RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah sukses membalikkan arah pergerakan ekonomi. Dari sebelumnya ngerem, sekarang mulai ngegas.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan indikator-indikator yang menunjukkan ekonomi mulai ngegas. Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi 5,04 persen di kuartal III-2025 ditopang sejumlah indikator positif. Di antaranya permintaan domestik, kinerja ekspor, investasi yang resilient, dan menterengnya belanja pemerintah.
Dari komponen pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar Produk Domestik Bruto (PDB) dengan persentase 4,89 persen. Sedangkan investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,04 persen yang mencerminkan optimisme pelaku usaha.
"Selain itu, ekspor meningkat 9,91 persen, dan impor tumbuh lebih rendah hingga memperkuat dampak net ekspor terhadap perekonomian," urai Purbaya, dalam konferensi pers APBN Kita, di Kantor Kementerian Keuangan (Keuangan), Jakarta Pusat, Kamis (20/11/2025).
Konsumsi Pemerintah juga tumbuh signifikan hingga 5,49 persen. Capaian di kuartal III-2025 ini sesuai dengan akselerasi belanja Pemerintah yang terus digenjot Purbaya.
Sebagai perbandingan, pada kuartal II-2025, konsumsi Pemerintah terkontraksi hingga -0,33 persen. Di kuartal I-2025 bahkan lebih ngerem lagi, konsumsi pemerintah justru -1,37 persen.
Baca juga : Ngobrol Ringan Empat Mata, Jokowi-Hsien Loong Perkuat Persahabatan RI-Singapura
Purbaya berharap, belanja Pemerintah akan berdampak lebih terhadap perekonomian di sisa akhir tahun. Dia juga memastikan akan terus memaksimalkan kebijakan ini di kuartal selanjutnya.
"Kalau sebelum-sebelumnya jadi ngerem, sekarang Pemerintah juga ikut ngegas perekonomian. Triwulan ketiga, triwulan keempat pun akan seperti itu," ucap mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ini.
Di kesempatan berbeda, Purbaya bahkan menyebut, ekonomi di kuartal IV akan tumbuh 5,6-5,7 persen. "Saya akan pastikan itu terjadi," tegasnya, pede, dalam acara Ecoverse di Westin Hotel, Jakarta Selatan, Kamis (20/11/2025).
Optimisme itu didukung gebrakan Pemerintah memberikan sejumlah tambahan stimulus ekonomi pada periode Oktober-Desember 2025. Seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT), pemberian diskon tiket perjalanan transportasi selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) sekitar Rp 180 miliar, dan akselerasi program magang yang diberikan kepada lulusan baru dengan estimasi anggaran Rp 1,6 triliun.
"Momentum pertumbuhan ini akan dijaga terus ke depan. Kita akan jalankan mesin fiskal, mesin moneter, dan private sector (sektor swasta)," janji Purbaya.
Bendahara Negara ini menerangkan, salah satu titik balik arah perekonomian nasional dipengaruhi ekspektasi. Sentimen ini dapat mendorong pelaku usaha melakukan ekspansi bisnisnya, begitu juga masyarakat akan terdorong untuk berbelanja.
Baca juga : Prabowo Dapat Banyak “Like”
Ketika diberi amanah menjadi Menkeu, Purbaya langsung berupaya menciptakan ekspektasi ini. "Gimana caranya? Saya berlagak sombong. Berlagak pinter. Memang sombong sama pinter sebetulnya juga sih. Jadi pas. Saya bilang, nggak usah takut. Kita bisa tumbuh lebih baik," tuturnya.
Ekspektasi itu kemudian direalisasikan melalui sejumlah kebijakan. Salah satunya menginjeksi Himbara dengan Rp 200 triliun. Menurutnya, injeksi ini turut memperbaiki perekonomian.
"Setelah itu saya monitor, ada nggak perbaikan di ekonomi? Ternyata kan ada. Penjualan naik, ritel mulai naik, pasar mulai ramai, dan bank-bank sudah menyalurkan kredit," ungkapnya.
Keberhasilan ini diakui Direktur NEXT Indonesia Herry Gunawan. Dia bilang, arah ekonomi mulai rebound. Hal itu ditandai salah satunya oleh pergerakan konsumsi Pemerintah yang tumbuh 5,49 persen pada kuartal III-2025.
Menurutnya, langkah ini sangat positif. Mengingat, konsumsi Pemerintah menjadi salah satu motor penggerak ekonomi. "Kondisinya akan berbeda jika belanja Pemerintah ditahan-tahan, ekonomi juga sulit bergerak," ulas Herry, Kamis malam (20/11/2025).
Herry menerangkan, saat Pemerintah ngerem di kuartal I dan II, perekonomian tidak mendapatkan stimulus dan terasa lesu. Sebaliknya, saat Pemerintah ngegas, ekonomi ikut ngebut.
Baca juga : Perkembangan IKN Semakin Menguat
Dia melanjutkan, pertumbuhan konsumsi Pemerintah ini sangat penting untuk mendorong perekonomian. Terlebih jika belanja tersebut digunakan untuk barang modal, seperti pembangunan infrastruktur. Dengan begitu, sektor swasta turut beraktivitas dari proyek tersebut, banyak tenaga kerja terserap, dan pada akhirnya konsumsi masyarakat berpotensi ikut naik.
Menurutnya, kebijakan Purbaya merealokasi anggaran tak terserap di kementerian/lembaga juga sangat penting. Langkah ini membantu penyerapan anggaran untuk proyek-proyek strategis, tidak didiamkan mengendap di rekening.
"Penyerapan anggaran yang maksimal itu membuat pengelolaan anggaran menjadi lebih efisien. Manfaatnya juga sangat besar melalui efek pengganda tadi," terang Herry.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.