BREAKING NEWS
 

Dari Kreativtas, UMKM Binaan IFG Tembus Pasar Lewat Produk Inovatif

Reporter & Editor :
OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Senin, 22 Desember 2025 12:04 WIB
Foto: IFG.

RM.id  Rakyat Merdeka - Berangkat dari dedaunan dan ranting di sekitar lingkungan, Irfan Kristiyanto membuktikan bahwa bahan sederhana berbasis alam bisa diolah menjadi produk bernilai tinggi yang menembus pasar global, dari Eropa hingga Rusia.

Ia berhasil membuat kain, pakaian, tas, sepatu hingga home decor bercorak alam yang unik dengan merek Jarihitam Ecoprint.

Bisnis ini berdiri pada 2018, diawali rasa penasaran Irfan terhadap teknik ecoprint yang kala itu nyaris belum dikenal di Indonesia. Informasi di internet sangat terbatas.

Dengan modal awal sekitar Rp 25 juta yang dikumpulkan bertahap, Irfan mulai menekuni ecoprint secara serius. Selama dua bulan penuh, ia bereksperimen dengan teknik, media kain, dan daun.

Melalui uji coba yang dilakukan berkali-kali, dia akhirnya bisa menemukan teknik dan formula yang tepat untuk memanfaatkan bahan baku dari lingkungan di sekitar rumahnya menjadi produk bernilai tinggi.

"Saya berpikir ini sangat menarik sekali, karena bahan bakunya dari lingkungan, semuanya ada di sekitar kita. Dan isunya sangat seksi, sampai kapan pun ecoprint tidak akan pernah mati," ujar Irfan.

Sejak awal, Irfan melihat ecoprint bukan sekadar produk, tetapi ekosistem bisnis. Maka tiga bulan memulai bisnis Jarihitam Ecoprint, dia memberanikan diri membuka kelas untuk memperkenalkan ecoprint ke masyarakat sekitar.

Tujuannya, agar bisnis dan alam berkelanjutan. Sebab, penjualan boleh berkembang, tetapi kesinambungan alam harus dijaga. Pola ini pula yang membuat Jarihitam tidak hanya menjual produk, tetapi juga pengetahuan dan pendampingan.

"Ketika saya mengajar dan mengajak orang banyak untuk belajar ecoprint, harapannya banyak orang yang akan menanam. Kita harus menjaga kesinambungan, harus menanam. Saya sebagai mentor menekankan bahwa kita jangan cuman hanya mengambil daun, lalu habis dan pindah tempat. Itu sama saja seperti hama," jelas dia.

Komersialisasi Jarihitam dimulai sejak 2018 lewat pameran-pameran offline. Irfan sengaja tidak langsung masuk pasar online. Menurutnya, ecoprint perlu disentuh dan dirasakan.

Baca juga : Dewangga Puas, Persib Tembus Posisi Kedua

Sementara langkahnya ke pasar global pun dimulai saat Dinas Industri Perdagangan Provinsi (Disperindag) Jawa Barat memboyong Jarihitam dalam misi dagang.

Dari sana, pintu-pintu ekspor terbuka. Belgia menjadi negara pertama yang disambangi pada 2018, disusul Perancis dan Jerman pada 2019, lalu Selandia Baru pada 2020.

Kerja sama ekspor terpanjang dijalani dengan buyer dari Rusia dengan menjual kain buatannya pada periode 2024-2025, dan masih akan berlanjut.

Seiring meningkatnya permintaan, Irfan sadar ia tak bisa berjalan sendiri. Solusinya bukan pabrik besar, melainkan komunitas. Warga sekitar dilibatkan, mulai dari penjahit hingga penyedia bahan.

Ia juga bekerja sama dengan Koperasi Pemasaran Tlatah Nusantara Raya dan Jasa Raharja, sebagai anggota Holding Indonesia Financial Group (IFG), memberikan pelatihan kepada para ahli waris korban kecelakaan lalu lintas.

Murid-murid ecoprint yang dia dampingi juga menjadi bagian dari rantai produksi. Melalui Tlatah Nusantara Raya yang memiliki delapan butik di sejumlah hotel di Bandung, produk-produk Jarihitam Ecoprint turut dipasarkan secara berkelanjutan.

Sebagai bisnis handmade, Irfan mengaku omzet Jarihitam tidak terlalu besar. Rata-rata berkisar Rp 40-50 juta per bulan. Namun baginya, nilai utama bukan sekadar angka, melainkan dampak sosial dan lingkungan.

Hingga kini, permodalan Jarihitam sepenuhnya mandiri, namun Irfan membuka kemungkinan mencari pendanaan lebih besar jika skalanya memang dibutuhkan.

Untuk pasar ekspor, ia berharap pintu-pintu baru kembali terbuka. Eropa dan Rusia masih menjadi target, seiring kesiapan bahan baku dan kapasitas produksi berbasis komunitas.

Adsense

"Tahun depan harapannya, akan terbuka pintu-pintu rezeki yang lain. Dulu saya berpikir kalau dapat order banyak itu akan kewalahan kalau saya kerjakan sendiri. Tapi setelah saya punya banyak murid, berapa pun oder yang masuk, saya siap," kata Irfan.

Baca juga : BNI Apresiasi Kementerian UMKM Dorong Pelaku Usaha Tembus Pasar Global

Kepala Bagian Administrasi Jasa Raharja Kanwil Utama Jawa Barat, Yudi Wiryawan mengatakan, Jarihitam Ecoprint sebelumnya merupakan salah satu UMKM binaan Jasa Raharja yang berhasil berkembang.

Oleh karena itu, Jasa Raharja mempercayakan proses mentoring ahli waris kepada Irfan. Berkolabosari dengan Koperasi Pemasaran Tlatah Nusantara Raya, ada sekitar 30 ahli waris yang telah mengikuti pelatihan Jarihitam Ecoprint.

Menurut Yudi, keunggulan ecoprint terletak pada pendampingan yang dilakukan secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir. Peserta tidak hanya dibekali keterampilan produksi, tetapi juga dibimbing hingga produknya siap dipasarkan.

Dengan adanya jejaring produksi dan pemasaran yang kuat, Jasa Raharja berharap program ini tidak hanya meningkatkan keterampilan ahli waris, tetapi juga membuka peluang ekonomi jangka panjang dan mencegah mereka jatuh ke dalam kemiskinan akibat kehilangan anggota keluarga.

"Tujuan kami adalah pemberdayaan ekonomi. Banyak ahli waris yang kehilangan tulang punggung keluarga akibat kecelakaan. Melalui diklat dan pelatihan wirausaha ini, kami ingin ekonomi mereka tetap hidup dan memiliki sumber penghasilan baru," ujar Yudi.

Heni Nurelah, salah satu ahli waris peserta pelatihan, mengaku mendapat pengalaman baru dari proses pembuatan ecoprint yang seluruhnya dilakukan secara manual dan penuh ketelatenan.

Ia menjelaskan, sejak awal peserta dilatih mulai dari menyiapkan kain polos hingga menyusunnya menjadi karya seni bermotif alam.

"Prosesnya dari awal sampai akhir bisa memakan waktu sekitar satu minggu, mulai dari kain polos sampai menjadi kain ecoprint. Setiap daun, bunga dan ranting-ranting itu bisa dimanfaatkan," kata dia.

Asta Nusa Warna dan KALDO, Meracik Aroma dari Hulu ke Hilir

Selama lebih dari dua dekade, Asta Nusa Warna menjalankan usaha berbasis minyak atsiri dan rempah secara bertahap. Dari aktivitas awal di sektor aroma, usaha ini kini berkembang hingga memiliki produk turunan yang masuk ke segmen hotel dan memasok bahan baku untuk pasar ekspor.

Founder Asta Nusa Warna, Jejen Ahmar Jaenun, mengatakan setelah 24 tahun berjalan, perusahaannya mulai fokus mengembangkan produk bernilai tambah, meski masih terus dalam tahap penyempurnaan.

Baca juga : Coppa Italia, Lazio-Bologna Tembus Perempat Final

“Kami mencoba melakukan pengembangan dan alhamdulillah sudah ada beberapa produk yang terwujud. Tapi memang ini proses yang terus disempurnakan,” ujar Jejen.

Dalam perjalanannya, Asta Nusa Warna juga mendapat pendampingan promosi melalui program aktivasi UMKM yang difasilitasi Jasa Raharja, anggota Holding IFG.

Melalui sejumlah kegiatan, Jejen mengaku mendapatkan ruang belajar untuk meningkatkan kualitas produk dan memperluas pasar.

Saat ini, produk turunan Asta Nusa Warna telah hadir di sekitar delapan hotel di Bandung, dengan skema pemasaran yang difasilitasi Jasa Raharja bersama Koperasi Pemasaran Tlatah Nusantara Raya.

Jejen menjelaskan, pada awalnya Asta Nusa Warna hanya bergerak di sektor aroma seperti vanila, cengkeh, kapulaga, dan nilam.

Produksi dimulai dari penyulingan di Garut, kemudian dilanjutkan dengan pengolahan lanjutan dan kontrol kualitas di Bandung.

Rata-rata produksi mencapai 500 kilogram (kg) minyak nilam per minggu, yang sebagian besar diserap industri ekspor sebagai bahan baku parfum dan farmasi, terutama ke Amerika Serikat.

Namun, Jeje bilang tingginya permintaan ekspor minyak nilam mendorong perusahaan untuk mengembangkan produk turunan sendiri.

“Nilam ini unsur utama minyak parfum dunia. Sekitar 85 persen pasokan berasal dari Indonesia, dan salah satu unggulan Jawa Barat juga nilam,” kata Jejen.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense