RM.id Rakyat Merdeka - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Indonesia umumnya masih menghadapi berbagai tantangan klasik yang belum terselesaikan secara tuntas. Permasalahan overkapasitas, keterbatasan anggaran, minimnya program pembinaan yang produktif, serta stigma negatif masyarakat terhadap narapidana masih menjadi realitas keseharian. Alih-alih menjadi tempat pembinaan yang mendorong perubahan perilaku dan kemandirian, banyak lapas justru terjebak dalam rutinitas pengawasan tanpa kegiatan bermakna.
Untunglah, belakangan ada sedikit angin segar berembus. Dari Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Bapak Jenderal Pol (Purn) Agus Andrianto. Meski belum lama menjabat, kehadiran beliau cukup terasa. Baik dalam kunjungan, atensi, hingga program PAS yang out of the box. Dirjenpas, Pak Mashudi juga luar biasa. Cukup ngemong, dengan semangat baru mengajak kami berkomitmen untuk mengimplementasikan 13 Program Akselerasi Pak Menteri.
Secara khusus pula, saya berharap, Bapak Menteri dapat mendorong lahirnya kebijakan nasional yang memfasilitasi kemitraan industri dengan lapas. Serta membuka ruang regulasi agar Lapas di seluruh Indonesia dapat menjadi pusat produksi dan ekspor komoditas unggulan berbasis potensi lokal, tanpa bergantung pada anggaran negara.
Sebagai informasi, mayoritas warga binaan itu berusia produktif, yang sesungguhnya memiliki potensi besar untuk dilibatkan dalam kegiatan ekonomi. Namun, potensi ini belum digarap maksimal karena keterbatasan sumber daya dan belum optimalnya sinergi antar-stakeholder. Khususnya antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
Baca juga : Waspada Bahaya Pembajakan Makna Buku Terjemahan Berisi Radikalisme
Dalam situasi seperti itu, munculnya model pembinaan produktif di Lapas Garut juga laksana angin segar, sekaligus terobosan yang layak menjadi rujukan nasional. Lapas Garut bekerja sama dengan perusahaan swasta, Coir Indonesia, untuk memproduksi coir shade (produk olahan sabut kelapa) yang diekspor ke luar negeri. Model ini bukan hanya memberdayakan narapidana, tetapi juga tidak menggunakan anggaran negara sama sekali.
Perusahaan mitra menyediakan seluruh kebutuhan produksi mulai dari bahan baku, sarana prasarana, hingga pelatihan. Lapas hanya menyediakan tempat dan tenaga kerja. Saat ini, kegiatan ini baru mampu menyerap sekitar 200 narapidana karena keterbatasan ruang kerja. Padahal, bila kapasitas diperluas, bisa saja hingga 1.000 warga binaan dilibatkan dalam kegiatan ini.
Kolaborasi ini bukan saja menghidupkan pembinaan kemandirian di dalam lapas, tapi juga memberi dampak nyata bagi perekonomian daerah dan nasional. Jika 500 lapas/rutan melakukan pola serupa dengan masing-masing menyerap 200 narapidana, maka 100 ribu warga binaan terlibat dalam kegiatan produktif setiap hari. Bila ini dilakukan di 34 provinsi, dan tiap bulan satu lapas mengekspor satu kontainer produk, maka tiap bulan ada 34 kontainer dari lapas yang masuk ke pasar ekspor. Sebuah angka yang signifikan bagi kontribusi devisa negara.
Indonesia adalah salah satu negara penghasil kelapa terbesar di dunia. Hampir semua daerah memiliki potensi ini, hanya beda dari sisi volume dan skala usaha. Karena itu, kegiatan pengolahan sabut kelapa seperti yang dilakukan di Lapas Garut sangat mungkin direplikasi di banyak tempat. Tidak hanya menghasilkan devisa, tetapi juga menjadi solusi nyata pembinaan yang bermartabat dan produktif bagi narapidana.
Baca juga : FKPPI Dorong Pembentukan Dewan Keamanan Nasional
Contohnya, di Nusakambangan yang memiliki lahan luas dan beberapa unit lapas, bisa dikembangkan menjadi kawasan industri kelapa terintegrasi. Dimulai dari perkebunan kelapa, hingga industri pengolahan sabut, air, daging, dan batok kelapa. Semua hasilnya bisa diekspor, dan semua prosesnya bisa melibatkan tenaga kerja warga binaan. Bahkan di pulau-pulau terluar, lapas bisa dibangun sebagai basis pertahanan ekonomi dan kedaulatan, sekaligus pusat produksi kelapa dan olahannya.
Dengan model ini, semua bagian dari kelapa memiliki nilai ekonomi. Tidak ada yang terbuang. Cocopeat, coir shade, minyak kelapa, hingga arang batok bisa menjadi produk ekspor bernilai tinggi. Bahkan bisa membantu petani lokal dalam penyediaan media tanam yang murah dan ramah lingkungan.
Apa yang dilakukan Lapas Garut adalah bukti nyata bahwa pembinaan warga binaan dapat memberikan manfaat ganda. Menunjang pemulihan individu dan kontribusi terhadap ekonomi nasional. Model seperti ini membuktikan bahwa kita tidak membutuhkan anggaran besar untuk membangun sistem pembinaan yang bermartabat. Yang dibutuhkan adalah kemauan, kemitraan, dan keberpihakan pada masa depan yang lebih baik.
Sudah saatnya kita memandang lapas bukan sebagai tempat pembuangan, tapi sebagai ladang produktivitas. Karena di balik jeruji, ada potensi besar yang menanti untuk diberdayakan.
Baca juga : Satgas Perlindungan Tenaga Kerja DPR Tampung Aspirasi Serikat Pekerja PT Pos Indonesia
*Penulis adalah Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas II A Garut, Jawa Barat
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.