Dark/Light Mode

Gandeng Dua Perusahaan

Pupuk Indonesia Kebut Transisi Energi Bersih

Selasa, 15 Juli 2025 07:05 WIB
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi. (Dok. PT Pupuk Indonesia)
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi. (Dok. PT Pupuk Indonesia)

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Pupuk Indonesia (Persero) menandatangani dua Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan dua anak usaha PT Energi Mega Persada (EMP) Tbk. Target kerja sama itu, mengamankan pasokan gas untuk menopang produksi dan mempercepat transisi energi bersih.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan, melalui dua MoU strategis tersebut, Pupuk Indo­nesia tidak hanya memperkuat ketersediaan bahan baku.

“Namun juga menjadi en­abler transisi energi bersih untuk mewujudkan swasembada pangan dan industri pupuk yang lebih tangguh, efisien dan berkelanjutan,” ujar Rahmad dalam keterangan yang dikutip, Senin (14/7/2025).

Penandatangan MoU pertama dilakukan oleh Pupuk Indonesia dengan EMP Gebang Limited, selaku Operator pada Wilayah Kerja Gebang, Sumatera Utara.

Melalui penandatanganan ini, Pupuk Indonesia dan EMP Ge­bang Limited akan melakukan kajian, evaluasi dan pertukaran informasi tentang peluang kerja sama pemanfaatan pasokan gas bumi dari Wilayah Kerja Gebang.

Dalam MoU tersebut, Pupuk Indonesia mengkaji kemungkinan pemanfaatan gas milik EMP Gebang, dengan estimasi jumlah penyerahan harian sekitar 100 BBTUD (Billion British Ther­mal Units per Day).

Rahmad membeberkan, Wilayah Kerja Gebang merupakan salah satu potensi pasokan gas domestik jangka panjang yang sangat relevan, dan selaras untuk pengembangan atau revitalisasi pabrik pupuk di Sumatera Utara.

Pasokan gas dari Wilayah Kerja Gerbang, sambung Rah­mad, diharapkan dapat mendu­kung operasional dan rencana revitalisasi pabrik di PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), Aceh.

Melalui nota kesepahaman ini, Pupuk Indonesia akan mendapat dukungan suplai gas dari salah satu blok milik EMP.

“Insya Allah dengan tambahan tersebut, kami bisa banyak melakukan di PIM, termasuk bisa merevitalisasinya,” katanya.

Baca juga : Koperasi Desa Jadi Ujung Tombak Distribusi Beras

Rahmad menekankan, ketersediaan gas sebagai bahan baku utama merupakan faktor krusial dalam memenuhi kebutuhan pu­puk nasional.

Rencana revitalisasi pabrik milik PIM sangat bergantung pada kepastian suplai gas untuk men­jaga keberlanjutan operasional, meningkatkan kapasitas produksi, sekaligus mendorong efisiensi.

“Untuk bisa melakukan revitalisasi pabrik, kami membutuh­kan dukungan suplai gas jangka panjang,” jelasnya.

Sementara, MoU kedua di­lakukan oleh Pupuk Indonesia dengan PT Pema Global Energi (PGE), terkait pemanfaatan emisi CO2 (karbon dioksida)

Lewat Nota Kesepahaman ini, Pupuk Indonesia bersama Pema Global Energi, akan menjajaki peluang kerja sama pengem­bangan Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture Utilization and Stor­age (CCUS) di Wilayah Kerja PGE. Terutama di Lapangan Gas Arun, Lhokseumawe, Aceh untuk produksi blue ammonia.

Rahmad mengatakan, pemilihan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun sebagai lokasi pengembangan CCS dan CCUS, lantaran wilayah tersebut memi­liki potensi besar sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di Aceh.

“Dengan potensi tersebut, kami berharap Aceh menjadi pusat perdagangan clean am­monia dunia,” ucapnya.

Terlebih saat ini, Pupuk Indo­nesia juga tengah menjalin kerja sama dengan perusahaan asal Je­pang untuk mengembangkan hy­brid green ammonia di Aceh.

Rahmad mengungkapkan, pihaknya sedang dalam tahap negosiasi agar fasilitas ammonia bunkering, yang semula direncanakan berada di Singapura, dapat dipindahkan ke Aceh.

“Sehingga tidak hanya mem­produksi clean ammonia, tetapi kami juga bisa menjadikan Aceh menjadi pusat perdagangan du­nia,” ujarnya.

Baca juga : Digosipin Hamil Anak Kembar

Tak hanya itu, penandatangan dua nota kesepahaman ini meru­pakan wujud nyata dukungan Pu­puk Indonesia terhadap visi Asta Cita Pemerintah, dalam mencapai swasembada pangan dan mem­bangun ekonomi hijau, sekaligus mengejar target Nol Emisi (Net Zero Emission/NZE) 2060.

Proyek ini diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat, dan mendorong per­tumbuhan ekonomi di wilayah operasional Pupuk Indonesia.

Pihaknya pun percaya, inisi­atif ini tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan dan industri untuk mewujudkan ke­tahanan pangan nasional.

“Namun juga akan mem­perkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global energi bersih,” pungkas Rahmad.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama & Chief Executive Officer (CEO) EMP Syailendra S Bakrie menyambut positif, dimulainya penjajakan kerja sama pemanfaatan emisi CO2 dan penyediaan gas bumi dengan Pupuk Indonesia.

”Dengan pengembangan fasilitas CCS dan CCUS di Wilayah Kerja PGE ini, kami berharap dapat mendukung rencana Pemerintah mencapai target NZE (Net Zero Emission) pada 2060,” jelas Syailendra.

Sementara, Wakil Direktur Utama & Chief Financial Officer (CFO) EMP Edoardus Ardianto mengatakan, EMP Gebang Limited berkomitmen mendukung kebutuhan bahan baku industri pupuk, dengan memastikan pa­sokan gas bagi Pupuk Indonesia.

Gebang diharapkan dapat memulai produksi gasnya sekitar 40 juta kaki kubik per hari pada 2027.

Produksi gas tersebut, sam­bungnya, diharapkan akan me­ningkat menjadi 100 juta kaki kubik gas per hari pada 2030.

“Pupuk Indonesia merupakan salah satu target market dari gas yang diproduksikan oleh Gebang di masa mendatang,” kata Edoardus.

Baca juga : Kabar Baik dari Washington, Tarif 32 Persen untuk Indonesia Ditunda

Terpisah, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengamini, Pupuk Indonesia memiliki peran dalam mem­percepat transisi energi melalui berbagai inisiatif. Yang juga di­harapkan mampu mencapai ketahanan pangan dan industri pupuk yang lebih berkelanjutan.

Untuk itu, imbuh Fabby, Pu­puk Indonesia berfokus pada pe­manfaatan potensi gas domestik dan revitalisasi pabrik pupuk.

“Serta eksplorasi teknologi penangkapan karbon (CCS/CCUS) untuk mengurangi emi­si,” kata Fabby kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Fabby membeberkan, terdapat empat faktor penting yang perlu diperhatikan untuk mempercepat transisi energi.

Pertama, adalah kebijakan. Menurutnya, harus ada aturan atau kebijakan yang bisa mendukung investasi untuk energi terbarukan.

“Dan juga mengintegrasikan energi terbarukan di dalam sistem energi,” ujar Fabby.

Kedua, Indonesia butuh teknologi memadai. Sebab, teknologi untuk mengkonversi sumber daya energi terbarukan menjadi energi yang bisa dipakai secara langsung, sangat diperlu­kan. Dan ini tidak murah.

“Ketiga, adalah pendanaan, dan keempat, perlunya dukungan serta peran partisipasi masyarakat dan seluruh stake­holder,” tukas Fabby. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.