RM.id Rakyat Merdeka - Menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), kelancaran perjalanan bukan satu-satunya yang harus jadi perhatian. Pasalnya, kondisi infrastruktur, intensitas hujan tinggi, ketersediaan stok BBM (Bahan Bakar Minyak), serta faktor keselamatan, juga menjadi penentu kenyamanan dan keamanan mobilitas masyarakat.
Hal itu ditekankan Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Organisasi Angkutan Darat (DPP Organda) Kurnia Lesani Adnan. Dia melihat dari sisi infrastruktur, sampai saat Ini masih banyak titik-titik perbaikan jalan, baik non-tol maupun tol yang masih dalam proses perbaikan.
Kurnia lalu mencontohkan sepanjang tol Trans Jawa, yang dilihatnya masih ada beberapa titik dalam proses perbaikan. Begitu juga di jalan non-tol seperti rehabilitasi jembatan Way Pinatu kilometer (KM) 169+890 Trans Sumatera Lintas Barat.
Menurut Kurnia, kondisi-kondisi tersebut perlu perhatian khusus, mengingat intensitas hujan cukup tinggi selama Desember.
Baca juga : Dana Suap Diduga Dipakai Untuk Kampanye Pejabat
"Kondisi jalan yang dalam proses perbaikan, perawatan dan lainnya, termasuk faktor cuaca harus diantisipasi untuk mencapai keamanan, kenyamanan dan kelancaran arus libur Nataru," ujar Kurnia kepada Rakyat Merdeka, Sabtu (13/12/2025).
Hal lainnya, sambung dia, ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan solar juga harus diantisipasi, jangan sampai kehabisan stok.
"Karena kadang terjadi stok bensin dan solar di SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) kosong, sehingga kendaraan, baik umum atau pribadi malah membeli BBM eceran," katanya.
Faktor lainnya adalah keamanan di jalan. Kendaraan bahkan kereta api, kerap terkena lemparan batu dari orang tidak bertanggung jawab. Tak terkecuali, pengawasan penjagaan di perlintasan sebidang.
Baca juga : Ketua DPRD Jakarta Minta ZoSS Dievaluasi
Terpisah, Vice President (VP) Corporate Communication KAI Anne Purba mengakui, keselamatan perjalanan membutuhkan kepedulian bersama. Terutama pada periode libur Nataru yang mengalami peningkatan mobilitas masyarakat.
Meski demikian, pihaknya tidak pernah berhenti meningkatkan faktor keselamatan, termasuk di perlintasan sebidang.
Sepanjang Januari–November 2025, perseroan mencatat telah menutup 305 perlintasan sebidang.
"Ini bagian dari upaya kami mengurangi potensi risiko bagi perjalanan kereta api dan pengguna jalan," kata Anne di Jakarta, Kamis (11/12/2025).
Baca juga : Genoa Vs Inter Milan, Neraka Luigi Ferraris
Berdasarkan evaluasi keselamatan hingga Desember 2025, dia menjelaskan, masih ada 276 titik rawan di seluruh jaringan rel.
Dari jumlah itu, 97 titik berada di perlintasan berpintu, dengan titik tertinggi di Daerah Operasinal (Daop) 1 Jakarta sebanyak 20 titik.
Sementara, 179 titik berada pada perlintasan tidak berpintu, dengan jumlah terbesar di Divisi Regional (Divre) I Sumatera Utara dan Daop 1 Jakarta masing-masing 29 titik.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.