RM.id Rakyat Merdeka - Pertamina EP Cepu Field Zona 11 Regional 4 (PEP Field Cepu), bagian dari Subholding Upstream Pertamina, terus memperkuat kontribusi nyata terhadap implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG), sekaligus mendukung Asta Cita dalam memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian petani melalui program Pusaka Blora (Pusat Agrikultur dan Organik Pertamina di Kabupaten Blora).
Program ini menjadi bukti kolaborasi antara perusahaan, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menciptakan sistem pangan berkelanjutan yang ramah lingkungan serta bernilai ekonomi tinggi.
Kecamatan Kedungtuban, khususnya Desa Sidorejo, sejak lama dikenal sebagai sentra pertanian. Namun akibat penggunaan pupuk kimia berlebih sejak era Revolusi Hijau tahun 1980-an, kesuburan tanah menurun drastis.
“Pada tahun 2020–2021, satu hektare lahan hanya mampu menghasilkan sekitar dua ton gabah,” ungkap Kepala Desa Sidorejo, Agung Heri Susanto. Melihat kondisi itu, pemerintah desa berinisiatif mempelajari sistem pertanian organik yang telah berhasil diterapkan PEP Field Cepu di Desa Wado, Kedungtuban.
Program Pusaka Blora telah berjalan sejak 2023 dan kini menunjukkan hasil nyata: produktivitas meningkat hingga 6–8 ton per hektare, dan siklus tanam bisa tiga kali setahun.
Baca juga : Pertamina Patra Niaga Dukung Kemandirian Pangan Di Maros
Sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, masyarakat memanfaatkan limbah kotoran ternak dari sekitar desa sebagai bahan baku pupuk organik. Produksi pupuk kini mencapai 5–6 ton per minggu, membantu petani menghemat Rp3–4 juta biaya produksi per musim, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
Kepala desa menambahkan, sebanyak 20 persen dana desa dialokasikan untuk pertanian organik dan sudah dimasukkan dalam RPJMDes agar program ini berkelanjutan serta selaras dengan arah Asta Cita ke-2 di bidang ketahanan pangan. Saat ini, Kelompok Tani Organik Jemari Agung di Sidorejo yang beranggotakan 24 orang telah mengelola 10,4 hektare lahan, sebagian besar di antaranya sudah tersertifikasi organik.
Produk beras organik hasil panen kelompok ini tidak hanya dijual ke masyarakat sekitar, tetapi juga dimanfaatkan untuk mendukung program pemberian makanan tambahan bagi balita, ibu hamil, dan lansia—sejalan dengan semangat SDGs 2 (Tanpa Kelaparan/Zero Hunger) yang mendorong pemenuhan gizi berkelanjutan melalui pangan lokal sehat.
Inovasi hilirisasi juga dikembangkan melalui Hamparan Café, restoran lokal yang menjadi pionir penggunaan beras organik Sidorejo dalam konsep farm-to-table, menciptakan rantai nilai baru dari desa untuk masyarakat luas.
“Program ini tidak sekadar memberi bantuan sesaat, tetapi mengajarkan kami cara untuk mandiri,” tutur Supardi, Ketua Kelompok Tani Jemari Agung, dikutip dari siaran pers, Rabu (5/11/2025).
Baca juga : Hijaukan Hulu, Pertamina Dan KLH Tanam Ratusan Pohon Di Bogor
“Pertanian organik bagi kami adalah bentuk tanggung jawab spiritual terhadap bumi, mengembalikan kesuburan tanah yang dulu rusak agar kembali hidup.”
Apresiasi tinggi datang dari Bupati Blora, Arief Rohman, dalam sambutannya pada Panen Raya Padi Organik binaan PEP Field Cepu di Desa Sidorejo, 20 Oktober 2025.
“Sidorejo kini menjadi salah satu desa percontohan pertanian organik terbesar di Blora dengan luas sekitar 10,4 hektare. Pertanian organik adalah jawaban untuk memulihkan kesuburan tanah, menjaga produktivitas jangka panjang, sekaligus memberi nilai tambah bagi petani,” ujarnya.
Bupati menegaskan, Pemkab Blora akan terus memperkuat dukungan melalui pelatihan, bantuan sarana produksi, dan fasilitasi sertifikasi organik agar produk beras organik Sidorejo dapat menembus pasar nasional. Langkah ini juga sejalan dengan SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab/Responsible Consumption and Production) yang mendorong pengelolaan sumber daya alam secara efisien dan berkelanjutan.
“Kami berharap Pusaka Blora terus berlanjut dan meluas agar Blora benar-benar menjadi Kabupaten Organik,” tegasnya.
Baca juga : Rachmat Gobel Kolaborasikan Gorontalo-Sukabumi Kembangkan Pertanian Kedelai
Pihak Pertamina menilai keberhasilan Pusaka Blora sejalan dengan semangat Asta Cita dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional dan ekonomi hijau.
“Capaian ini merupakan hasil kolaborasi antara perusahaan, pemerintah daerah, hingga desa, serta semangat kelompok tani di Kabupaten Blora. Kami berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Blora dan Pertamina Hulu Energi sebagai Subholding Upstream yang telah mendukung kami, tidak hanya dalam aspek operasi migas, tetapi juga dalam pemberdayaan masyarakat melalui program CSR berkelanjutan—utamanya untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional,” ujar Muhammad Arifin, Direktur Regional 4 Pertamina EP Cepu Field.
Kegiatan Panen Raya di Desa Sidorejo menjadi momentum penting bagi Pertamina untuk memperkuat kolaborasi tiga pilar, pemerintah, perusahaan, dan masyarakat, dalam mendukung Asta Cita Ketahanan Pangan.
Melalui panen raya, kunjungan ke lokasi produksi pupuk organik di Hamparan Resto, serta dialog dengan kelompok tani binaan, Pertamina menegaskan komitmennya yaitu energi yang dihasilkan bukan hanya untuk menerangi Indonesia, menggerakkan mesin dan industri, tetapi juga menumbuhkan kehidupan berkelanjutan bagi masyarakat.
Pusaka Blora kini menjadi simbol transisi menuju masa depan hijau, energi yang menumbuhkan pangan, pangan yang menyehatkan masyarakat, dan masyarakat yang mandiri membangun negeri.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.