BREAKING NEWS
 

IKI Desember Capai 51,90, Industri Manufaktur Tetap Ekspansi

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Rabu, 31 Desember 2025 00:42 WIB
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kinerja industri manufaktur nasional tetap berada pada fase ekspansi pada akhir 2025, tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Desember 2025 yang tercatat sebesar 51,90, meskipun mengalami pelemahan dibandingkan bulan sebelumnya.

Nilai tersebut turun 1,55 poin dibandingkan November 2025 yang mencapai 53,45, serta lebih rendah 1,03 poin dibandingkan capaian IKI Desember 2024 sebesar 52,93. Pelemahan tersebut mencerminkan sikap kehati-hatian pelaku industri dalam merespons tekanan eksternal global dan faktor musiman di penghujung tahun.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif mengatakan, pelemahan IKI pada Desember merupakan pola yang lazim terjadi setiap akhir tahun.

“Meskipun mengalami penurunan secara bulanan, IKI Desember 2025 tetap berada pada zona ekspansi. Ini menunjukkan fondasi industri manufaktur nasional masih cukup kuat di tengah dinamika global dan domestik,” ujar Febri dalam rilis IKI Desember 2025 di Jakarta, Selasa (30/12).

Baca juga : Kemenperin Genjot Mutu Industri Lewat Inovasi Dan Standar Kemasan

Secara historis, IKI pada Desember memang cenderung melemah dibandingkan November. Pada Desember 2023, IKI tercatat 51,32 atau turun 1,11 poin, sedangkan pada Desember 2024 sebesar 52,93 atau turun 0,02 poin. Pelemahan tersebut sejalan dengan berkurangnya hari kerja efektif akibat libur Natal dan tahun baru yang berdampak pada penyesuaian jadwal produksi industri pengolahan nonmigas.

Dari sisi struktur subsektor, sebanyak 17 dari 23 subsektor industri pengolahan masih berada pada fase ekspansi dan berkontribusi sekitar 79,4 persen terhadap PDB Industri Pengolahan Nonmigas Triwulan III 2025. Dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi adalah Industri Farmasi, Produk Obat Kimia dan Obat Tradisional (KBLI 21) serta Industri Pengolahan Lainnya (KBLI 32).

Sementara itu, enam subsektor tercatat mengalami kontraksi, antara lain Industri Kayu dan Barang dari Kayu (KBLI 16), Industri Karet dan Plastik (KBLI 22), Industri Logam Dasar (KBLI 24), Industri Barang Logam (KBLI 25), Industri Komputer, Barang Elektronik dan Optik (KBLI 26), serta Industri Alat Angkutan Lainnya (KBLI 30).

Adsense

Pelemahan IKI Desember 2025 terutama dipengaruhi penurunan kinerja 13 subsektor dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan terbesar terjadi pada subsektor Industri Alat Angkutan Lainnya, seiring turunnya penjualan sepeda motor domestik pada November 2025 sebesar 11,31 persen (month to month) menjadi 523.591 unit. Ekspor sepeda motor juga mengalami penurunan, baik dalam bentuk Completely Built Up (CBU) yang turun 11,39 persen maupun Completely Knocked Down (CKD) yang turun 14,86 persen.

Baca juga : Di Tengah Booming Energi Hijau, Industri Hulu Migas Tetap Jadi Andalan

Selain faktor musiman, penurunan IKI sepanjang 2025 juga dipengaruhi meningkatnya tekanan produk impor di pasar domestik yang berdampak pada melemahnya permintaan industri manufaktur, khususnya produk jadi. Kondisi tersebut berimplikasi langsung terhadap variabel pesanan yang memiliki bobot terbesar dalam pembentukan IKI.

Pemerintah, lanjut Febri, terus memperkuat langkah pengendalian masuknya produk impor secara terukur dan terkoordinasi dengan tetap memperhatikan dinamika global yang dipengaruhi kebijakan perdagangan negara mitra dan gejolak geopolitik.

Kontraksi pada subsektor Industri Kayu dan Barang dari Kayu juga dipengaruhi keterbatasan bahan baku akibat bencana alam di Sumatra, gangguan logistik, serta ketidakpastian pasar global, termasuk penyelidikan dumping di Amerika Serikat dan kebijakan sertifikasi India.

Dari sisi variabel pembentuk, pelemahan IKI Desember 2025 dipengaruhi penurunan variabel pesanan yang masih berada pada fase ekspansi di level 52,76 meski turun 3,17 poin, serta persediaan sebesar 54,99 atau turun 1,20 poin. Sementara itu, variabel produksi tetap berada pada fase kontraksi di level 48,41 selama tujuh bulan berturut-turut.

Baca juga : Menperin: Manufaktur Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi 2025

Industri berorientasi ekspor dan domestik masih berada di zona ekspansi meski melemah, dengan IKI ekspor sebesar 52,36 dan IKI domestik 51,33, seiring perlambatan ekonomi global, meningkatnya risiko proteksionisme, dan faktor musiman akhir tahun.

Di tengah tekanan tersebut, kondisi makroekonomi nasional dinilai masih menopang industri, ditandai inflasi yang terkendali, BI-Rate 4,75 persen, meningkatnya Indeks Keyakinan Konsumen, serta pertumbuhan impor barang modal sebagai indikasi keberlanjutan investasi.

Optimisme pelaku industri enam bulan ke depan tercatat meningkat menjadi 71,8 persen, sementara tingkat pesimisme menurun menjadi 4,7 persen. Kementerian Perindustrian optimistis sektor industri pengolahan tetap menjadi motor penggerak utama perekonomian nasional dan siap memasuki 2026 dengan prospek yang lebih baik.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense