Dark/Light Mode

Setahun Pemerintahan Prabowo, Menperin: Industri Manufaktur Kian Kuat

Senin, 20 Oktober 2025 11:43 WIB
Foto: Aditya/Rakyat Merdeka
Foto: Aditya/Rakyat Merdeka

RM.id  Rakyat Merdeka - Industri manufaktur nasional mencatat kinerja solid pada tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Sektor pengolahan nonmigas tumbuh 4,94 persen dan menjadi motor utama penggerak ekonomi di tengah dinamika global.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, Kementerian Perindustrian (Kemenperin), kata Agus, berperan sebagai penggerak utama dalam meningkatkan pemerataan ekonomi melalui penguatan sektor industri. “Pada momentum ini, kami menyampaikan capaian dan terobosan kebijakan selama satu tahun pemerintahan sebagai wujud nyata kontribusi sektor industri dalam membangun Indonesia yang maju, mandiri, dan sejahtera,” ujar Agus di Jakarta, Senin (20/10/2025).

Agus menjelaskan, sektor industri manufaktur Indonesia terus menunjukkan kinerja positif di tengah tantangan geoekonomi dan geopolitik global. Pada periode Triwulan IV-2024 hingga Triwulan II-2025, sektor Industri Pengolahan Nonmigas (IPNM) tumbuh sebesar 4,94 persen (YoY) dengan kontribusi 17,24 persen terhadap PDB nasional.

“Kinerja ini mencerminkan bahwa sektor manufaktur tetap ekspansif dan mempertahankan peran strategisnya sebagai tulang punggung perekonomian nasional,” ujar Agus.

Dari sisi ekspor, nilai ekspor sektor IPNM sepanjang Oktober 2024–Agustus 2025 mencapai 202,9 miliar dolar AS, atau 78,75 persen dari total ekspor nasional sebesar 257,6 miliar dolar AS. Sementara itu, realisasi investasi industri manufaktur tercatat Rp 568,4 triliun pada Oktober 2024–Juni 2025, atau 40,72 persen dari total investasi nasional.

Baca juga : Purbaya dan Teddy, 2 Menteri yang Unik

Sejalan dengan peningkatan investasi, hingga Februari 2025 sektor industri pengolahan nonmigas telah menyerap 19,55 juta tenaga kerja, atau 13,41 persen dari total tenaga kerja nasional.

Optimisme pelaku industri juga terlihat dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang pada September 2025 mencapai 53,02, serta Purchasing Managers Index (PMI) sebesar 50,4. “Angka ini menunjukkan kecenderungan ekspansif dan kepercayaan tinggi pelaku usaha terhadap prospek industri nasional,” jelas Agus.

Rata-rata utilisasi industri pengolahan nonmigas sepanjang Oktober 2024–Agustus 2025 juga mencapai 62 persen, yang menandakan masih terbuka luas ruang ekspansi kapasitas produksi manufaktur nasional.

Berdasarkan data pertumbuhan pada Triwulan IV-2024 hingga Triwulan II 2025, beberapa subsektor mencatat kinerja di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan tertinggi ditunjukkan oleh Industri Logam Dasar (12,27 persen), disusul Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki (8,13 persen), serta Industri Makanan dan Minuman (6,18 persen).

Selain itu, subsektor seperti Industri Barang Logam, Elektronik, dan Peralatan Listrik, Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional, serta Industri Mesin dan Perlengkapan juga menunjukkan performa solid dengan pertumbuhan 5–6 persen.

Baca juga : Dari Rakyat, Untuk Rakyat Melalui Bahasa Rakyat

Namun, Agus mengakui masih ada subsektor yang menghadapi tantangan, seperti Industri Furnitur (3,49 persen), Kertas (2,55 persen), Karet dan Plastik (2,27 persen), serta Pengolahan Tembakau (0,87 persen). Beberapa bahkan mencatat kontraksi, seperti Industri Kayu dan Anyaman (-1,18 persen) serta Industri Alat Angkutan (-1,91 persen).

“Hal ini menjadi perhatian kami. Pemerintah terus berupaya memperkuat daya saing dan efisiensi produksi agar seluruh subsektor dapat tumbuh secara merata,” ujar Agus.

Nilai Tambah Dan Daya Saing Global Meningkat

Kinerja positif juga tercermin dari peningkatan nilai tambah manufaktur nasional (Manufacturing Value Added/MVA) yang pada 2024 mencapai 265,07 miliar dolar AS. Berdasarkan data World Bank dan United Nations Statistics, angka ini menempatkan Indonesia di peringkat ke-13 dunia, ke-5 di Asia, dan teratas di ASEAN, melampaui Thailand dan Malaysia.

“Pencapaian ini menunjukkan bahwa struktur industri nasional dari hulu ke hilir semakin kuat dan berdaya saing,” tegas Agus.

Baca juga : Diplomasi Tegas Prabowo, Indonesia Diperhitungkan Dunia

Dalam laporan World Competitiveness Ranking 2025 yang dirilis Institute for Management Development (IMD), Indonesia menempati peringkat ke-40 dari 69 negara, dengan performa ekonomi di posisi ke-24 dan efisiensi bisnis di posisi ke-26.

Namun, Agus mengakui tantangan masih ada pada aspek infrastruktur yang menempati posisi ke-57. “Untuk itu, pemerintah terus mempercepat pembangunan infrastruktur industri, termasuk energi, logistik, serta sumber daya manusia yang produktif dan adaptif terhadap perubahan,” ujarnya.

Menperin menegaskan, langkah-langkah strategis ini merupakan bagian dari implementasi Asta Cita Prabowo-Gibran, khususnya dalam memperkuat kemandirian industri nasional dan membuka lapangan kerja berkualitas.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.