RM.id Rakyat Merdeka - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menekankan pentingnya digitalisasi untuk sektor industri manufaktur.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin Masrokhan mengungkapkan, industri manufaktur merupakan kontributor utama dalam perekonomian nasional.
"Kontribusinya terhadap PDB nasional itu sekitar 17,60 persen," ungkap Masrokhan dalam Media Tour bertajuk 'Creating What's Ahead with NEC Indonesia : Accelerating Smart Manufacturing with PIDI 4.0 di Gedung Pusat Industri Digital Indonesia (PIDI) 4.0, Jakarta, Rabu (16/7/2025).
Masrokhan mengatakan, hingga saat ini pengembangan ekosistem industri 4.0 di Indonesia sudah dilakukan bersama 64 mitra pemangku kepentingan yang berasal dari pelaku usaha, asosiasi, hingga institusi pendidikan.
Baca juga : CIMB Niaga Gandeng PLN Dorong Transisi Energi Nasional
Salah satu mitra PIDI 4.0 adalah NEC Indonesia yang mendorong transformasi digital dengan menghadirkan pendekatan Human-Centric Digital Transformation.
Ia mengapresiasi kehadiran dan kontribusi NEC Indonesia sebagai mitra aktif PIDI 4.0. "Solusi smart manufacturing dari NEC yang berbasis data, IoT, dan AI seperti Real Time Monitoring Dashboard, Warehouse Management System, serta Work Process Recognition yang ditampilkan di PIDI 4.0 merupakan bukti nyata kontribusi mereka dalam pengembangan ekosistem Industri 4.0 di Indonesia," kata Masrokhan.
Pada tahun 2025, PIDI 4.0 memfasilitasi NEC Indonesia dan BogorTech untuk melakukan kolaborasi pengembangan teknologi Industrial IoT SmartBox yang berfungsi untuk akuisisi dan visualisasi data dari mesin industri.
Diharapkan kolaborasi ini menghasilkan teknologi yang relevan dengan kebutuhan industri manufaktur di Indonesia.
Baca juga : Pertamina Patra Niaga Dorong Koperasi Binaan Tumbuh Mandiri
Plt. Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan SDM Industri Kemenperin Nila Kumalasari mengakui, digitalisasi industri masih menghadapi sejumlah tantangan.
Salah satunya, banyak pelaku industri yang hanya sebatas menjalankan proyek percontohan (pilot project), tanpa melanjutkan ke tahap implementasi menyeluruh.
"Baru sekitar 21 persen perusahaan industri yang telah menerapkan transformasi digital secara serius. Sisanya masih berada dalam tahap observasi, meski menunjukkan ketertarikan untuk berinvestasi," kata Nila.
Berdasarkan hitungan Kemenperin, jika transformasi digital dijalankan secara menyeluruh, sektor manufaktur berpotensi mendongkrak Produk Domestik Bruto (PDB) nasional hingga 120 miliar dolar AS, sekaligus menciptakan 20 juta lapangan kerja tambahan.
Baca juga : Menarini Indonesia Gandeng YMGI Gelar Diskusi Penyakit Myasthenia Gravis
Nila menambahkan, selain tantangan kesiapan teknologi, pengembangan SDM menjadi kunci agar industri tak hanya berhenti pada pilot project semata.
Sementara, President Director of NEC Indonesia Joji Yamamoto mengatakan, NEC Indonesia hadir untuk menginspirasi lebih banyak pihak uterlibat dalam transformasi digital yang inklusif.
Untuk itu, NEC Indonesia memiliki showcase di Gedung PIDI 4.0. Showcase tersebut menunjukkan bagaimana teknologi dapat diadopsi dengan mempertimbangkan kebutuhan tenaga kerja, efisiensi proses dan keberlanjutan.
"NEC tertarik bekerja sama dengan Kemenperin karena adanya kesamaan visi mengenai akselerasi transformasi industri 4.0 di Indonesia. Seperti NEC, Kemenperin juga menjadikan SDM sebagai faktor penting dalam pengembangan teknologi," ucapnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.