RM.id Rakyat Merdeka - Tim Ekonom PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI menyebut, ‘Efek Purbaya’ (Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa) mencerminkan kombinasi kebijakan yang lebih ekspansif, namun tetap berhati-hati (prudent) di sisi fiskal dan keuangan.
Chief Economist BSI Banjaran Surya Indrastomo mengatakan, penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp 276 triliun di perbankan, termasuk BSI, diharapkan memperkuat likuiditas, dan menurunkan cost of fund.
“Serta, mampu mendorong pertumbuhan pembiayaan kembali ke kisaran dua digit untuk mendorong kembali kegiatan ekonomi,” kata Banjaran dalam acara Sharia Economic Outlook 2026, Indonesia 2026: Resilient, Bold, dan Promising di Jakarta, Kamis (4/12/2025).
Khususnya melalui keterlibatan aktif dan kontributif sektor swasta, sehingga terjadi penciptaan lapangan kerja dan pemulihan kelas menengah.
Tak hanya itu, Banjaran memproyeksi pertumbuhan di tahun 2026 mencapai 5,28 persen, dibangun di atas delapan pilar. Yakni, normalisasi perdagangan global, realokasi aset ke emerging markets, menguatnya daya tarik rupiah, program prioritas Pemerintah, ‘Efek Purbaya’ pada kebijakan ekonomi, daya tahan konsumsi, agenda hilirisasi, serta proyeksi indikator ekonomi utama.
“Kombinasi delapan faktor ini membuat Indonesia masuk ke 2026 dengan fondasi yang relatif kuat, meskipun lanskap global tetap penuh ketidakpastian,” ujarnya.
Baca juga : Jembatan Laut Maluku Utara: Angkutan Perintis Ciptakan Pemerataan Ekonomi
Dari sisi produksi, Banjaran menekankan bahwa hilirisasi tetap menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan jangka menengah.
Proyeksi sektoral BSI menunjukkan percepatan di industri pengolahan, perdagangan, akomodasi & makan minum, transportasi, serta jasa informasi & komunikasi, yang seluruhnya tumbuh di atas rata-rata PDB pada 2026.
Tim ekonom BSI mencatat, realisasi investasi triwulan III 2025 telah mencapai Rp 491,4 triliun, tumbuh 13,9 persen yoy, dengan PMDN sebesar Rp 279,4 triliun dan PMA sebesar Rp 212 triliun.
Ke depan, hilirisasi dan pergeseran prioritas kebijakan diperkirakan akan menjadikan PMDN sebagai motor utama investasi, sementara PMA akan lebih selektif dan berfokus pada sektor bernilai tambah tinggi dan berorientasi ekspor.
Industri Halal
Di hilir, tim ekonom BSI melihat industri halal menjadi penguat penting bagi kinerja perdagangan dan konsumsi.
Konsumsi produk halal domestik diperkirakan mencapai 259,8 miliar dolar Amerika Serikat (AS) pada tahun 2026.
Baca juga : Tim Ekonom Bank Mandiri Ramal Pertumbuhan Ekonomi Kisaran 5,1 Di Akhir Tahun
“Angka ini tumbuh sekitar 5,88 persen, dan menyumbang lebih dari 30 persen konsumsi rumah tangga nasional,” ujar Banjaran.
Di sisi ekspor, produk halal berkontribusi sebesar 20 persen dari total ekspor barang non-migas Indonesia, diproyeksikan naik menjadi 73,9 miliar dolar AS dengan pertumbuhan sekitar 8,73 persen, termasuk ekspor non-sawit yang terus meningkat.
Kinerja konsumsi tersebut juga tercermin dari BSI Muslim Consumption Index yang dikeluarkan oleh tim ekonom BSI, yang menunjukkan bahwa konsumsi Muslim di Indonesia ‘tumbuh tetapi makin selektif.’
Menurut Banjaran, tren kenaikan terlihat pada kategori makanan-minuman halal, kosmetik halal, kesehatan, pendidikan, dan perjalanan ibadah.
“Kami menilai pola konsumsi ini akan menjadi bantalan pertumbuhan ekonomi, sekaligus peluang bagi sektor-sektor yang terkait langsung dengan gaya hidup halal dan keuangan syariah,” ungkapnya.
Selain itu, penerimaan zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya (ZIS-DSKL) diproyeksikan naik dari Rp 44,56 triliun pada tahun 2025 menjadi Rp 52,66 triliun pada tahun 2026, tumbuh 18,17 persen yoy.
Baca juga : 150 WNI Terancam Hukuman Mati Di Malaysia, Pemerintah Perkuat Upaya Pendampingan
Tim ekonom BSI menyebut, meningkatnya preferensi berbagai masyarakat berpotensi memperkuat fondasi pemerataan ekonomi, terutama bila diintegrasikan dengan pembiayaan syariah formal dan program-program pemberdayaan pemerintah.
Banjaran menegaskan, Indonesia memiliki peluang besar memasuki fase pertumbuhan yang lebih kuat dan inklusif di tahun 2026.
“Tantangan tetap ada, risiko global, kedalaman pasar keuangan yang masih terbatas, dan kebutuhan menciptakan lebih banyak pekerjaan berkualitas,” tuturnya.
Namun, dengan kebijakan yang tepat dan pemanfaatan penuh potensi ekonomi syariah, Indonesia tidak hanya bisa bertahan, tetapi juga melompat ke level pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.