BREAKING NEWS
 

Menakar Ulang Arah Ekonomi Pembangunan Islam di Indonesia

Writer : Ahmad Rifqi Amirullah
Editor : UJANG SUNDA
Jumat, 11 April 2025 17:50 WIB
Festival Ekonomi Syariah (Foto: Dok. BI)

Di tengah derasnya arus globalisasi dan kerentanan ekonomi dunia, banyak negara Muslim, termasuk Indonesia, masih tertatih dalam mencari formula pembangunan ekonomi yang adil dan berkelanjutan. Ketika model ekonomi konvensional yang bertumpu pada pertumbuhan semata tak lagi menjawab tantangan zaman, Islam hadir membawa tawaran paradigma pembangunan yang lebih utuh: menyentuh bukan hanya dimensi materi, tapi juga spiritual, sosial, dan moral.

Namun, pertanyaannya: sejauh mana studi ekonomi pembangunan Islam berkembang di Indonesia? Dan apakah kita sudah cukup serius menggali potensi besar ini?

Jejak Sejarah: Dari Peradaban Islam yang Gemilang ke Era Stagnasi

Tak bisa dipungkiri, Islam pernah menjadi pusat peradaban dunia. Di masa keemasan, para ilmuwan Muslim berjaya bukan hanya dalam bidang agama, tetapi juga dalam sains, teknologi, dan ekonomi. Dunia Barat banyak belajar dari khazanah keilmuan Islam sebelum akhirnya memodifikasi dan mengembangkannya menjadi fondasi peradaban modern mereka.

Namun, sejarah berbalik. Runtuhnya Kekhalifahan Utsmani pada 1924 menjadi salah satu momen yang menandai vakumnya kepemimpinan ekonomi-politik Islam di tingkat global. Sejak itu, banyak negara Muslim menghadapi stagnasi ekonomi yang panjang, termasuk Indonesia. Masalah seperti jebakan pendapatan menengah, ketimpangan sosial, dan ketergantungan impor masih menghantui hingga kini.

Islamisasi Ilmu: Sebuah Jawaban Intelektual atas Tantangan Zaman

Melihat kebuntuan paradigma pembangunan yang didominasi oleh pendekatan sekuler, para pemikir Muslim kemudian menggagas gerakan besar bernama Islamisasi ilmu pengetahuan. Dalam konteks ekonomi, ini berarti menyusun kembali teori dan praktik pembangunan ekonomi dengan berlandaskan nilai-nilai Islam.

Namun, meskipun ide ini mulia, praktiknya belum merata. Studi ekonomi pembangunan Islam cenderung masih terbatas pada topik-topik klasik seperti zakat dan wakaf, sementara aspek strategis seperti pembangunan pertanian, pembiayaan publik, dan perencanaan ekonomi jangka panjang masih belum tergarap maksimal.

Baca juga : Lestari Moerdijat: Kesepakatan Dunia Wujudkan Pembangunan Lebih Inklusif Didukung Demua Pihak

Inilah yang menjadi fokus dari penelitian Rafiq Azzam Al Afif dkk. dalam artikel ilmiahnya. Dengan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dan bibliometrik, mereka memetakan tren, kutipan, dan ruang lingkup masa depan studi ekonomi pembangunan Islam di Indonesia.

Fakta Lapangan: Studi Meningkat, Tapi Masih Tersegmentasi

Temuan utama dari penelitian ini adalah bahwa tren publikasi tentang ekonomi pembangunan Islam meningkat tajam dalam satu dekade terakhir. Jika pada rentang 1986–2017 hanya ada rata-rata dua publikasi per tahun, maka sejak 2018 angka itu melonjak menjadi 11 per tahun. Ini sinyal positif bahwa minat terhadap bidang ini tumbuh signifikan.

Namun, ada catatan penting: mayoritas penelitian masih terfokus pada objek material tertentu seperti zakat, wakaf, dan sumber daya manusia. Sedangkan dimensi pembangunan strategis lainnya belum banyak disentuh.

Melalui pemetaan bibliometrik dengan VOSviewer, peneliti berhasil mengidentifikasi lima ruang lingkup baru yang layak digali lebih dalam untuk memperluas cakrawala studi ekonomi pembangunan Islam.

Lima Ruang Lingkup Baru Ekonomi Pembangunan Islam

Adsense

1. Islamic Finance System Development

Studi-studi terkini mengungkap bagaimana wakaf, zakat, dan sukuk syariah bisa menjadi instrumen penting dalam pembangunan ekonomi. Misalnya, wakaf tunai yang dikombinasikan dengan sukuk dapat menjadi sumber pembiayaan infrastruktur sosial yang berkelanjutan. Sistem keuangan Islam bukan sekadar alternatif, tapi potensi pilar utama pembangunan ekonomi masa depan.

Baca juga : Perang Posmodern Dan Peluang Indonesia Di Era Geopolitik Trump

2. Islamic Sustainable Development

Pembangunan yang mengakar pada nilai-nilai maqashid syariah menjadi agenda utama dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Pendekatan ini tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mencakup keadilan sosial, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan desa. Studi di Desa Ngancar, misalnya, membuktikan bahwa perencanaan ekonomi Islam berbasis masyarakat bisa menjawab tantangan pembangunan desa secara konkret.

3. Islamic Human Development

Pengembangan sumber daya manusia (SDM) dalam Islam tak hanya bertumpu pada aspek akademik dan profesionalisme, tetapi juga pada keselarasan spiritual, moral, dan sosial. Indeks Pembangunan Manusia Islam (I-HDI) menjadi indikator baru yang mengintegrasikan dimensi-dimensi maqashid al-shariah dalam pengukuran kesejahteraan.

4. Islamic Community-Based Development

Konsep pembangunan tak bisa hanya dibebankan pada negara atau sektor swasta. Islam mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam merancang, mengimplementasikan, hingga mengevaluasi pembangunan. Prinsip-prinsip seperti “Panca Jiwa” dari Pondok Gontor menjadi inspirasi model pembangunan berbasis nilai-nilai sosial yang kuat.

5. Islamic Agriculture Development

Indonesia sebagai negara agraris punya peluang besar untuk mengembangkan sektor pertanian berbasis syariah. Pembiayaan syariah di sektor ini masih minim, padahal bisa menjadi solusi untuk ketahanan pangan, ekspor, dan pemerataan kesejahteraan di daerah. Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) misalnya, bisa menjadi sumber dana potensial untuk mendukung pertanian syariah.

Baca juga : Halal Bihalal Idul Fitri Di London: Ribuan Diaspora Indonesia Bersatu

Dari Kajian ke Kebijakan: Saatnya Bergerak Bersama

Hasil penelitian ini menyampaikan pesan penting: ekonomi pembangunan Islam bukan sekadar wacana teoritis. Ia adalah jalan baru yang lebih manusiawi, spiritual, dan berkelanjutan untuk mengatasi tantangan ekonomi nasional.

Namun agar ini benar-benar berdampak, dibutuhkan sinergi yang nyata—antara akademisi, pemerintah, lembaga keuangan syariah, pesantren, hingga masyarakat akar rumput.

Sudah saatnya kita bergerak dari kampus ke komunitas, dari jurnal ke kebijakan. Karena masa depan ekonomi Indonesia bisa jadi ada di tangan ekonomi Islam—asal kita mau menyambutnya dengan serius dan bersama.

________________________________________

🔍 Ingin membahas topik ini lebih dalam? Tinggalkan komentar atau bagikan artikel ini ke rekan-rekan Anda! Mari kita sebarkan semangat ekonomi pembangunan Islam ke seluruh penjuru negeri.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense