Sebelumnya
Likuiditas juga berada pada level aman dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 86,9 persen, Liquidity Coverage Ratio (LCR) 167,4 persen, dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) 142,1 persen.
Kualitas aset pun tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL gross) berada di kisaran 2,0 persen, sementara Loan at Risk (LAR) membaik ke level 10,4 persen.
“Capaian ini mencerminkan keberhasilan BNI menjaga kualitas aset melalui penerapan manajemen risiko yang kuat, dan strategi ekspansi bisnis yang sehat dan prudent,” kata Paolo.
Baca juga : Golkar Rame-rame Kunjungi Pondok Pesantren Al Khoziny
Guna menjaga kualitas aset dan profil risiko bank tetap sehat, perseroan juga terus memperkuat ketahanan keuangannya melalui pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) yang solid dan disiplin.
Hingga akhir kuartal III-2025, CKPN BNI tercatat sebesar Rp 34,7 triliun, dengan rasio cakupan terhadap kredit bermasalah (NPL coverage ratio) mencapai 222,7 persen.
Penguatan cadangan yang dilakukan secara selektif ini, menegaskan komitmen BNI dalam mengantisipasi potensi risiko kredit, serta menjaga ketahanan keuangan yang berkelanjutan.
Baca juga : Bentuk Economic Growth Partnership, RI Dan Inggris Perluas Kolaborasi Ekonomi
“Kami terus memperkuat kualitas portofolio kredit dan menerapkan risk-based provisioning untuk memastikan ketahanan jangka panjang,” kata Paolo.
Pertumbuhan Agresif Digital
Sementara, Direktur Treasury & International Banking Abu Santosa Sudradjat menjelaskan, strategi yang agresif telah menciptakan pertumbuhan yang kuat.
BNI mencatat Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 21,4 persen yoy menjadi Rp 934,3 triliun, dengan CASA (Current Account Saving Account) naik 13,3 persen yoy menjadi Rp 613,4 triliun.
Baca juga : Warga DKI Senang Tiang Monorel Akan Dibongkar
“Porsi dana murah ini memperkuat struktur pendanaan dan menekan biaya dana (cost of fund), dan menjaga profitabilitas tetap sehat,” jelasnya.
Selain peningkatan DPK khususnya CASA, strategi digital transaction banking yang agresif juga menghasilkan pertumbuhan Fee-Based Income (FBI) sebesar 11 persen yoy, dan berkontribusi sebesar 30 persen dari total FBI BNI hingga akhir kuartal III-2025.
Pertumbuhan tersebut banyak didorong oleh akselerasi kanal digital, khususnya aplikasi wondr by BNI, yang mencatat lonjakan pengguna dari 2,8 juta pada September 2024 menjadi 10,5 juta pengguna per September 2025.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.