BREAKING NEWS
 

APROBI Dorong Bioenergi Jadi Pilar Indonesia Emas 2045

Reporter : NOVALLIANDY
Editor : BAMBANG TRISMAWAN
Jumat, 18 Juli 2025 17:52 WIB
Seminar Nasional APROBI 2025 menghadirkan pejabat, akademisi, dan pelaku industri membahas masa depan bioenergi Indonesia.

RM.id  Rakyat Merdeka - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) mengadakan Seminar Nasional bertemakan “Peluang dan Tantangan Industri Bioenergi Menyongsong Indonesia Emas 2045” di Jakarta, Kamis (17 Juli 2025). Seminar ini merupakan agenda tahunan APROBI sebagai wadah pertemuan pelaku industri dan akademisi. 

Wakil Ketua Umum Bidang Komunikasi dan Promosi Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) Catra de Thouars mengatakan, acara ini kami adakan sebagai wadah bertukar wawasan dan pengalaman di sektor energi terbarukan. "Dengan antusiasme peserta yang tinggi, seminar ini kini menjadi agenda tahunan,” kata dalam keterangan tertulis, Jumat (18/7/2025).

Catra berharap diskusi hari ini memberi dampak positif bagi kalangan industri, mahasiswa, hingga pembuat kebijakan. Menurut dia, bioenergi akan menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. "Karena itu, kami mendorong pemerintah agar membuat kebijakan yang kondusif untuk menjaga semangat para produsen biofuel dan memperluas program energi hijau yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat," ujarnya. 

Seminar ini terbagi atas dua sesi. Sesi pertama membahas “Percepatan Implemetasi Sustainable Bioenergi dan Tantangannya”. Narasumber yang hadir adalah Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno sebagai keynote speech pertama. Hadir juga Dirjen EBTKE Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi, Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika, dan Direktur Hilirisasi Perkebunan Kementerian Pertanian Kuntoro Boga Andri. 

Dalam kesempatan tersebut, Arif Havas Oegroseno mengungkapkan, strategi diplomasi kali ini akan lebih proaktif dan inklusif, dengan melibatkan peran petani perempuan serta menggandeng kekuatan regional dan global seperti BRICS dan CPOPC serta FAO.

“Kami akan mengedepankan narasi baru dalam diplomasi sawit, termasuk mengangkat peran petani perempuan dari sektor sawit, karet, dan kakao sebagai duta suara keadilan,” ujar Havas.

Baca juga : AS Dorong Pelestarian Warisan Budaya Indonesia Lewat Proyek Koleksi Kita

Havas menyatakan, Indonesia sudah memanfaatkan forum BRICS untuk menggalang solidaritas negara produsen minyak nabati. Indonesia bersama Brasil, sebagai penghasil utama sawit dan kedelai, telah menyepakati pembentukan standar global minyak nabati sebagai tandingan terhadap standar sepihak yang diberlakukan oleh Uni Eropa.

“Indonesia dan Brasil sepakat mendorong deklarasi BRICS agar melawan dominasi EUDR, sekaligus menciptakan standar minyak nabati global yang lebih adil,” jelasnya.

Selain itu, Indonesia juga akan menguatkan posisi tawar lewat Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) dan mendorong pengaruhnya di tingkat FAO. Havas menyoroti bahwa selama ini Indonesia hanya bersikap reaktif terhadap tuduhan LSM atau keputusan sepihak dari Uni Eropa.

“Kita harus hentikan sikap defensif. Tidak bisa lagi hanya menjelaskan setelah dituduh. Kita harus menciptakan narasi, memimpin standar, dan hadir lebih awal di forum-forum negosiasi internasional,” jelasnya.

Adsense

Selain itu, Indonesia juga harus memperluas pasar ke berbagai region seperti Afrika yang meliputi Afrika Selatan, Mesir, Maroko dan lain-lain. Hal yang tidak kalah penting adalah kehadiran industri yang berasal dari Indonesia untuk melakukan investasi perkebunan sawit di Afrika Barat dan Afrika Timur, jadi tidak semata-mata hanya memasarkan berbagai produk turunan kelapa sawit yang diproduksi di Indonesia.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi memberikan apresiasi kepada APROBI dalam mendukung dan mengawal program biodiesel.

Baca juga : Propan Raya Dukung Pelestarian Budaya dan Tradisi di Indonesia

“Saya berterima kasih kepada APROBI yang sejak 2004 terus mengawal program biodiesel. Ini contoh nyata hilirisasi dari hasil riset yang berlanjut ke kolaborasi industri dan akhirnya berjalan berkelanjutan selama 15 tahun lebih,” ungkap Eniya.

“Pak Menteri selalu berpesan, swasembada energi harus menjadi wajah nyata kebijakan energi nasional, bukan sekadar jargon,” ujar Eniya mewakili Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

Menurut dia, bioenergi menjadi kunci transisi, terutama dalam sektor transportasi dan industri. “Pemerintah juga tengah menyusun Permen No. 4 untuk mengatur secara komprehensif pengembangan bahan bakar nabati, mencakup biodiesel, bioetanol, bioavtur, dan hydrotreated plant oil,” jelas Eniya.

“Kita perlu pastikan kesiapan infrastruktur dan pasokan CPO. Secara teori, B50 butuh sekitar 20 juta kiloliter, naik dari kebutuhan saat ini yang sekitar 15 juta. Itu juga harus diperhitungkan, apakah pasokan dan industri sudah siap,” katanya mengenai B50.

“Penerapan B50 mungkin bisa dimulai secara terbatas, misalnya hanya di Jakarta sebagai uji skenario awal. Diskusi bersama pakar dan industri akan terus digelar untuk menyempurnakan roadmap ini,” tambahnya.

Eniya menjelaskan, komposisi FAME untuk B50 masih diperdebatkan. “B50 itu bisa terdiri atas 40% FAME dan 10% hydrotreated vegetable oil (HVO) atau full 50% FAME,” ujar dia.

Baca juga : Selvi Gibran: UMKM Jadi Kekuatan Ekonomi Menuju Indonesia Emas 2045

Jika diasumsikan B50 terdiri atas 50% FAME, kata Eniya, maka kebutuhan FAME mencapai sekitar 20 juta ton atau tambahan alokasi CPO ke biodiesel sekitar 2 juta ton. “Angka ini naik 5 juta ton dari kebutuhan FAME untuk produksi B40 yang sebesar 15 juta ton,” katanya.

Eniya juga menyebut Indonesia membutuhkan lima pabrik biodiesel baru untuk mendukung implementasi B50.

“Kita perlu lima pabrik baru dengan kapasitas besar. Kalau ukur-ukur kapasitasnya 1 juta kl, ya kita perlu lima,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa tiga pabrik saat ini sudah dalam tahap pembangunan, meski tidak merinci lokasinya.

Di sesi kedua, seminar membahas Update Program Bioenergi 2025 dengan lima narasumber yaitu Izmirta Rachman (Ketua Umum APSENDO), Prof. Dr. Ir. I.G.B.Ngurah Makertihartha (Guru Besar Institut Teknologi Bandung), Sayuta Senobua (Ketua Tim Kerja Environment DKKPU Ditjen Perhubungan Udara), Edy Januari (VP Process and Facility PT. Kilang Pertamina Internasional), dan Ernest Gunawan (Sekretaris Jenderal APROBI).

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense