BREAKING NEWS
 

Insentif BEV Impor Tekan Otomotif Nasional, Gaikindo Minta Keadilan

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Senin, 25 Agustus 2025 22:52 WIB
Foto: DIT/Rakyat Merdeka

RM.id  Rakyat Merdeka - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menilai insentif impor mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) dalam rangka tes pasar memang berhasil mendorong adopsi kendaraan ramah lingkungan di Indonesia. Namun, kebijakan tersebut dinilai menekan kinerja industri otomotif yang sudah lama beroperasi di dalam negeri.

Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, mengungkapkanc, utilisasi industri mobil turun dari 73 persen menjadi 55 persen tahun ini seiring melemahnya penjualan domestik. Kondisi tersebut turut memukul industri komponen, bahkan sebagian perusahaan sudah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Banyak perusahaan komponen mengeluh karena suplai ke pabrikan berkurang. Untung masih ada ekspor, sehingga bisa berjalan. Tapi sebagian sudah melakukan PHK,” ujar Kukuh di Jakarta, Senin (25/8/2025).

Baca juga : BCA Expo 2025 Tawarkan Promo Spesial Hingga Bunga KPR 1,65 Persen

Gaikindo mencatat penjualan mobil domestik terus menurun. Pada 2024, penjualan hanya 865 ribu unit, jauh dibandingkan 1,2 juta unit pada 2014. Tren ini berlanjut pada 2025, di mana penjualan hingga Juli turun 10 persen menjadi 453 ribu unit.

Adsense

Kukuh menilai, penurunan penjualan dipicu melemahnya daya beli masyarakat dan tingginya pajak mobil non-BEV. Di sisi lain, pemerintah memberikan insentif besar untuk BEV impor, meski mobil dalam negeri dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) tinggi—sekitar 80-90 persen—tidak mendapatkan dukungan yang sepadan.

“Pemerintah harus menciptakan keseimbangan industri otomotif. Insentif jangan hanya untuk BEV impor, tetapi juga ICE, HEV, dan industri komponen agar tumbuh bersama,” tegasnya.

Baca juga : Di Momen HUT RI, Menko Polkam Tegaskan Persatuan Nasional Kunci Kemajuan

Ia mengingatkan bahwa pada 2021, pemerintah pernah sukses menggerakkan pasar melalui insentif pajak penjualan atas barang mewah ditanggung pemerintah (PPnBM DTP) untuk mobil entry level rakitan lokal dengan harga Rp 200–400 juta. Skema tersebut terbukti mampu memulihkan pasar dengan cepat setelah pandemi Covid-19.

“Intinya, jangan biarkan pasar mobil turun. Bahkan belakangan muncul isu penjualan mobil Indonesia dikalahkan Malaysia, meski data resminya belum ada,” tambahnya.

Kukuh juga menyoroti tantangan tambahan di sektor kendaraan komersial. Ia menyebut pasar domestik dibanjiri truk impor, mayoritas asal China, yang jumlahnya bisa mencapai 14 ribu unit pada tahun ini.

Baca juga : Terima Menpora, Menhan: Olahraga Nasional Harus Bebas Konflik Kepentingan

Menurut Gaikindo, apabila skema insentif BEV impor terus dipertahankan, keuntungan lebih banyak dinikmati importir, sementara industri otomotif nasional yang telah lama berinvestasi justru tertekan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense