BREAKING NEWS
 

Pertamina Hadirkan PLTS, Kampung Adat Malasigi Papua Kini Mandiri Energi

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Selasa, 5 Agustus 2025 16:19 WIB
Foto: Pertamina

RM.id  Rakyat Merdeka - Alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman dan pertokoan telah menjadi ancaman nyata bagi ketahanan pangan nasional. 

Data Kementerian Pertanian menunjukkan, lebih dari 100 ribu hektare lahan pertanian hilang setiap tahunnya. Dampaknya, produksi padi nasional merosot dari 59,7 juta ton pada 2017 menjadi 54,3 juta ton pada 2022.

Tantangan serupa dihadapi masyarakat Kampung Adat Malasigi, Distrik Klayili, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Komunitas kecil yang terdiri dari 54 orang masyarakat adat Moi Kelim itu menghadapi persoalan keterbatasan infrastruktur, akses air bersih, dan ancaman alih fungsi lahan.

Baca juga : Program Merdeka, BTN Hadirkan KPR Bunga Mulai 2,65 Persen

Menjawab tantangan tersebut, PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina EP Papua Field menghadirkan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bertajuk Desa Energi Berdikari (DEB). Program ini memperkenalkan pemanfaatan energi terbarukan untuk mendorong kemandirian ekonomi, sosial, dan lingkungan di kawasan terpencil.

“Melalui bantuan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pelatihan dari Pertamina, kami kini bisa mengolah air sungai menjadi air bersih. PLTS menggerakkan pompa untuk mengalirkan air dari mata air sejauh 800 meter ke lokasi penyaringan,” ujar Absalom Dominggus Kalami, perwakilan warga Malasigi, Selasa (5/8/2025).

Adsense

Saat ini, masyarakat dapat memperoleh sekitar 15 liter air bersih per dua hari. Selain memenuhi kebutuhan dasar, program DEB juga mengintegrasikan pengelolaan hutan dan aktivitas ekonomi berbasis kearifan lokal. Melalui Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Belempe, warga mengembangkan ekowisata bird watching, agroforestry, pengolahan keripik pisang, hingga kerajinan anyaman noken.

Baca juga : Pertamina Juara 1 Transaksi Di PaDi UMKM 2024

Menurut Absalom, penggunaan PLTS berkapasitas 8,7 kWp dengan baterai 10 kWh telah menghemat biaya pengadaan air bersih hingga Rp36 juta per tahun. Selain itu, PLTS membantu menurunkan emisi karbon sebesar 9,022 ton CO2eq per tahun.

“Dengan adanya PLTS, masyarakat bisa menjalankan usaha baru seperti keripik pisang dan noken. Pendapatan LPHD meningkat dari Rp1 juta menjadi Rp4 juta per bulan, pengangguran menurun, dan sebanyak 58 warga dari kelompok rentan kini bisa berkarya,” ungkap Absalom.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fadjar Djoko Santoso menyatakan, program Desa Energi Berdikari telah diterapkan di 173 lokasi di seluruh Indonesia, dengan 70 persen di luar Pulau Jawa sebagai bentuk pemerataan pembangunan.

Baca juga : Anwar Ibrahim & Persaudaraan Serumpun Melayu Malaysia–Indonesia

“Sebanyak 45 desa di antaranya sudah masuk tahap mandiri. Di Kampung Adat Malasigi, tingkat kepuasan masyarakat terhadap program ini mencapai 90 persen,” jelas Fadjar.

Ia menyebut, DEB di Malasigi memberikan dampak langsung kepada 40 individu dan manfaat tidak langsung bagi 200 warga lainnya. Program ini juga berhasil meraih enam penghargaan serta telah dipublikasikan dalam delapan kanal informasi.

Lebih jauh, Fadjar mengatakan bahwa program ini sejalan dengan visi pemerintahan Prabowo-Gibran, khususnya dalam mewujudkan Asta Cita, yakni kemandirian bangsa dalam hal pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan biru, serta pembangunan desa yang inklusif untuk mengentaskan kemiskinan dan menciptakan lapangan kerja.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense