BREAKING NEWS
 

Rampungkan Smelter Baru, Harita Nickel Fokus Efisiensi Berkelanjutan

Reporter & Editor :
FAZRY
Selasa, 29 April 2025 19:12 WIB
Pada Januari 2025, pembangunan smelter feronikel (FeNi) PT Karunia Permai Sentosa (KPS) rampung. (Foto: Harita Nickel)

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel, perusahaan pertambangan dan pemrosesan nikel terintegrasi berkelanjutan, terus berupaya meningkatkan efisiensi operasional.

Pada Januari 2025, pembangunan smelter feronikel (FeNi) PT Karunia Permai Sentosa (KPS) rampung.

Fase pertama smelter berteknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) ini beroperasi penuh pada Maret 2025, berkontribusi pada penjualan lini RKEF Harita Nickel sebesar 43.873 ton kandungan nikel dalam FeNi di kuartal pertama 2025.

Dari lini bisnis pertambangan, Harita Nickel mencatat penjualan bijih nikel sebesar 5,49 juta wet metric ton (wmt) kepada perusahaan afiliasi pada periode yang sama.

Sementara itu, dari segmen High Pressure Acid Leaching (HPAL), perusahaan mencatat total produksi sebesar 30.263 ton kandungan nikel, yang terdiri dari Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sebanyak 19.837 ton dan Nikel Sulfat (NiSO₄) sebanyak 10.426 ton.

Mengacu pada laporan keuangan untuk periode fiskal yang berakhir pada 31 Maret 2025, perusahaan yang beroperasi di Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara ini membukukan pendapatan sebesar Rp 7,13 triliun, laba kotor sebesar Rp 2,10 triliun, serta laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 1,66 triliun.

Baca juga : Pemerintah Fokuskan Pendidikan Dan DTSEN

Namun demikian, kondisi industri nikel masih menghadapi tekanan akibat penurunan harga global selama dua tahun terakhir.

Berdasarkan data dari S&P Global, harga nikel pada 2025 tercatat sebesar USD 15.078 per metrik ton, merupakan titik terendah sejak tahun 2020.

Sepanjang 2024, harga rata-rata nikel tercatat sebesar 15.328 dolar AS per metrik ton, turun 7,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Direktur Keuangan Harita Nickel Suparsin D. Liwan dalam keterangannya menyatakan bahwa kondisi industri saat ini mendorong seluruh pelaku usaha, termasuk Harita Nickel, untuk meningkatkan efisiensi.

Adsense

“Perusahaan terus melanjutkan upaya pengetatan biaya operasional di seluruh unit bisnis, serta fokus menjaga kesehatan keuangan jangka panjang,” ujarnya.

Salah satu strategi operasional yang dijalankan adalah pembangunan pabrik kapur tohor (quicklime) untuk mendukung proses HPAL dan meningkatkan efisiensi biaya bahan baku pendukung.

Baca juga : Niro Granite Raih Sertifikasi ISO 50001, Komit Terhadap Efisiensi Energi & Keberlanjutan

Tantangan eksternal seperti dinamika geopolitik global, ketidakseimbangan produksi, dan regulasi lingkungan yang semakin ketat juga menjadi perhatian industri nikel nasional.

Sebagai respon, Harita Nickel tidak hanya fokus pada efisiensi, tetapi juga pada penerapan strategi keberlanjutan.

Perusahaan telah merampungkan proses audit standar pertambangan internasional Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA), yang menjadi audit pertama di Asia untuk perusahaan nikel terintegrasi.

Selain itu, Harita Nickel sebelumnya telah menyelesaikan audit Responsible Minerals Assurance Process (RMAP) dari Responsible Minerals Initiative (RMI), yang menegaskan komitmen perusahaan terhadap praktik pengadaan nikel yang bertanggung jawab dan sesuai standar internasional.

Perusahaan juga telah menuntaskan Landscape Level Nature Risk Assessment (LNRA) untuk memperkuat pengelolaan lingkungan dan transparansi dalam pengembangan wilayah konsesi baru.

Komitmen terhadap prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (LST) juga dibuktikan melalui penerbitan laporan keberlanjutan perusahaan yang ketiga.

Baca juga : Hari Bumi, Telkom: Langkah Nyata Menuju Masa Depan Berkelanjutan

Direktur Keberlanjutan Harita Nickel Lim Sian Choo menyampaikan, perusahaan mencatat peningkatan penggunaan energi berkelanjutan sebesar 29,8 persen dibandingkan tahun 2023.

Salah satu inisiatif keberlanjutan yang dilakukan adalah penanaman 2.025 bibit mangrove di Pulau Obi serta 1.750 bibit di wilayah Kayoa, Halmahera Selatan, bekerja sama dengan pemerintah setempat pada tahun 2024.

“Ke depan, Harita Nickel akan terus memperkuat komitmennya dalam memaksimalkan efisiensi, mengoptimalkan pemanfaatan aset, serta mengintegrasikan nilai-nilai keberlanjutan dalam manajemen biaya. Termasuk mendorong pengembangan masyarakat dan inovasi teknologi,” pungkas Lim Sian Choo.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense