BREAKING NEWS
 

Kemenperin Perkuat Industri Bambu Hulu–Hilir, Siapkan SDM Kompeten

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Sabtu, 3 Januari 2026 21:43 WIB
Plt. Dirjen Industri Agro, Putu Juli Ardika menjajal mesin yang digunakan untuk kerajinan bambu. (Foto: Kemenperin)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat pengembangan ekosistem industri bambu nasional secara terintegrasi dari hulu hingga hilir guna mendorong nilai tambah ekonomi, meningkatkan daya saing industri, serta mendukung penerapan ekonomi hijau dan sirkular.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan bambu terbesar di dunia, dengan lebih dari 125 jenis bambu yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara.

“Potensi tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ketiga dunia sebagai negara dengan sumber bahan baku bambu terbesar secara global,” kata Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (3/1).

Meski demikian, Agus menilai pemanfaatan bambu di dalam negeri masih didominasi metode konvensional sehingga belum menghasilkan nilai tambah optimal. Oleh karena itu, Kemenperin mendorong penguatan industri hilir bambu, khususnya sebagai bahan baku konstruksi, furnitur, serta produk bernilai tambah lainnya, termasuk pangan fungsional.

Baca juga : Menperin Akselerasi Kawasan Industri Tematik Jadi PSN

Menurutnya, bambu memiliki karakter mekanis yang kuat, lentur, dan mudah dibentuk, sehingga berpotensi menjadi bahan substitusi kayu. Bahkan, material bambu dinilai lebih aman digunakan di wilayah rawan gempa karena ketahanannya terhadap guncangan.

Pengembangan bambu sendiri telah menjadi program lintas kementerian melalui Peraturan Presiden tentang Strategi Nasional Bambu Terintegrasi Hulu–Hilir sejak 2022. Menindaklanjuti kebijakan tersebut, Kemenperin saat ini tengah menyusun peta jalan pengembangan ekosistem industri bambu terintegrasi.

Peta jalan tersebut mencakup penguatan agroforestry, teknologi pascapanen, pembentukan sentra bambu, pendirian Akademi Komunitas Bambu (AKB), hingga pembangunan pusat logistik bambu untuk menjamin ketersediaan bahan baku berkelanjutan.

Adsense

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan industri bambu nasional memiliki peluang besar di sektor kerajinan, furnitur, konstruksi, hingga bioindustri, seiring meningkatnya permintaan global terhadap produk bambu bernilai tambah.

Baca juga : Menperin Pacu Kawasan Industri Tematik, Singgung Soal Biotown

“Saat ini, permintaan ekspor lantai kontainer berbahan bambu mencapai sekitar 1.500 meter kubik per bulan, sementara kapasitas produksi nasional baru sekitar 30 meter kubik per bulan. Kesenjangan ini menunjukkan peluang ekspansi yang sangat besar,” ujar Putu.

Di pasar domestik, permintaan produk bambu juga meningkat, terutama untuk pembangunan kawasan pariwisata seperti Bali, Mandalika, Lombok, dan Labuan Bajo. Bahkan, bangunan berbasis bambu memiliki nilai ekonomi tinggi dengan harga mencapai Rp12 juta per meter persegi.

Selain itu, investasi konstruksi bambu dinilai lebih efisien karena titik impas atau break even point (BEP) dapat dicapai dalam waktu sekitar tiga tahun, lebih cepat dibandingkan konstruksi beton yang membutuhkan enam hingga tujuh tahun.

Untuk mengatasi tantangan keterbatasan sumber daya manusia dan bahan baku berkualitas, Kemenperin menginisiasi Akademi Komunitas Bambu sebagai program pelatihan berbasis kompetensi. Program ini berfokus pada pengolahan bambu di sisi hulu hingga pascapanen agar siap digunakan industri.

Baca juga : Kemenperin Targetkan Industri Pengolahan Tumbuh 5,51 Persen Di 2026

Inisiasi AKB telah dilaksanakan pada 2025 di Bali dengan komposisi pembelajaran 70 persen praktik dan 30 persen teori, serta diarahkan untuk menghasilkan SDM bambu bersertifikat kompetensi. Ke depan, silabus AKB akan dijadikan dasar penyusunan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Bambu.

Kemenperin juga menilai ekosistem bambu di Bangli, Bali, berpotensi dikembangkan sebagai pusat logistik bambu nasional, didukung ketersediaan bahan baku, mesin pengolahan, serta sentra industri kecil dan menengah. Pengembangan serupa juga dipetakan di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Melalui penguatan SDM, standardisasi, dan ekosistem industri yang terintegrasi, Kemenperin optimistis industri bambu nasional mampu tumbuh berdaya saing global sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan dan ketahanan pangan nasional.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense