Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Gandeng Dua Perusahaan
Pupuk Indonesia Kebut Transisi Energi Bersih
Selasa, 15 Juli 2025 07:05 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - PT Pupuk Indonesia (Persero) menandatangani dua Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan dua anak usaha PT Energi Mega Persada (EMP) Tbk. Target kerja sama itu, mengamankan pasokan gas untuk menopang produksi dan mempercepat transisi energi bersih.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan, melalui dua MoU strategis tersebut, Pupuk Indonesia tidak hanya memperkuat ketersediaan bahan baku.
“Namun juga menjadi enabler transisi energi bersih untuk mewujudkan swasembada pangan dan industri pupuk yang lebih tangguh, efisien dan berkelanjutan,” ujar Rahmad dalam keterangan yang dikutip, Senin (14/7/2025).
Penandatangan MoU pertama dilakukan oleh Pupuk Indonesia dengan EMP Gebang Limited, selaku Operator pada Wilayah Kerja Gebang, Sumatera Utara.
Melalui penandatanganan ini, Pupuk Indonesia dan EMP Gebang Limited akan melakukan kajian, evaluasi dan pertukaran informasi tentang peluang kerja sama pemanfaatan pasokan gas bumi dari Wilayah Kerja Gebang.
Dalam MoU tersebut, Pupuk Indonesia mengkaji kemungkinan pemanfaatan gas milik EMP Gebang, dengan estimasi jumlah penyerahan harian sekitar 100 BBTUD (Billion British Thermal Units per Day).
Rahmad membeberkan, Wilayah Kerja Gebang merupakan salah satu potensi pasokan gas domestik jangka panjang yang sangat relevan, dan selaras untuk pengembangan atau revitalisasi pabrik pupuk di Sumatera Utara.
Pasokan gas dari Wilayah Kerja Gerbang, sambung Rahmad, diharapkan dapat mendukung operasional dan rencana revitalisasi pabrik di PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), Aceh.
Melalui nota kesepahaman ini, Pupuk Indonesia akan mendapat dukungan suplai gas dari salah satu blok milik EMP.
“Insya Allah dengan tambahan tersebut, kami bisa banyak melakukan di PIM, termasuk bisa merevitalisasinya,” katanya.
Baca juga : Koperasi Desa Jadi Ujung Tombak Distribusi Beras
Rahmad menekankan, ketersediaan gas sebagai bahan baku utama merupakan faktor krusial dalam memenuhi kebutuhan pupuk nasional.
Rencana revitalisasi pabrik milik PIM sangat bergantung pada kepastian suplai gas untuk menjaga keberlanjutan operasional, meningkatkan kapasitas produksi, sekaligus mendorong efisiensi.
“Untuk bisa melakukan revitalisasi pabrik, kami membutuhkan dukungan suplai gas jangka panjang,” jelasnya.
Sementara, MoU kedua dilakukan oleh Pupuk Indonesia dengan PT Pema Global Energi (PGE), terkait pemanfaatan emisi CO2 (karbon dioksida)
Lewat Nota Kesepahaman ini, Pupuk Indonesia bersama Pema Global Energi, akan menjajaki peluang kerja sama pengembangan Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) di Wilayah Kerja PGE. Terutama di Lapangan Gas Arun, Lhokseumawe, Aceh untuk produksi blue ammonia.
Rahmad mengatakan, pemilihan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun sebagai lokasi pengembangan CCS dan CCUS, lantaran wilayah tersebut memiliki potensi besar sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di Aceh.
“Dengan potensi tersebut, kami berharap Aceh menjadi pusat perdagangan clean ammonia dunia,” ucapnya.
Terlebih saat ini, Pupuk Indonesia juga tengah menjalin kerja sama dengan perusahaan asal Jepang untuk mengembangkan hybrid green ammonia di Aceh.
Rahmad mengungkapkan, pihaknya sedang dalam tahap negosiasi agar fasilitas ammonia bunkering, yang semula direncanakan berada di Singapura, dapat dipindahkan ke Aceh.
“Sehingga tidak hanya memproduksi clean ammonia, tetapi kami juga bisa menjadikan Aceh menjadi pusat perdagangan dunia,” ujarnya.
Baca juga : Digosipin Hamil Anak Kembar
Tak hanya itu, penandatangan dua nota kesepahaman ini merupakan wujud nyata dukungan Pupuk Indonesia terhadap visi Asta Cita Pemerintah, dalam mencapai swasembada pangan dan membangun ekonomi hijau, sekaligus mengejar target Nol Emisi (Net Zero Emission/NZE) 2060.
Proyek ini diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat, dan mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah operasional Pupuk Indonesia.
Pihaknya pun percaya, inisiatif ini tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan dan industri untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional.
“Namun juga akan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global energi bersih,” pungkas Rahmad.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama & Chief Executive Officer (CEO) EMP Syailendra S Bakrie menyambut positif, dimulainya penjajakan kerja sama pemanfaatan emisi CO2 dan penyediaan gas bumi dengan Pupuk Indonesia.
”Dengan pengembangan fasilitas CCS dan CCUS di Wilayah Kerja PGE ini, kami berharap dapat mendukung rencana Pemerintah mencapai target NZE (Net Zero Emission) pada 2060,” jelas Syailendra.
Sementara, Wakil Direktur Utama & Chief Financial Officer (CFO) EMP Edoardus Ardianto mengatakan, EMP Gebang Limited berkomitmen mendukung kebutuhan bahan baku industri pupuk, dengan memastikan pasokan gas bagi Pupuk Indonesia.
Gebang diharapkan dapat memulai produksi gasnya sekitar 40 juta kaki kubik per hari pada 2027.
Produksi gas tersebut, sambungnya, diharapkan akan meningkat menjadi 100 juta kaki kubik gas per hari pada 2030.
“Pupuk Indonesia merupakan salah satu target market dari gas yang diproduksikan oleh Gebang di masa mendatang,” kata Edoardus.
Baca juga : Kabar Baik dari Washington, Tarif 32 Persen untuk Indonesia Ditunda
Terpisah, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengamini, Pupuk Indonesia memiliki peran dalam mempercepat transisi energi melalui berbagai inisiatif. Yang juga diharapkan mampu mencapai ketahanan pangan dan industri pupuk yang lebih berkelanjutan.
Untuk itu, imbuh Fabby, Pupuk Indonesia berfokus pada pemanfaatan potensi gas domestik dan revitalisasi pabrik pupuk.
“Serta eksplorasi teknologi penangkapan karbon (CCS/CCUS) untuk mengurangi emisi,” kata Fabby kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Fabby membeberkan, terdapat empat faktor penting yang perlu diperhatikan untuk mempercepat transisi energi.
Pertama, adalah kebijakan. Menurutnya, harus ada aturan atau kebijakan yang bisa mendukung investasi untuk energi terbarukan.
“Dan juga mengintegrasikan energi terbarukan di dalam sistem energi,” ujar Fabby.
Kedua, Indonesia butuh teknologi memadai. Sebab, teknologi untuk mengkonversi sumber daya energi terbarukan menjadi energi yang bisa dipakai secara langsung, sangat diperlukan. Dan ini tidak murah.
“Ketiga, adalah pendanaan, dan keempat, perlunya dukungan serta peran partisipasi masyarakat dan seluruh stakeholder,” tukas Fabby.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya