RM.id Rakyat Merdeka - Kemacetan parah yang terjadi di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, tepatnya di Regional 2 Cabang NPCT1, pekan lalu, menjadi sorotan publik dan memunculkan kekhawatiran terhadap ketangguhan sistem logistik nasional. Pelabuhan tampak kewalahan dalam menghadapi lonjakan arus barang yang tidak terduga.
Menurut pakar dari Faculty of Engineering BINUS University, Oki Setyandito, permasalahan ini bukan semata-mata pada kurangnya kapasitas fisik pelabuhan. Tetapi lebih pada belum optimalnya manajemen distribusi dan koordinasi lintas terminal di pelabuhan utama Indonesia tersebut.
Baca juga : Priok Macet Parah, INSA Minta Jangan Saling Menyalahkan
“Tata kelola pelabuhan yang efektif tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga sangat ditentukan oleh efisiensi manajemen operasional, integrasi sistem informasi, dan kemampuan koordinasi antar pemangku kepentingan,” ujar Oki, Kamis (24/4/2025).
Dia menjelaskan, pelabuhan seperti Tanjung Priok harus memiliki sistem peak demand management yang Tangguh. Yaitu strategi mitigasi berbasis data untuk mengantisipasi lonjakan arus barang, terutama pada masa-masa sibuk seperti setelah libur panjang. Ia mencontohkan insiden tiga kapal besar yang bersandar bersamaan akibat gangguan cuaca, yang akhirnya menyebabkan antrean panjang karena seluruh beban kerja tertumpuk di satu terminal saja.
Baca juga : Mensos Serahkan Santunan untuk Korban Pohon Tumbang di Pemalang
“Padahal, Tanjung Priok memiliki tujuh terminal utama dengan kapasitas total hingga 7,6 juta TEUs per tahun. Namun, ketika tidak ada sistem distribusi kerja yang proporsional, maka kemacetan jadi tak terhindarkan,” jelasnya.
Oki memberikan lima rekomendasi strategis untuk memperkuat ketangguhan pelabuhan dan mencegah kejadian serupa di masa mendatang:
- Distribusi beban kerja merata ke seluruh terminal untuk menghindari penumpukan di satu titik.
- Optimalisasi sistem penjadwalan digital berbasis data historis, baik untuk kapal maupun truk.
- Penguatan moda transportasi alternatif, khususnya kereta logistik, untuk mengurangi beban jalan raya.
- Pengembangan buffer zone dan dry port di wilayah luar pelabuhan untuk menyebar konsentrasi logistik.
- Kolaborasi lintas institusi, mencakup Pelindo, operator terminal, pemerintah daerah, dan asosiasi logistik.
Baca juga : Megawati Titip Pesan ke Didiet untuk Presiden Prabowo
“Penguatan pelabuhan tidak cukup hanya dengan betonisasi atau penambahan alat berat. Reformasi manajemen dan integrasi teknologi adalah kunci menuju sistem logistik yang tangguh dan berkelanjutan,” tegas Oki.
Ia juga mengingatkan, jika tidak ada perubahan signifikan dalam waktu dekat, kemacetan seperti yang terjadi di Tanjung Priok bisa kembali terulang, dan itu berarti kerugian besar bagi ekonomi nasional. “Ketahanan supply chain dimulai dari pelabuhan. Ini bukan hanya soal efisiensi logistik, tapi juga soal daya saing bangsa,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.