RM.id Rakyat Merdeka - Permohonan penyertaan modal sebesar Rp 30,31 triliun kepada Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan operasional dan transformasi Garuda Indonesia.
Dukungan ini bukan semata investasi, melainkan bagian dari mandat negara untuk menjaga kedaulatan udara, memperkuat struktur industri penerbangan nasional, memastikan simbol negara tetap hadir dan berdaya saing di pentas internasional.
Analis kebijakan publik Hendri Satrio menilai langkah Danantara bukan sekadar penyelamatan korporasi, melainkan penjagaan kehormatan negara.
“Langkah ini bukan hanya strategis, melainkan juga mencerminkan komitmen terhadap masa depan kebanggaan nasional. Kita tidak memiliki pilihan lain selain memastikan Garuda tetap mengangkasa, lebih maju, lebih kompetitif, dan mampu bersaing secara sehat di tengah industri penerbangan global yang kian dinamis,” ujar Hendri, Jumat (17/10/2025).
Sebagai maskapai nasional, Garuda memikul peran yang jauh melampaui sekadar fungsi komersial. Ia menjadi wajah diplomasi udara Indonesia, membuka akses ke wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), serta menjembatani konektivitas ekonomi, logistik, dan sosial di seluruh penjuru Nusantara.
“Menjaga keberlangsungan Garuda Indonesia berarti menjaga simbol, marwah, dan kedaulatan kita sebagai bangsa,” imbuhnya.
Bisnis penerbangan sendiri bukan usaha yang mudah, bahkan di masa normal. Dalam dua tahun terakhir, sejumlah maskapai dunia tumbang, seperti Jetstar Asia, Air Belgium, Flybe, Viva Air Colombia, dan Voepass Airlines.
Baca juga : Negara Hadir, Pemerintah Targetkan 1.285 Desa Terang di 2025
Fenomena ini membuktikan bahwa dukungan negara terhadap flag carrier sangat krusial, bukan karena profit, tetapi karena peran strategisnya dalam diplomasi, ekonomi, dan citra nasional.
Analis aviasi senior Gatot Rahardjo menekankan bahwa Garuda membutuhkan mitra restrukturisasi yang kuat, bukan hanya dana.
Banyak armada Garuda yang tidak aktif karena keterbatasan biaya perawatan. Dukungan Danantara diharapkan bisa mengaktifkan armada, menambah kapasitas, dan meningkatkan efisiensi.
Liza C. Suryanata dari Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai, suntikan modal Danantara berpotensi memperbaiki struktur keuangan Garuda secara signifikan.
Ekuitas diperkirakan meningkat menjadi 350 juta dolar AS, current ratio mencapai 1,5 kali, dan liabilitas berkurang melalui konversi pinjaman menjadi saham.
Rencana penyertaan modal terdiri dari dua skema: setoran tunai dan konversi pinjaman pemegang saham menjadi saham baru.
Dana ini dialokasikan untuk operasional, perawatan armada, penguatan anak usaha Citilink, ekspansi, dan pelunasan utang bahan bakar.
Baca juga : Menteri ESDM Dan Dirut Pertamina Tinjau Lapangan Sumur Rakyat Musi Banyuasin
Data semester I-2025 menunjukkan tanda pemulihan, pendapatan per armada naik 1,3 persen menjadi 15,88 juta dolar AS.
Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 15 Oktober 2025 menjadi momen penting dalam tahapan restrukturisasi Garuda.
Dalam agenda tersebut, pemegang saham menyetujui susunan manajemen baru yang memperkuat dimensi tata kelola dan profesionalisasi, baik dari sisi kapasitas finansial, operasional, maupun transformasi budaya perusahaan.
Dua nama asing di jajaran direksi, Balagopal Kunduvara (Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko) dan Neil Raymond Mills (Direktur Transformasi), menjadi simbol keseriusan arah baru ini.
CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani menegaskan, penempatan ekspatriat ini bukan kebetulan atau tren semata, melainkan keputusan strategis berbasis analisis kebutuhan dan manfaat jangka panjang.
"Ya memang ini berkaitan tentunya dengan ekspat yang kita tempatkan di dalam Garuda. Ya karena ini kita mau menunjukkan bahwa kita serius,” ungkap Rosan, Kamis (16/10/2025).
Ia menjelaskan, figur-figur tersebut memiliki rekam jejak panjang di maskapai global, seperti Singapore Airlines dan Iberia Airlines. Rosan juga membuka peluang bahwa pendekatan serupa akan diterapkan di sejumlah BUMN lain.
Baca juga : Satu Tahun Pemerintahan Prabowo, Lapangan Kerja Naik Tiga Kali Lipat
“Kita benar-benar analisa bahwa ekspat yang kita bawa ini di BUMN-BUMN itu memang bisa memberikan transfer of technology, knowledge,” ucapnya.
Kebijakan ini sejatinya bukan inisiatif parsial hanya untuk Garuda. Presiden Prabowo Subianto sendiri telah menyatakan bahwa regulasi sudah diubah untuk memberi ruang legal bagi WNA menempati posisi direksi di BUMN.
Dalam pernyataannya, Prabowo menegaskan bahwa reformasi ini bertujuan untuk menghadirkan manajemen BUMN yang profesional, efisien, dan bertaraf internasional.
Pernyataan ini menandai terbukanya babak baru dalam profesionalisme BUMN, yang tidak hanya dilihat dari sisi efisiensi atau laba semata, melainkan dari kemampuan untuk menciptakan standar baru dalam kepemimpinan, kultur kerja, dan tata kelola korporat.
Garuda menjadi pionir dalam eksperimen berani ini, dan waktu akan membuktikan sejauh mana model ini dapat direplikasi secara efektif di sektor-sektor BUMN lainnya.
Inisiatif ini bukan sekadar penyelamatan korporasi, tetapi pilihan strategis sebuah bangsa: memastikan Garuda tetap mengudara sebagai simbol kedaulatan, diplomasi, dan pemersatu Nusantara, agar tak bernasib sama seperti PanAm dan Ansett, simbol negara yang gugur karena negara abai menjaga sayapnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.