RM.id Rakyat Merdeka - Indonesia dan negara penghasil mineral kritis lainnya kini dihadapkan pada peluang baru untuk menambah nilai dari sumber daya mereka. Namun, alih-alih hanya menambang, pengolahan dan pemurnian nikel, kobalt, dan logam tanah jarang menjadi kunci memperkuat posisi dalam rantai pasok global.
Terkait hal ini, Kepala Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol mengatakan, mineral kritis tidak hanya dibutuhkan untuk teknologi energi seperti kendaraan listrik, panel surya, atau turbin angin. Mineral kritis juga banyak digunakan dalam industri manufaktur, pembuatan chip, pertahanan, drone, dan berbagai sektor lainnya.
“Beberapa orang meyakini mineral kritis hanya digunakan untuk teknologi energi. Itu tidak sepenuhnya benar. Mineral ini juga digunakan dalam industri manufaktur, pembuatan chip, pertahanan, drone, dan berbagai sektor lainnya,” ujar Birol di Singapore International Energy Week (SIEW).
Birol memandang, pengolahan dan pemurnian mineral kritis global saat ini masih terkonsentrasi pada sejumlah kecil negara, dengan satu negara di Asia memegang peran dominan. Kondisi ini menempatkan sebagian besar negara penghasil mineral mentah dalam posisi pasif pada rantai nilai global.
Oleh karena itu, menurut Birol, Indonesia dan negara penghasil mineral lainnya perlu mengembangkan kapasitas pengolahan dan pemurnian.
“Negara-negara yang memiliki nikel, logam tanah jarang, kobalt, atau mineral kritis lain, sebaiknya tidak hanya menambangnya. Terpenting adalah mengolah dan memurnikannya,” jelas Birol.
Baca juga : Pengamat: SDM Unggul Jadi Kunci Indonesia Menuju Negara Maju
Dia menekankan, kemampuan pengolahan dan pemurnian mineral kritis akan mendorong kemandirian industri nasional, dan memperkuat ketahanan ekonomi terhadap fluktuasi pasar global.
Sementara itu, Senior Energy Economist di Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) Han Phoumin meyakini, Indonesia berpotensi mengubah kekayaan sumber daya menjadi kemakmuran berkelanjutan.
Pasalnya, mineral kritis kini menjadi “minyak baru” dalam peta geopolitik abad ke-21. Mineral seperti nikel, kobalt, tembaga, lithium, dan logam tanah jarang muncul sebagai komponen penting bagi sejumlah sektor industri.
Phoumin menyatakan, saat ini Indonesia berada tepat di pusat transformasi tersebut. Menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), Indonesia memiliki cadangan nikel sekitar 55 juta ton atau sekitar 42 persen dari cadangan global. Terbesar di dunia. Indonesia juga termasuk dalam 10 besar produsen tembaga dan bauksit.
Untuk keluar dari posisi sekadar pemasok bahan mentah, Indonesia kini telah menerapkan kebijakan hilirisasi. Pemerintah melarang ekspor bijih mentah, membangun lebih dari 30 smelter. Kebijakan ini berhasil menarik investasi asing langsung senilai lebih dari 30 miliar dolar AS atau hampir Rp 500 triliun dengan kurs saat ini (Rp 16.665,8) di sepanjang 2019–2023.
“Kawasan industri seperti Morowali dan Weda Bay menjadi simbol ambisi Indonesia membangun ekosistem manufaktur baterai lengkap, dari tambang hingga perakitan kendaraan listrik,” ucap Phoumin.
Baca juga : Puji Kinerja Polri, TEGAS Jaga Indonesia Harap Polemik Ijazah Berakhir
MIND ID sebagai Holding Industri Pertambangan menegaskan posisinya sebagai ujung tombak nasional dalam mewujudkan visi hilirisasi tersebut. Dengan fokus strategis pada pengembangan nikel secara terintegrasi, demi mengamankan pasokan dan nilai tambah mineral kritis.
Melalui anggota holding, MIND ID memimpin sejumlah proyek raksasa yang bergerak dari pengolahan bijih hingga komponen baterai canggih.
PT Vale Indonesia Tbk (Vale) kini tengah mengakselerasi tiga proyek Indonesia Growth Project (IGP). Sementara PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), agresif membangun ekosistem EV battery nasional. Proyek ini mencakup lima titik strategis di Halmahera Timur (Haltim) yang berfokus pada pemurnian nikel, dan satu proyek hilir kunci di Karawang, Jawa Barat, yang akan memproduksi material katoda untuk baterai kendaraan listrik.
Langkah terintegrasi ini tidak hanya sebatas pemenuhan kebutuhan domestik, tetapi juga sebuah pernyataan geopolitik bahwa Indonesia, melalui MIND ID, bertransisi dari sekadar pemasok komoditas menjadi pemain kunci yang menentukan harga dan standar dalam rantai pasok energi bersih global.
Meski begitu, kelimpahan sumber daya saja tidak dapat menjamin masa depan Indonesia. Tantangan berikutnya adalah mengubah kekayaan mineral menjadi kemakmuran berkelanjutan berbasis aturan.
Phoumin lantas menyoroti tiga imperatif yang perlu diterapkan oleh Indonesia. Pertama, transparansi. Menurutnya, pasar mineral global rentan terhadap asimetri informasi dan volatilitas harga.
Baca juga : Kolaborasi Publik-Swasta Indonesia Hadir Kuat Di Forum G20 Afrika Selatan
“Pendirian ‘Critical Minerals Data Hub’ di bawah WTO atau G20 dapat membantu memantau produksi, pembatasan perdagangan, dan tingkat stok secara real time, sekaligus mencegah penimbunan ekspor,” papar Phoumin.
Kedua, keberlanjutan. Industrialisasi cepat di Indonesia memunculkan tantangan ESG, mulai dari deforestasi hingga smelter berbasis batu bara. Untuk itu, Indonesia harus mengacu pada standar lingkungan dan sosial berbasis OECD, agar tetap kompetitif di pasar teknologi bersih bernilai tinggi.
“Pengembangan sertifikasi ESG nasional dan kerangka pelacakan dapat memperkuat kepercayaan internasional, dan membuka aliran pembiayaan hijau dari mitra seperti EXIM Bank AS dan DFC,” tuturnya.
Ketiga, diversifikasi. Inisiatif seperti Inflation Reduction Act Amerika Serikat dan Minerals Security Partnership membuka peluang kolaborasi di luar FTA tradisional. Compact sektoral antara AS dan Indonesia dapat memperkuat ketahanan rantai pasok dan mendorong investasi.
Phoumin menambahkan, strategi hilirisasi Indonesia juga perlu dipadukan dengan kerja sama global. Transparansi harus mencakup kepatuhan terhadap aturan perdagangan dan investasi yang jelas. Sementara keberlanjutan perlu bergerak menuju transisi terukur, seperti smelter berbasis energi terbarukan dan pengelolaan limbah secara bertanggung jawab.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.