BREAKING NEWS
 

Sudah Antisipasi Rencana Penutupan Selat Hormuz

Pertamina Jamin Pasokan BBM Aman & Terkendali

Reporter : DWI ILHAMI
Editor : ESTI FITRIA WULANDARI
Rabu, 25 Juni 2025 07:05 WIB
Vice President (VP) Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Pertamina (Persero) sudah melakukan sejumlah antisipasi dalam menghadapi rencana penutupan Selat Hormuz oleh Pemerintahan Iran. Perusahaan pelat merah itu telah menyiapkan rute alternatif untuk mengamankan pasokan minyak di dalam negeri.

Pemerintahan Iran ­meng­ancam menutup Selat Hormuz untuk membalas serangan militer Amerika Serikat (AS). Jika benar dilakukan, hal itu meng­ancam ketersediaan ­minyak di dunia sehingga harga­nya berpotensi melambung.

Menyoal ini, PT Pertamina (Persero) sebagai perusahaan negara yang melakukan bisnis utama minyak dan gas mengaku telah melakukan sejumlah langkah antisipasi.

“Pertamina terus memonitor secara intensif dengan situasi di Timur Tengah,” ucap Vice President (VP) Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Selain itu, lanjut Fadjar, Pertamina telah mengantisipasi hal tersebut dengan mengamankan kapal-kapalnya.

Termasuk mengalihkan rute kapal ke jalur aman. Antara lain melalui Oman dan India. “Secara umum, pasokan masih aman dan terkendali,” yakin Fadjar.

Baca juga : Zulhas Yakin Kopdes/Kel Hidupkan Ekonomi Desa

Meski begitu, pengalihan rute untuk menghindari Selat Hormuz akan membuat biaya logistik lebih mahal dan bisa mengerek harga minyak.

Untuk mengantisipasi ke­naikan harga minyak dunia ­imbas perang, Pertamina juga terus berupaya menaikkan produksi minyak siap jual ­(lifting) di dalam negeri.

Pertamina menargetkan lifting sebanyak 748.000 barel per hari pada 2025. “Produk domestik terus kami tingkatkan,” ucapnya.

Antisipasi selanjutnya juga dilakukan anak usaha Pertamina yang bergerak di bidang penga­palan (shipping) dan logistik maritim terintegrasi, yakni PT Pertamina International ­Shipping (PIS).

Corporate Secretary PIS ­Muhammad Baron mengatakan, melalui penguatan protokol keselamatan dan skenario jalur alternatif, PIS memastikan ­pengangkutan energi tetap berjalan.

Adsense

“Pengawasan intensif dilakukan terhadap pergerakan tanker. Terutama di kawasan rawan seperti Terusan Suez, Teluk Arab (Arabian Gulf), dan Selat Hormuz,” jelasnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Baca juga : Perbaiki Layanan & Jangan Kecewakan Nasabah Lagi..

Baron menegaskan, sejalan dengan protokol keamanan opera­sional, PIS memastikan, bahwa seluruh kapal internasional yang aktif beroperasi, dalam kondisi aman.

Dia menjelaskan, pengawasan ketat pun dilakukan melalui koordinasi langsung dengan otoritas maritim setempat, awak kapal dan penggunaan sistem pemantauan real-time yang terintegrasi.

Sebagai langkah antisipatif terhadap potensi gangguan rantai pasok, perusahaan juga telah ­menyiapkan skenario jalur ­alternatif untuk pengangkutan energi.

“Terutama yang dinilai aman dan strategis sebagai titik pengganti jika terjadi eskalasi risiko di jalur utama, seperti Selat Hormuz,” katanya.

Baron menjelaskan, PIS terus memantau secara aktif ­situasi regional dan global, serta ­mengambil langkah cepat demi memastikan keselamatan awak kapal dan kelancaran distribusi energi.

“Kami juga terus berkoordi­nasi secara intens dengan pemilik ­kargo, untuk mengantisipasi per­kembangan terkini,” ungkap­nya.

Baca juga : Digandeng Calon Mertua

Keselamatan dan keberlanjutan pengangkutan energi, tegas Baron, menjadi prioritas utama dalam menjaga ketahanan ­energi nasional. Dan memastikan ­layanan yang andal kepada konsumen global.

Saat ini, puluhan armada tanker PIS beroperasi di ­lebih dari 65 rute internasional yang dioperasikan melalui anak ­usaha PIS. Yakni, PIS Asia Pacific yang memiliki kantor cabang di Singapura, Dubai (Uni Emirat Arab) dan London (Inggris).

Langkah-langkah ini mene­gaskan kesiapan PIS dalam menghadapi ketidakpastian global, serta memperkuat posisinya sebagai penyedia jasa logistik energi yang andal, adaptif, dan tangguh di tengah tantangan geopolitik dunia.

Terkait hal ini, Founder & Advisor ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto menilai, jika konflik meluas dan tidak hanya melibatkan Israel, Iran, dan Amerika Serikat, maka harga minyak rawan melambung.

Namun jika konflik itu masih terbatas, harga minyak perlahan akan kembali turun.

“Kalau terbatas, perlahan harga akan kembali turun ke fundamentalnya di kisaran 60 sampai 70 dolar Amerika Serikat (AS) per barel. Namun kalau meluas, tidak ada yang tahu berapa batas atasnya,” kata Pri di Jakarta, Selasa (24/6/2025). 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense