Dark/Light Mode

Syawal Momen Penguatan Silaturahim dan Perayaan Kearifan Lokal untuk Kebersamaan

Jumat, 11 April 2025 16:34 WIB
Ketua Dewan Syuro Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Prof KH Achmad Satori Ismail (Foto: Istimewa)
Ketua Dewan Syuro Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Prof KH Achmad Satori Ismail (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Berbagai tradisi dan kearifan lokal selalu mewarnai Bulan Syawal setelah Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah di Indonesia. Momentum Idul Fitri, dirayakan umat Muslim di Indonesia dengan berbagai lanskap kebudayaan di berbagai pelosok negeri. Misalnya ada momentum Grebek Syawal di Yogyakarta, Perang Topa di Lombok, Lebaran ketupat, dan lain-lain.

Ketua Dewan Syuro Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Prof KH Achmad Satori Ismail mengungkapkan, maraknya berbagai tradisi itu menjadi bukti keberagaman masyarakat Indonesia dalam merayakan perayaan Idul Fitri. “Inilah bentuk keberagaman identitas bangsa Indonesia yang patut dijaga dan disyukuri. Selama hal tersebut dapat bermanfaat, tidak mengandung unsur kesyirikan takhayul, maka secara agama itu diperbolehkan,” ujar Kiai Satori, di Jakarta, Jumat (11/4/2025). 

Baca juga : Royal Safari Garden Pererat Silaturahmi Lewat Halal Bihalal dan Santunan

Satori mengungkapkan, adanya tradisi mendoakan orang yang sudah meninggal, berziarah, mengundang orang lain untuk silaturahim, berdoa bersama, adalah bentuk keindahan yang harus dijaga, dan dihormati bukan malah untuk dihujat atau dihakimi.

Penulis buku Merajut Tali Temali Ukhuwwah ini menyerukan, momentum Syawal ini dapat diinternalisasi untuk menyempurnakan ibadah-ibadah yang sudah dilakukan secara konsisten di Bulan Ramadan, dengan silaturahim dan saling memaafkan. Seorang Muslim sejatinya memiliki keikhlasan untuk saling memaafkan, maupun kelapangan dada dalam memahami perbedaan. Inilah esensi Syawal dalam menyempurnakan ibadah, yakni untuk menggapai keberuntungan dunia akhirat melalui upaya saling memaafkan. 

Baca juga : Puan Ajak Jadikan Idul Fitri Momen Perkuat Silaturahmi dan Tali Persaudaraan

Dia berpendapat, Syawal adalah momen yang tepat untuk saling introspkesi, saling membersihkan hati dari segala benci, perselisihan, maupun perbedaan, baik perselisihan politik, mahzab maupun perbedaan agama. Hal ini adalah bentuk aktualisasi Ramadan, dengan saling menghormati dam menjaga kepedulian terhadap sesama. Membangun empati tanpa harus melihat identitas suku, ras atau agama.

“Sehingga kita kembali kepada fitrah, bersih, dalam artian jiwa dan jasmani kita bersih,” ucap Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Baca juga : Bamsoet: Jadikan Idul Fitri Momentum Pererat Persaudaraan dalam Keberagaman

“Karena Islam itu rahmat bagi seluruh alam, menjadi kasih sayang dan penebar kasih sayang untuk seluruh alam. Bukan hanya kepada Muslim,” pungkas Kiai Satori.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.