BREAKING NEWS
 

RI Punya Potensi Simpan Karbon 600 Gigaton, Izin Dan Pasar Perlu Disiapkan

Reporter : FAJAR EL PRADIANTO
Editor : BAMBANG TRISMAWAN
Kamis, 10 Juli 2025 11:24 WIB
Sarasehan Nasional bertema Mendorong Keberlanjutan Industri Hulu Migas untuk Mencapai Kemandirian Energi yang membahas potensi dan tantangan CCS/CCUS di Indonesia. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia disebut memiliki potensi penyimpanan karbon bawah tanah hingga 600 gigaton, terbesar di Asia. Potensi ini dinilai penting untuk mendukung teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau Carbon Capture Storage/Carbon Capture Utilization Storage (CCS/CCUS), sebagai salah satu cara menurunkan emisi gas rumah kaca. Namun, regulasi seperti perizinan dan pasar perlu disiapkan untuk mendorong proyek CCS/CCUS.

Director of Indonesia and Regional CCS Strategic Initiative dari Indonesia CCS Center Diofanny Swandrina Putri menyebut Indonesia punya formasi geologi yang bisa menampung karbon hingga ratusan gigaton. “Kalau di Asia, Indonesia nomor satu. Potensi penyimpanannya 80 sampai 600 gigaton,” kata Diofanny, dalam diskusi Sarasehan Nasional bertema Mendorong Keberlanjutan Industri Hulu Migas untuk Mencapai Kemandirian Energi, di Jakarta, Selasa (8/7/2025).

Diskusi ini merupakan bagian dari Sarasehan Nasional bertema Mendorong Keberlanjutan Industri Hulu Migas untuk Mencapai Kemandirian Energi yang digelar Katadata. Acara dihadiri Chief of Insight, Strategy and Execution SKK Migas Adam Sheridan dan Direktur Mitigasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup Haruki Agustina.

Baca juga : Menteri Ara: Terima Kasih Prabowo Atas Solusi Danantara Untuk Perumahan

Diofanny menambahkan, saat ini ada dua lapisan formasi geologi di Indonesia yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan karbon. Potensi besar ini dinilai sebagai titik awal yang baik untuk pengembangan proyek CCS/CCUS di Tanah Air.

Adsense

Menurut Diofanny, pemanfaatan teknologi ini bisa membantu Indonesia menurunkan emisi karbon hingga 17 persen pada 2060 jika digabungkan dengan strategi penurunan emisi lainnya.

Meski demikian, ia mengakui penerapan CCS/CCUS di Indonesia masih menghadapi banyak tantangan. Hal ini turut diamini Adam Sheridan dari SKK Migas. “Potensi 600 gigaton luar biasa, tapi tantangannya besar. Tidak hanya teknis bawah tanah, tapi juga dari sisi pasar karbonnya,” ujar Adam.

Baca juga : BRI Insurance Sabet 2 Penghargaan Bergengsi Atas Kinerja Dan Tata Kelola Perusahaan

Adam menyebutkan, sejauh ini ada 14 inisiatif CCS/CCUS yang sedang berjalan di Indonesia, tetapi belum ada yang bersifat komersial. “Skala kecil tidak ekonomis jika berdiri sendiri. Kita butuh pendekatan kolektif,” katanya.

Sementara itu, Haruki Agustina menyoroti tantangan dari sisi regulasi. Menurutnya, Indonesia belum memiliki aturan perizinan yang spesifik untuk proyek CCS/CCUS. “Harus didorong lewat kajian, riset, dan analisis. Nanti bisa diajukan ke kami,” ucapnya.

CCS/CCUS diharapkan bisa memperpanjang umur produksi migas, mengurangi jejak karbon, dan berkontribusi terhadap target Net Zero Emission 2060 serta komitmen pengurangan emisi 29 persen pada 2030.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense