BREAKING NEWS
 

Hadapi Ketidakpastian Global

Industri Manajemen Proyek Nasional Dorong Pendekatan Agility

Reporter : HENDRAWAN KOSIM WIJAYA
Editor : OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Jumat, 22 Agustus 2025 10:01 WIB
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pelatihan manajemen proyek di Indonesia kini harus beradaptasi pada perkembangan global yang cepat. Pelatihan manajemen proyek menekankan kemampuan agility, adaptasi, fleksibilitas dan ketangguhan di tengah ketidakpastian kondisi global saat ini.

Hal ini menjadi fokus utama bagi pelatihan manajemen proyek untuk kalangan profesional oleh Dcolearning yang digelar di Jakarta pada 18–22 Agustus 2025.

Mengacu pada standar internasional dari Project Management Institute (PMI) dan difasilitasi oleh salah satu Authorized Training Partner (ATP) PMI di Indonesia, kegiatan ini menekankan pentingnya enterprise agility atau kelincahan sebagai kunci membangun organisasi yang tidak hanya tahan terhadap guncangan, tetapi juga mampu berkembang di tengah perubahan.

Konsep enterprise agility yang diperkenalkan PMI menempatkan organisasi pada posisi “anti-fragile”, tidak sekadar bertahan saat menghadapi krisis, tetapi memanfaatkan setiap tantangan untuk tumbuh.

Pendekatan ini menuntut keterampilan manajemen proyek yang tidak kaku, melainkan adaptif, mampu menghubungkan setiap proyek dengan tujuan strategis organisasi, dan responsif terhadap dinamika global yang terjadi.

Dalam konteks Indonesia, di mana perubahan kebijakan, perkembangan teknologi, dan fluktuasi ekonomi global dapat mempengaruhi arah organisasi dalam waktu singkat, kompetensi kelincahan ini menjadi semakin relevan.

Peserta pelatihan kali ini berasal dari beragam sektor, termasuk perwakilan perusahaan swasta, badan usaha milik negara (BUMN) strategis, serta instansi pemerintah pusat.

Keberagaman ini menciptakan ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman yang memperkaya diskusi, dari tantangan birokrasi di sektor publik hingga praktik efisiensi di dunia korporasi.

Baca juga : Manulife Aset Manajemen Indonesia Gandeng Putera Sampoerna Foundation

Meski latar belakang berbeda, seluruh peserta memiliki kesamaan kebutuhan: menguasai metodologi manajemen proyek yang mampu menjawab tuntutan zaman.

Selama lima hari, para peserta mempelajari kerangka kerja manajemen proyek berdasarkan Project Management Body of Knowledge (PMBOK® Guide), dengan penekanan pada keterkaitan antara pengelolaan proyek dan pencapaian tujuan strategis organisasi.

Metode pembelajaran yang digunakan memadukan teori dengan simulasi, studi kasus, dan diskusi kelompok, sehingga konsep yang diperoleh dapat langsung diterapkan di lingkungan kerja.

Frisca Panjaitan, Business Manager Dcolearning Accoladia Group, salah satu ATP PMI di Indonesia, menjelaskan bahwa penguasaan metodologi saja tidak cukup untuk menjamin keberhasilan proyek.

“Di tengah percepatan perubahan global, seorang project manager harus mampu berpikir strategis, mengantisipasi risiko, dan menyesuaikan pendekatan kerja sesuai situasi. Inilah inti dari organisasi yang agile, mampu beradaptasi tanpa kehilangan arah,” ujarnya di sela-sela kegiatan (20/8/2025).

Setelah mengikuti wokshop ini para peserta juga dapat melanjutkan diri ke proses sertifikasi PMP atau CAPM bila diinginkan tambah Frisca. PMP dan CAPM adalah sertifikasi global yang diakui di seluruh dunia dari PMI.

PMI, dalam artikelnya “Enterprise Agility: The Key to Anti-Fragile Organizations,” menekankan bahwa organisasi yang memiliki agility akan unggul dalam mengelola ketidakpastian, mengurangi risiko kegagalan, dan membuka peluang inovasi.

Adsense

Hal ini dicapai dengan mengintegrasikan kelincahan dalam seluruh siklus proyek, mulai dari perencanaan, eksekusi, hingga evaluasi.

Baca juga : Bangun Papua Dengan Pendekatan Kesejahteraan

Pesan ini menjadi relevan dalam pelatihan kali ini, di mana peserta diajak melihat setiap proyek tidak hanya sebagai tugas yang harus selesai tepat waktu dan sesuai anggaran, tetapi juga sebagai sarana menciptakan nilai tambah bagi organisasi.

Pendekatan yang menekankan agility dan hybrid yang dibahas dalam pelatihan memberikan kerangka kerja yang fleksibel, memungkinkan penyesuaian cepat terhadap perubahan prioritas atau tantangan tak terduga.

Dengan kondisi dunia kerja yang dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti perkembangan kecerdasan buatan (AI), ketegangan geopolitik, dan perubahan pasar, kemampuan ini menjadi salah satu pembeda utama antara organisasi yang stagnan dan yang mampu berkembang.

Bagi peserta dari sektor publik, pemahaman ini menjadi penting untuk meningkatkan efektivitas program pemerintah dan memastikan setiap proyek memiliki dampak nyata bagi masyarakat.

Sementara itu, bagi sektor swasta, metodologi ini dapat meningkatkan daya saing dan mendorong inovasi yang berkelanjutan.

Kesadaran akan pentingnya manajemen proyek yang terhubung langsung dengan tujuan strategis organisasi menjadi salah satu hasil utama yang diharapkan dari kegiatan ini.

Meski pelatihan ini tidak secara khusus membahas topik AI, keterampilan beradaptasi dengan perkembangan teknologi menjadi bagian dari pesan yang dibawa.

Sejalan dengan tren global, AI semakin mempengaruhi cara proyek direncanakan dan dijalankan, mulai dari otomatisasi tugas administratif hingga analisis risiko.

Baca juga : 6 Harapan Fahira Idris dari Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer

Dalam konteks enterprise agility, teknologi ini dapat menjadi katalis untuk mempercepat pencapaian tujuan proyek jika dimanfaatkan secara tepat.

Selain membekali peserta dengan keterampilan teknis, pelatihan juga menekankan aspek soft skills seperti komunikasi, kepemimpinan, dan kolaborasi lintas fungsi.

Hal ini sejalan dengan pandangan PMI bahwa keberhasilan proyek tidak hanya ditentukan oleh proses dan alat, tetapi juga oleh kualitas interaksi antar individu di dalam tim.

Dengan latar belakang peserta yang beragam, pelatihan ini diharapkan menjadi awal dari jejaring profesional yang dapat saling mendukung dalam penerapan praktik yang baik dalam manajemen proyek di sektor masing-masing.

Keberlanjutan dari pembelajaran ini bergantung pada bagaimana peserta mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh untuk mendorong perubahan positif di organisasinya.

Kegiatan ini menegaskan peran manajemen proyek sebagai salah satu pilar penting dalam membangun ketangguhan organisasi di Indonesia.

Di tengah lingkungan yang penuh ketidakpastian, keterampilan ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis.

“Setiap proyek adalah kesempatan untuk menciptakan nilai, dan setiap project manager adalah agen perubahan. Dengan menguasai prinsip-prinsip agile, kita tidak hanya mengelola risiko, tetapi juga memanfaatkan peluang yang muncul dari setiap tantangan,” pungkas Frisca.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense