BREAKING NEWS
 

Sandwich Generation Bisa Bernapas dengan Literasi Finansial

Writer : Dr. H. Suripto, S.E., M.Ak
Editor : UJANG SUNDA
Rabu, 24 September 2025 13:31 WIB
Dr. H. Suripto, M.Ak (Foto Doc. Pribadi)

Bayangkan hidup di tengah dua tuntutan besar: membiayai orang tua di masa senja sekaligus menanggung kebutuhan anak-anak yang masih tumbuh. Itulah potret getir yang dialami Sandwich Generation atau generasi sandwich. Mereka berada di posisi terhimpit, bekerja keras mencari nafkah, tapi hasilnya sering hanya cukup untuk menopang dua arah: ke atas (orang tua) dan ke bawah (anak-anak).

Fenomena ini bukan hanya cerita individu, melainkan gambaran realitas sosial ekonomi kita hari ini. Di Indonesia, struktur keluarga masih sangat kental dengan budaya gotong royong dan kewajiban anak menanggung orang tua. Nilai itu mulia, tetapi jika tidak dikelola dengan baik, bisa berubah menjadi beban berkepanjangan.

Pertanyaannya: apakah generasi sandwich ini akan terus “terhimpit” sepanjang hidupnya? Jawabannya, tidak selalu. Dengan bekal literasi finansial yang memadai, generasi ini bisa tetap bernapas lega dan bahkan membuka jalan agar beban ekonomi lintas generasi bisa diputus, atau setidaknya diringankan.

Generasi Sandwich: Antara Cinta dan Tekanan

Generasi sandwich bukan fenomena baru. Istilah ini muncul pertama kali di Amerika pada 1980-an, ketika banyak orang paruh baya harus merawat orang tua yang menua sekaligus anak-anak yang masih membutuhkan biaya. Di Indonesia, kasus ini semakin nyata karena banyak keluarga yang belum siap dengan dana pensiun, asuransi kesehatan, maupun tabungan pendidikan.

Banyak anak muda usia produktif kini harus menanggung biaya orang tua yang tidak punya jaminan hari tua. Di sisi lain, mereka juga punya kewajiban untuk membiayai pendidikan anak. Kondisi ini menciptakan tekanan psikologis dan finansial.

Di media sosial, kita sering membaca curhatan generasi sandwich yang “gaji habis sebelum tanggal muda”. Ada yang harus berutang, ada pula yang rela menunda punya anak demi mengurangi beban. Semua ini menggambarkan betapa peliknya posisi mereka.

Baca juga : Prabowo Gelar Pertemuan dengan Bill Gates, Anugerahkan Bintang Jasa Utama

Namun perlu ditekankan, situasi ini tidak melulu soal beban. Ada rasa cinta dan tanggung jawab yang membuat generasi sandwich bertahan. Mereka tidak ingin orang tua terlantar, juga tidak rela anak-anak tumbuh tanpa bekal pendidikan. Justru karena cinta itu, mereka berjuang keras. Masalahnya, cinta saja tidak cukup. Perlu ada strategi finansial agar perjuangan itu tidak menjerumuskan.

Krisis Finansial yang Mengintai

Banyak riset menunjukkan, tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia masih rendah. BPS pada tahun 2025 mencatat indeks literasi keuangan masyarakat di angka 66,46 persen. Artinya, 33,54 persen masyarakat belum benar-benar paham bagaimana mengelola uang, menabung, berinvestasi, apalagi merencanakan pensiun.

Bagi generasi sandwich, ketidakpahaman ini bisa fatal. Mereka bisa mudah tergiur pinjaman online (pinjol), terjebak cicilan konsumtif, atau tidak punya dana darurat. Akibatnya, ketika ada situasi mendesak orang tua sakit atau anak butuh biaya tambahan semua terasa makin berat.

Fenomena inilah yang menciptakan “lingkaran setan” ekonomi lintas generasi. Orang tua tidak menyiapkan masa pensiun dengan baik, anak akhirnya menanggung. Lalu, anak itu sendiri tidak sempat menabung untuk masa depannya, sehingga kelak juga akan membebani anak-anaknya. Begitu seterusnya. Jika lingkaran ini tidak diputus, Indonesia bisa menghadapi generasi pekerja yang stres, tidak produktif, bahkan rentan mengalami gangguan mental.

Literasi Keuangan: Kunci Melepaskan Jeratan

Solusi utama dari himpitan generasi sandwich adalah literasi keuangan. Melek finansial bukan soal menjadi kaya raya, tapi soal bisa mengelola uang dengan bijak. Ada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan:

  1. Membuat Anggaran Realistis. Banyak generasi sandwich tidak tahu ke mana uangnya pergi. Membuat catatan pemasukan dan pengeluaran sederhana bisa jadi langkah awal penting. Dari sana, terlihat mana yang perlu dipangkas, mana yang bisa ditunda.
  2. Prioritaskan Dana Darurat. Dalam kondisi terjepit, dana darurat adalah penyelamat. Setidaknya sediakan tabungan minimal tiga hingga enam kali pengeluaran bulanan. Ini penting agar tidak selalu bergantung pada utang.
  3. Bijak Berutang. Utang produktif, seperti KPR rumah atau pinjaman modal usaha, masih bisa ditoleransi. Tapi utang konsumtif hanya untuk gaya hidup justru memperberat posisi sandwich.
  4. Asuransi dan Investasi. Asuransi kesehatan bisa mengurangi risiko biaya mendadak. Sementara investasi, sekecil apa pun, bisa menjadi jalan keluar agar uang berkembang. Tak perlu langsung ke saham, reksa dana atau emas bisa jadi pilihan awal.
  5. Edukasi Keluarga. Literasi keuangan bukan hanya tugas individu. Orang tua perlu diberi pemahaman tentang pentingnya menyiapkan hari tua. Anak-anak juga perlu dilatih sejak dini mengelola uang jajan agar kelak tidak mengulang kesalahan serupa.

Baca juga : Tekan PBB Usut Kejahatan Israel

Memutus Lingkaran Setan Ekonomi

Generasi sandwich memang berada di posisi sulit. Tapi mereka juga punya peluang emas: menjadi pemutus mata rantai beban lintas generasi. Caranya, dengan berani mengambil langkah perencanaan jangka panjang.

Misalnya, sambil tetap membantu orang tua, mereka mulai menyisihkan dana pensiun untuk diri sendiri. Atau, sambil membiayai anak, mereka juga mengajarkan pentingnya menabung sejak kecil. Dengan begitu, anak-anak kelak tidak lagi terjebak di posisi sandwich. Budaya gotong royong tetap bisa dijaga, tetapi dengan cara yang sehat. Menolong orang tua itu mulia, membekali anak juga mulia. Namun semuanya perlu keseimbangan agar tidak menjadikan generasi produktif kehabisan tenaga di tengah jalan.

Peran Pemerintah dan Lembaga Keuangan

Tugas mengatasi masalah sandwich generation tidak bisa dibebankan sepenuhnya ke individu. Negara juga punya peran. Pemerintah perlu memperkuat program jaminan sosial, memperluas akses dana pensiun, dan memberikan edukasi finansial yang masif. Lembaga keuangan juga harus proaktif menawarkan produk yang ramah generasi sandwich, seperti tabungan pendidikan dengan bunga kompetitif atau asuransi kesehatan terjangkau. Kampus, sekolah, dan komunitas bisa ikut andil dengan mengajarkan literasi keuangan sejak dini. Jangan menunggu sampai seseorang sudah bekerja baru belajar mengatur uang.

Menjaga Kesehatan Mental

Aspek lain yang sering terlupakan adalah kesehatan mental. Generasi sandwich tidak hanya tertekan secara finansial, tapi juga emosional. Beban mengurus dua arah bisa membuat stres, depresi, bahkan konflik keluarga.

Baca juga : Pacific Paint X Slank Ciptakan Harmonisasi Warna dari Inspirasi Alam Indonesia

Karena itu, penting untuk menjaga keseimbangan hidup. Komunikasi terbuka dengan pasangan dan keluarga perlu dijaga. Jangan ragu berbagi perasaan, meminta bantuan, atau mencari konseling jika diperlukan. Uang bisa dicari, tapi kesehatan mental yang runtuh akan merusak segalanya.

Bernapas Lega di Tengah Himpitan

Generasi sandwich memang nyata adanya, dan banyak di antara kita mungkin sedang mengalaminya. Namun, jangan sampai label “terhimpit” membuat kita menyerah. Dengan literasi finansial yang kuat, generasi ini bisa tetap bernapas, bahkan membuka jalan bagi generasi berikutnya agar hidup lebih ringan.

Kuncinya ada pada kesadaran untuk mengelola keuangan, membangun dana darurat, berinvestasi, dan mendidik keluarga sejak dini. Jika semua dilakukan, generasi sandwich bukan lagi sekadar simbol tekanan, tapi bisa menjadi pahlawan ekonomi keluarga.

Karena pada akhirnya, yang ingin kita wariskan kepada anak-anak bukanlah beban, melainkan harapan. Harapan bahwa mereka bisa tumbuh lebih mandiri, lebih bijak, dan lebih siap menghadapi masa depan. Dengan begitu, lingkaran setan ekonomi lintas generasi bisa kita putus.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense