year/yoy),” sebutnya.
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri ini mengatakan, pertumbuhan kredit tersebut sesuai dengan target yang ditetapkan, atau tumbuh double digit.
Dari data OJK juga disebutkan, rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) bank gross sebesar 2,08 persen dan rasio NPL nett sebesar 0,74 persen.
Sementara kinerja perbankan juga seiring dengan piutang pembiayaan multifinance yang tumbuh 6,92 persen yoy, menjadi Rp 503,43 triliun.
Baca juga : Kawal Demokrasi, Peran Pers Tak Akan Tergantikan
Intermediasi non-konvensional, seperti outstanding pinjaman daring fintech (peer to peer/P2P) lending tercatat sebesar Rp 77,02 triliun, tumbuh sebesar 29,14 persen.
Kemudian industri pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) yang dilakukan oleh perbankan dan perusahaan pembiayaan masing-masing tercatat Rp 22,12 triliun, dan Rp 6,82 triliun atau tumbuh masing 43,76 persen yoy dan 37,6 persen yoy.
Mahendra memastikan, kondisi perbankan di Indonesia saat ini memiliki ketahanan modal yang kuat. Bahkan rasio permodalan yang dimiliki tercatat menjadi yang tertinggi di kawasan.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.