Dark/Light Mode

Anwar Ibrahim & Persaudaraan Serumpun Melayu Malaysia–Indonesia

Selasa, 29 Juli 2025 07:11 WIB
Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S. Ag., M.Si
Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S. Ag., M.Si

RM.id  Rakyat Merdeka - Bayangkan seorang kakek di kampung tua Pontianak berbincang lancar dengan cucu jauhnya di Kuala Lumpur, tanpa penerjemah. Bayangkan pula pedagang rendang di Padang, yang rasanya tak beda jauh dengan yang dijual di gang sempit Georgetown. Inilah Indonesia dan Malaysia. Kedua negara yang dipisahkan garis imajiner di peta, namun disatukan oleh sejarah yang jauh lebih tua dari republik mana pun di Asia Tenggara.

Ketika mendengar kata “saudara serumpun”, hati saya selalu bergetar. Bukan karena romantisme kosong, melainkan karena kesadaran mendalam bahwa apa yang terjadi di Malaysia akan bergema di Indonesia, dan sebaliknya. 

Dalam realitas inilah kepemimpinan Datuk Seri Anwar Ibrahim menjadi sangat berarti bukan hanya bagi jutaan rakyat Malaysia, tetapi juga untuk 270 juta warga Indonesia, bahkan masa depan ASEAN.

November 2022 menjadi titik balik. Anwar Ibrahim akhirnya menduduki kursi Perdana Menteri ke-10 Malaysia, setelah perjalanan politik panjang dan berliku. Di bawah kepemimpinannya, diplomasi Malaysia menjadi lebih terbuka, inklusif dan berani menyentuh akar persoalan. Hanya beberapa bulan setelah dilantik, Anwar langsung menjejakkan kaki di Jakarta.

Pertemuan dua pemimpin serumpun ini langsung membuahkan kesepakatan bernilai RM1,16 miliar serta 11 Letter of Intent yang membuka jalur baru kerja sama ekonomi. Perdagangan kedua negara melonjak hampir 30 persen. Isu lama seperti perlindungan pekerja migran dan batas wilayah pun untuk pertama kalinya dibahas dalam kerangka penyelesaian dengan tenggat waktu jelas, bukan janji yang menguap bersama pergantian kabinet.

Baca juga : Tahniah 50 Tahun Majelis Ulama Indonesia

Kedekatan itu tidak hanya berhenti di meja diplomasi. Data pariwisata menunjukkan lonjakan kunjungan warga Indonesia ke Malaysia pascapandemi. Selama Januari-September 2023 saja, tercatat 2,23 juta wisatawan Indonesia melancong ke Malaysia hampir menyamai level pra pandemi. 

Bandara Juanda di Surabaya, kini serasa stasiun kereta. Sembilan kali sehari pesawat terbang ke Kuala Lumpur, belum termasuk jalur ke Johor dan Penang.

Pariwisata, bisnis, bahkan medical tourism menjadi ruang baru interaksi rakyat. Seorang kawan dari Medan berseloroh, ia lebih sering ke Penang ketimbang ke Jakarta. “Mas,” katanya sambil tertawa, “macetnya Medan Plaza lebih gila dari Gurney Plaza!”.  Cerita seperti ini menunjukkan bahwa diplomasi paling jujur adalah pilihan rakyat melalui kaki mereka sendiri.

Era digital turut memperkuat simpul-simpul persaudaraan ini. Tahun 2025, program DEX CONNEX mempertemukan 83 perusahaan teknologi Malaysia dan Indonesia, menghasilkan 26 nota kesepahaman senilai lebih dari RM450 juta. Dari kecerdasan buatan hingga layanan cloud, kerja sama ini telah berevolusi menjadi bentuk baru dari persaudaraan serumpun di era teknologi.

Raksasa Indonesia, seperti Sinar Mas kini menjajaki kolaborasi strategis di Malaysia. Ketika CEO-nya ditanya mengapa memilih Malaysia, jawabannya sederhana,  tapi mengena “Di sini kami tidak merasa asing. Bahasa, budaya, cara berpikir—semuanya dekat di hati.”

Baca juga : MyRepublic Perluas Jangkauan Ke 9 Kota Baru Di Indonesia

Namun, dunia maya kadang menyuguhkan wajah berbeda. Netizen Indonesia dan Malaysia kerap bersitegang soal klaim budaya dari reog, pendet, batik hingga nasi lemak, bahkan sepak bola. Tapi jika kita melihat lebih luas, konflik di internet tidak mencerminkan hubungan dua negara ini secara nyata.

Diplomasi antar pemerintah tetap erat. Anwar Ibrahim memahami dinamika ini. Saat dikritik karena terlalu sering ke luar negeri, jawabannya tegas “Yang bilang saya terlalu sering ke luar negeri tak tahu betapa susahnya kita bawa masuk investasi.” Itu bukan sekadar pembelaan, melainkan pernyataan strategis bahwa diplomasi aktif adalah kerja nyata demi kesejahteraan rakyat.

Indonesia dan Malaysia saling belajar. Indonesia mengagumi ketahanan fiskal Malaysia, layanan kesehatan kelas dunia, dan pengembangan pariwisata medisnya. Sebaliknya, Malaysia melihat Indonesia sebagai teladan hilirisasi industri dari bijih nikel menjadi baterai listrik, dari CPO menjadi biodiesel dan kekuatan pasar domestiknya yang besar. Demokrasi partisipatif Indonesia yang dinamis juga menjadi sumber inspirasi.

Kolaborasi juga kian menguat di sektor strategis seperti kelapa sawit. Melalui Dewan Negara Produsen Minyak Sawit (CPOPC), Indonesia dan Malaysia yang menguasai lebih dari 70 persen pasar sawit dunia bersatu menghadapi regulasi diskriminatif Uni Eropa seperti EUDR. Pertemuan CPOPC di Jakarta baru-baru ini menjadi bukti bahwa diplomasi bukan hanya soal formalitas, tetapi pembelaan terhadap petani kecil dan keadilan global.

Lalu, mengapa dukungan terhadap Anwar Ibrahim penting bagi Indonesia? Karena stabilitas politik Malaysia berdampak langsung pada Jakarta dari perdagangan dan investasi hingga perlindungan jutaan pekerja migran. Malaysia yang stabil di bawah Anwar akan memperkuat ASEAN menghadapi tantangan global, dari Laut China Selatan hingga transisi energi. Mendukung Anwar bukan sekadar mendukung individu, tapi mendukung visi persaudaraan serumpun yang memberi manfaat nyata.

Baca juga : Laga Uji Coba, Persita Cari Keseimbangan Tim Lawan Klub Malaysia

Dunia saat ini tengah dipenuhi ketegangan Amerika dan Tiongkok bersaing, Eropa dilanda krisis energi, Timur Tengah terus bergejolak. Di tengah badai global itu, persaudaraan Indonesia–Malaysia adalah jangkar yang menjaga kapal kita tetap tegak. Sebagaimana pepatah lama berkata “Tak ada laut yang terlalu luas bagi perahu yang berlayar bersama.”

Indonesia dan Malaysia adalah dua perahu yang berasal dari sungai yang sama.  Sungai Melayu yang mengalir dalam jiwa serumpun. Ketika gelombang semakin tinggi, jangkar persaudaraan inilah yang memastikan kita tetap selamat dan bermartabat.

Anwar Ibrahim, dengan visinya tentang Malaysia yang inklusif dan pro rakyat adalah bagian penting dari jangkar itu. Mendukungnya adalah mendukung masa depan yang lebih cerah bukan hanya bagi Malaysia, tetapi juga bagi Indonesia, dan ASEAN sebagai rumah besar bangsa-bangsa Asia Tenggara.

Penulis adalah Guru Besar Hubungan Internasional Busan University of Foreign Studies (BUFS),  Korea Selatan dan Ketua DPP Partai Golkar Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.