BREAKING NEWS
 

TKDN Tinggi, Mobil Hybrid Produksi Lokal Layak Dapat Insentif Lebih

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Senin, 24 November 2025 10:38 WIB
Peluncuran Toyotq Veloz Hybrid di GJAW, Jumat (21/11/2025). (Foto: Aditya/Rakyat Merdeka)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tengah merancang usulan insentif untuk industri otomotif yang memiliki efek berganda (multiplier effect) besar bagi perekonomian.

Pada tahap ini, pemerintah disarankan melanjutkan dan memperkuat pemberian insentif khusus bagi mobil hybrid yang diproduksi secara lokal dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) tinggi, guna mendukung pengembangan industri otomotif ramah lingkungan di Indonesia.

Saat ini, mobil hybrid atau hybrid electric vehicle (HEV) mendapatkan insentif diskon pajak penjualan barang mewah (PPnBM) 3 persen yang akan habis pada akhir tahun. Insentif ini dinilai relatif jauh lebih kecil dibandingkan mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) yang memperoleh insentif pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) 10 persen serta PPnBM 0 persen untuk produksi lokal.

BEV juga tidak dikenakan pajak daerah, yakni pajak kendaraan bermotor (PKB) dan bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB). Alhasil, BEV rakitan lokal yang memenuhi syarat TKDN hanya membayar pajak 2 persen. Sementara itu, HEV tetap membayar PPN, BBNKB, dan PKB dengan tarif normal serta terkena opsen pajak.

Bahkan, BEV impor dalam skema tes pasar diberi insentif pembebasan bea masuk (BM) impor sebesar 50 persen, sehingga hanya terkena pajak 12 persen dari seharusnya 77 persen. Insentif ini akan berakhir pada akhir 2025.

Struktur pajak yang timpang ini dinilai perlu dievaluasi demi membangkitkan industri otomotif, yang mencatat penurunan penjualan domestik sebesar 10,6 persen per Oktober 2025. Perluasan insentif ke mobil bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE) juga patut dipertimbangkan, mengingat segmen ini masih mendominasi penjualan mobil domestik.

Kebijakan insentif untuk BEV pun banyak mendapat sorotan. Para pengamat menilai pemerintah perlu menyeimbangkan dukungan terhadap kendaraan hybrid yang memiliki kontribusi signifikan terhadap reduksi emisi dan efisiensi energi.

Baca juga : Diabetasol Ajak Generasi Produktif Cek Gula Darah untuk Hidup Lebih Sehat

Menurut Riyanto, peneliti senior Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), kebijakan untuk kendaraan hybrid masih belum cukup adil dibanding kendaraan listrik murni. Adapun nilai insentif saat ini hanya sebesar 3 persen.

“Segmen ini perlu diberikan kebijakan yang lebih fair dengan basis reduksi emisi dan TKDN. Insentif untuk HEV saat ini belum fair,” kata Riyanto.

Dorongan terhadap insentif kendaraan hybrid juga relevan karena semakin banyak produsen yang memproduksi model hybrid di dalam negeri. Honda kini merakit HR-V e:HEV di pabriknya di Karawang, sedangkan Wuling Indonesia memproduksi Almaz Hybrid di Bekasi.

Yang terbaru, New Toyota Veloz HEV diproduksi secara lokal di Pabrik Karawang dengan TKDN lebih dari 80 persen. Kehadiran New Toyota Veloz HEV menambah jajaran kendaraan HEV Toyota produksi lokal di Indonesia. Sebelumnya, Toyota Indonesia telah memproduksi Toyota Kijang Innova Zenix HEV pada 2022 dan Toyota Yaris Cross HEV pada 2023 di Karawang, Jawa Barat.

Kehadiran model-model hybrid produksi lokal ini, kata Riyanto, telah menyerap ribuan tenaga kerja, mulai dari lini produksi, rantai pasok komponen, hingga sektor logistik dan penjualan. Aktivitas produksi hybrid yang terus meningkat ini berkontribusi langsung pada perputaran ekonomi nasional, terutama karena rantai pasoknya lebih panjang dibanding kendaraan impor utuh.

Hal ini menjadi alasan kuat bagi pemerintah untuk memberikan insentif yang lebih berimbang, agar industri hybrid yang sudah mengakar di dalam negeri dapat terus berkembang dan memberikan dampak ekonomi lebih luas.

Adsense

Ia memperkirakan prospek kendaraan hybrid pada 2026 akan lebih baik dibanding tahun ini, terutama setelah insentif untuk BEV berstatus impor utuh atau completely built-up (CBU) berakhir. Kondisi itu dinilai akan mendorong peningkatan permintaan terhadap kendaraan hybrid.

Baca juga : Sektor Perikanan Layak Dapat Perhatian Lebih Dari Negara

“Yang jelas, tahun depan HEV akan lebih baik dari tahun ini, karena tahun ini BEV CBU penjualannya menggerus pasar BEV CKD dan juga HEV. Estimasi saya, HEV bisa mencapai market share 5 persen. Beberapa pemain yang tadinya hanya menjual BEV akan menawarkan HEV, jadi akan banyak variasi model dari yang kecil sampai yang besar,” ujar Riyanto.

Lebih lanjut, Riyanto menilai kendaraan listrik murni dan hybrid akan memiliki segmentasi pasar berbeda. Pasar daerah cenderung lebih menerima kendaraan hybrid karena belum seluruh wilayah memiliki kesiapan memfasilitasi BEV, terutama ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) sebagai ekosistem penting pengoperasian BEV.

“Kalau BEV pasti konsumennya di kota karena perlu SPKLU. Untuk hybrid perlu lebih banyak sosialisasi ke daerah, terutama luar Jawa; banyak yang belum tahu hybrid,” katanya.

Ia menambahkan, dengan berakhirnya insentif untuk BEV CBU, pasar kendaraan hybrid dan BEV produksi atau rakitan lokal diprediksi akan kembali menggeliat. “Insentif BEV CBU akan berakhir. Dampaknya, pasar BEV CKD dan HEV akan meningkat. Tentu saja industri HEV akan bergairah kembali,” ujar Riyanto.

Menurutnya, pemerintah juga layak memperpanjang serta memperkuat kebijakan insentif bagi produsen hybrid, terutama jika mampu meningkatkan kandungan lokal dalam proses produksinya. “Insentif kendaraan hybrid layak dilanjutkan dan diberikan tambahan jika ada penambahan produksi komponen lokal,” sebutnya.

Senada dengan itu, Pengamat Otomotif Bebin Djuana menilai kendaraan hybrid seharusnya mendapat perhatian lebih besar dari sisi kebijakan fiskal.

“Jika fokus kita pada emisi, tentu hybrid perlu diperhitungkan, bukan hanya BEV. BEV memang tidak menyumbang emisi, sedangkan hybrid mengurangi emisi sekaligus mengurangi pemakaian BBM. Sudah sepatutnya pajaknya dikurangi. Jika hal ini terjadi, tentu market hybrid akan meningkat,” ujar Bebin.

Baca juga : PLN-Bio Farma Bersinergi, Genjot Produksi Vaksin, Percepat Sertifikasi WHO

Ia menilai potensi pertumbuhan kendaraan hybrid bergantung pada besarnya insentif pajak yang diberikan serta kecepatan produsen menghadirkan model baru di pasar.

“Besarnya peningkatan tergantung berapa besar potongan pajaknya dan kecepatan pabrik menghadirkan model-model terbaru, karena konsumen kita selalu menginginkan model terbaru dalam waktu sesingkat-singkatnya,” ungkap Bebin.

Bebin juga menegaskan bahwa peta pasar kendaraan listrik dan hybrid tahun mendatang akan ditentukan oleh kesiapan industri dalam negeri memproduksi kendaraan secara efisien dan kompetitif. “(Pasar BEV dan hybrid tahun depan) tergantung kesiapan produksi BEV dalam negeri, apakah mampu memproduksi dengan efisien dan kualitas setara,” sebutnya.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa sektor otomotif memiliki multiplier effect yang tinggi, baik keterkaitan ke depan maupun ke belakang (forward dan backward linkage) dengan sektor lain dalam ekonomi nasional. Sektor otomotif juga menyerap banyak tenaga kerja. Karenanya, Kemenperin akan mengusulkan agar sektor ini mendapatkan insentif agar dapat bergerak lebih cepat.

“Kemenperin sekarang dalam proses merumuskan usulan yang akan diajukan kepada pemerintah, dalam hal ini Menko Perekonomian. Kami sedang menggodok kebijakan insentif dan stimulus untuk sektor otomotif yang akan kami ajukan dalam kebijakan fiskal 2026,” kata Menperin Agus di Jakarta, baru-baru ini.

Fokus utama usulan insentif ini adalah perlindungan tenaga kerja dari PHK dan penciptaan lapangan kerja baru di sektor otomotif, sekaligus menjaga keberlanjutan investasi industri otomotif di Indonesia.

“Harapan kami, sektor otomotif mendapat perhatian khusus, sehingga ada perlindungan terhadap tenaga kerja yang sudah ada dan penciptaan lapangan kerja baru. Paling tidak, melalui kebijakan fiskal 2026, sektor otomotif bisa tumbuh jauh lebih cepat dan berkontribusi lebih besar bagi pertumbuhan manufaktur dan ekonomi nasional,” tutur Menperin.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense