BREAKING NEWS
 

Harga Minyak Naik, Purbaya: APBN 2026 Masih Aman

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Rabu, 11 Maret 2026 17:54 WIB
Foto: YouTube Kemenkeu

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah memastikan ruang fiskal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 masih aman meskipun harga minyak dunia sempat melonjak hingga mendekati 120 dolar Amerika Serikat (AS) per barel.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan secara rata-rata harga minyak sejak awal tahun hingga saat ini masih berada di bawah asumsi Indonesian Crude Price (ICP) yang digunakan dalam APBN 2026.

“Di sisi energi, realisasi harga minyak mentah Indonesia hingga Februari sebesar 68,8 dolar AS per barel. Estimasi kami, realisasi ICP secara year to date hingga Maret 2026 sekitar 68 dolar AS per barel,” kata Purbaya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Ia menjelaskan angka tersebut sudah memasukkan lonjakan harga minyak yang sempat menyentuh sekitar 120 dolar AS per barel dalam waktu singkat. Namun secara rata-rata, harga minyak masih berada di bawah asumsi APBN 2026 yang sebesar 70 dolar AS per barel.

“Ini sudah memasukkan kenaikan hingga 120 dolar AS per barel yang sebentar itu. Ini masih di bawah asumsi APBN sebesar 70 dolar AS per barel,” ujarnya.

Baca juga : IHSG & Rupiah Menghijau, Purbaya: Ekonomi Terus Ekspansi

Karena itu, menurut Purbaya, ruang fiskal dalam APBN masih cukup untuk mengantisipasi kenaikan harga energi dan belum memberikan dampak signifikan terhadap subsidi bahan bakar minyak (BBM) maupun belanja negara lainnya.

“Sejauh ini masih terdapat ruang fiskal untuk mengantisipasi kenaikan harga dalam pelaksanaan APBN 2026,” katanya.

Ia menambahkan pemerintah juga belum melihat kebutuhan untuk melakukan perubahan terhadap APBN 2026.

Adsense

“Harga minyak sudah 100 dolar AS per barel, apakah pemerintah akan mengubah APBN? Belum. Kalau kita lihat, rata-rata harga minyak mentah masih sekitar 68 dolar AS per barel,” kata Purbaya.

Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan pemerintah terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi harga minyak dunia.

Baca juga : Kapolri Prediksi Puncak Arus Mudik Lebaran 2026 Terjadi Dua Kali

Menurut dia, pemerintah tetap mewaspadai potensi kenaikan harga minyak di kisaran 90–100 dolar AS per barel, terutama jika terjadi gangguan pasokan di jalur perdagangan energi global seperti Selat Hormuz.

“Tetap kita harus waspadai risiko harga minyak di sekitar 90 sampai 100 dolar AS per barel, apalagi kalau gangguan di Selat Hormuz itu berkelanjutan,” ujarnya.

Meski demikian, Suahasil juga melihat kemungkinan harga minyak kembali turun ke kisaran 70–80 dolar AS per barel apabila ketegangan geopolitik mereda.

“Semoga konflik ini tidak berkelanjutan dan tidak panjang. Kalau itu terjadi, maka kita harapkan harga minyak kembali stabil,” katanya.

Sebagai langkah antisipasi jangka panjang, pemerintah berupaya memperkuat ketahanan energi nasional agar tidak terlalu rentan terhadap gangguan pasokan minyak dunia.

Baca juga : Penerimaan Pajak Naik Tajam, Menkeu Purbaya Percepat Belanja Negara 2026

“Pemerintah tentu terus berusaha memperkuat ketahanan energi, menjaga kecukupan cadangan energi nasional, dan memastikan kelancaran pasokan energi secara domestik,” ujar Suahasil.

Ia menambahkan ketegangan geopolitik juga berpotensi menimbulkan risiko terhadap perdagangan global sehingga perlu terus diantisipasi oleh pemerintah.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense