BREAKING NEWS
 

Danantara & Eramet Kembangkan Bahan Baku Kendaraan Listrik

Rantai Pasok & Hilirisasi Mineral Akan Makin Kuat

Reporter : DWI ILHAMI
Editor : ESTI FITRIA WULANDARI
Senin, 2 Juni 2025 07:05 WIB
Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjah­rir. (Foto: Instagram/pandusjahrir)

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dan Indonesia Investment Authority (INA) menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan tambang asal Prancis, Eramet, untuk mengembangkan ekosistem bahan baku baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV). Langkah ini akan mendorong minat investasi hilirisasi nikel di Tanah Air.

Kerja sama tersebut dicapai pasca kunjungan Presiden Pran­cis Emmanuel Macron bersama Ibu Negara Brigitte Macron ke Indonesia pada 27-29 Mei 2025.

Penandatanganan kerja sama tersebut disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Macron di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu (28/5/2025).

Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjah­rir menjelaskan, kemitraan ini bertujuan mengembangkan eko­sistem bahan baku baterai kendaraan listrik yang berkelanjutan dan terintegrasi di Indonesia.

“Para pihak akan melaku­kan penilaian awal terhadap proyek-proyek potensial, dan menyiapkan peta jalan kolaborasi ke depannya,” kata Pandu dalam keterangan resmi, Kamis (29/5/2025).

Termasuk pengelolaan aset yang berpegang pada prinsip efisiensi, nilai ekonomi. Serta standar internasional dan ESG (Environmental Social Gover­nance) yang ketat.

Dalam kemitraan ini, Danan­tara dan INA akan mengelola pembiayaan jangka panjang un­tuk mendukung pengembangan investasi.

Baca juga : Pemerintah Kerek SDM Berdaya Saing Global

Sementara Eramet, berkon­tribusi melalui keahlian teknis dan pengalaman dalam men­jalankan proyek pertambangan skala besar, yang sesuai standar berkelanjutan internasional.

“Kemitraan ini mencerminkan komitmen ketiga pihak untuk mendorong investasi hilirisasi nikel kelas dunia di Indonesia,” kata Pandu.

Di kesempatan yang sama, Ketua Dewan Direktur INA Rid­ha Wirakusumah menegaskan, kemitraan ini akan memperkuat rantai pasok dan hilirisasi mineral penting di Indonesia.

Menurut Ridha, sinergi ini mencerminkan komitmen kolektif untuk membangun fon­dasi industri bernilai tambah di dalam negeri.

“Serta mendorong masuknya investasi berkualitas ke sektor strategis nasional,” ucap Ridha.

Adsense

Chief Executive Officer (CEO) Eramet Group Paulo Castellari menyebut, sejak 2006 Eramet telah berkontribusi dalam pengembangan industri nikel di Indonesia.

“Eramet menjalankan opera­sional tambang nikel pada 2006 di Weda Bay, Maluku,” tutur Castellari.

Baca juga : Pasien Menumpuk Dan Merasa Ditelantarkan

Pada 2024, lanjut Castellari, Eramet Indonesia juga bermitra dengan Badan Geologi untuk memulai studi dan eksplorasi mineral kritis. Termasuk lithium, untuk mendukung target transisi energi nasional.

“Kami telah meninjau ber­bagai peluang untuk berparti­sipasi dalam rantai baterai EV berbasis nikel di Indonesia, dan menyambut baik inisiatif ini,” terang Castellari.

Terpisah, Pengamat Ekonomi dan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dari Lembaga Manaje­men Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LM FEB-UI) Toto Pranoto menilai, Danantara telah men­jalankan fungsinya untuk fokus pada perolehan pendapatan dari pengelolaan portofolio investasi.

Selain itu, imbuh Toto, Danantara juga perlu menghasilkan sejumlah aset yang bisa dijadi­kan instrumen, atau katalisator pertumbuhan ekonomi di masa mendatang.

“Salah satunya melalui MoU yang terbaru dengan Prancis,” terang Toto kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Toto mengatakan, fokus terse­but menyusul keinginan dan harapan dalam pidato Presiden Prabowo Subianto saat pelun­curan Danantara.

Selanjutnya, Danantra terus berkomitmen dan konsisten dapat membuat program-program strategis yang bisa menarik investor asing.

Baca juga : Gisella Anastasia, Pacar Dekat Sama Anak

“Pemerintah diharapkan pu­nya proposal menarik, sehingga investor global tertarik membiayai berbagai proyek di Indone­sia,” harap Toto.

Jika Danantara dapat ber­fungsi secara optimal di masa mendatang, Toto semakin opti­mistis, lembaga investasi Pemerintah ini mampu mengekor keberhasilan lembaga investasi di berbagai negara.

Seperti Sovereign Wealth Fund (SWF) milik Malaysia, Khazanah. Maupun lembaga Dana Investasi dan Infrastruktur Nasional (NIIF) yang dikelola Pemerintah India.

Toto menyebut, Khazanah, fokus pada konektivitas, tran­sisi energi, dan digitalisasi se­bagai katalisator pertumbuhan ekonomi.

Sementara NIIF, sukses men­coba menarik investor global untuk membiayai proyek infra­struktur.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense